Menuju konten utama

Aku Marah, Maka Aku Menangis

Reaksi emosional kita terbentuk seiring waktu. Apa yang diajarkan tentang emosi saat kita kecil memengaruhi cara kita merespons situasi saat dewasa.

Aku Marah, Maka Aku Menangis
Diajeng Menangis Marah. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Marah sering dipahami sebagai luapan emosi yang meledak keluar dalam bentuk teriakan, amukan, atau kata-kata tajam.

Namun begitu, bagi sebagian orang, kemarahan justru hadir dalam bentuk air mata. Dalam hal ini, tubuh memilih menyalurkan emosi tersebut lewat tangisan dan air mata.

Kondisi ini sering membuat seseorang dianggap rapuh atau terlalu sensitif. Padahal, menangis saat marah adalah respons emosional yang wajar dan sangat manusiawi.

Lantas, mengapa ada orang yang ketika marah justru menangis?

Jawabannya terletak pada kompleksitas emosi dan cara tubuh mengatur perasaan.

Menangis bisa menjadi mekanisme pelepasan, ekspresi ketidakberdayaan, atau bahkan bentuk komunikasi nonverbal ketika kata-kata sulit terucap.

Dengan memahami hal ini, kita bisa melihat bahwa menangis saat marah bukan kelemahan, melainkan cara lain dari tubuh untuk mengekspresikan perasaan yang intens.

Penyebab Air Mata saat Sedang Marah

Seperti diwartakan Healthline, alasan paling utama orang menangis saat marah kemungkinan besar terjadi karena ia sedang merasa terluka, malu, dikhianati, atau diperlakukan tidak adil.

Ketika seseorang mengalami ketidakadilan, penolakan, atau penghinaan, respons alami meliputi amarah dan kesedihan, yang bisa muncul bersamaan, sehingga tubuh menyalurkannya lewat tangisan.

Menariknya, menangis saat marah adalah sesuatu yang sangat manusiawi, bahkan para ilmuwan menyebutnya sebagai salah satu ciri khas unik manusia.

Secara evolusi, tangisan bisa menjadi sinyal permintaan bantuan dan dorongan bagi orang lain untuk peduli.

Selain itu, menangis ternyata punya fungsi biologis.

Saat seseorang menangis, tubuh melepaskan hormon seperti oksitosin dan prolaktin yang membantu menurunkan detak jantung serta menenangkan diri setelah mengalami stres.

Menariknya, efek menangis bisa berbeda-beda tergantung situasi.

Apabila seseorang menangis lalu mendapat pelukan atau hiburan, suasana hati biasanya membaik.

Sebaliknya, jika tangisan justru menimbulkan rasa malu, manfaat menenangkan itu bisa berkurang.

Menurut studi di jurnal Frontiers in Psychology (2014), berbagai penelitian menunjukkan bahwa perempuan lebih sering menangis dibandingkan laki-laki dewasa.

Ada beberapa alasan yang diduga melatarbelakanginya, seperti faktor hormonal dan faktor sosial-budaya yang memengaruhi bagaimana kita didorong atau malah dilarang mengekspresikan emosi.

Kecenderungan laki-laki jarang menangis kemungkinan dapat dikaitkan dengan ekspektasi sosial tentang maskulinitas yang mendorong mereka untuk menahan emosinya.

Tak heran jika air mata perempuan saat marah lebih sering terlihat. Bukan karena mereka lemah, melainkan karena alasan biologis dan kultural.

Dampak Lain saat Sedang Marah

Saat seseorang sedang marah, baik menangis ataupun tidak menangis, maka inilah yang akan terjadi pada tubuh:

  • Amigdala, hipotalamus, dan kelenjar pituitari bekerja sama untuk menghasilkan lonjakan kortisol dan adrenalin (hormon stres).
  • Denyut jantung dan tekanan darah meningkat.
  • Tubuh terasa hangat.
  • Mulut terasa kering dan telapak tangan lembap.
  • Jarak pandang kemungkinan menyempit.
Kortisol dapat menyebabkan ingatan jangka pendek seseorang jadi melemah, itulah sebabnya ketika marah terus-menerus, orang bisa lupa apa yang ingin disampaikannya saat akan bicara.

Menangis saat marah bisa membingungkan dan membuat frustrasi, terutama saat seseorang berusaha terlihat kuat, tegas, dan profesional.

Meskipun mungkin terasa seperti kehilangan kendali, respons emosional semacam itu juga dapat memiliki tujuan. Tak masalah ketika ingin menahan tangis, tetapi ada juga saat-saat di mana menangis justru dapat bermanfaat bagi tubuh.

Manfaat Menangis Saat Marah

Dikutip VeryWell Mind, menangis adalah bentuk penenang diri.

Dengan menangis, otomatis memaksa diri kita untuk mengatur dan mengendalikan napas, bagaimana fokus pada pola menghirup dan mengembuskan napas, serta menurunkan detak jantung hingga tubuh kembali tenang.

Kecenderungan menangis saat marah ini terkadang dapat berfungsi sebagai cara untuk mengatasi emosi intens yang dialami seseorang.

Tidak apa-apa menangis saat marah, karena ini bukanlah tanda kelemahan.

Menangis saat marah merupakan indikator bahwa situasi yang kita hadapi itu penting dan kita memiliki perasaan yang kuat terkait hal tersebut. Menggunakan emosi sebagai panduan selalu menjadi hal yang bermanfaat.

Air mata juga bisa membantu seseorang lebih memahami diri sendiri dan dampak situasi tersebut terhadap dirinya.

Terkadang orang merasakan air mata mereka jatuh tiba-tiba. Ini dapat menunjukkan bahwa mereka kurang menyadari atau memahami intensitas reaksi emosionalnya.

Air mata dapat bertindak sebagai kompas, mengarahkan seseorang ke area yang membutuhkan pemeriksaan dan pemrosesan yang lebih mendalam.

Sisi Lain Menangis Saat Marah

Meski menangis bisa menjadi cara alami untuk menyalurkan emosi, ada kalanya tangisan justru menimbulkan kerugian.

Misalnya, ketika sedang berada dalam situasi formal atau tengah berada di ruang publik, menangis bisa membuat orang lain salah paham.

Orang lain mungkin mengira yang menangis tidak mampu mengendalikan diri, terlalu emosional, atau bahkan mencoba memanipulasi keadaan. Hal ini dapat memengaruhi cara orang memberi pandangan, termasuk mengurangi rasa hormat atau kepercayaan mereka.

Terlepas dari itu, penting diingat bahwa semua itu bergantung pada konteks.

Menangis di ruang kerja atau saat presentasi mungkin berdampak kurang baik pada profesionalitas karier, tetapi di ruang pribadi dan aman, menangis adalah hal yang wajar dan sehat.

Justru di ruang aman itulah kita bisa merangkul emosi, memahami apa yang dirasakan, dan belajar mengenali reaksi terhadap situasi di sekitar.

Dengan begitu, menangis bukan lagi dianggap kelemahan, melainkan bagian dari proses memahami diri sendiri.

Menangis Saat Marah: Dampak Trauma yang Tersembunyi

Laman AMFM Treatment menyebutkan, menangis saat marah bukan hanya tentang momennya, tetapi berkaitan dengan isu lain yang lebih kompleks.

Jarang marah itu sendiri merupakan emosi yang berdiri sendiri; ia dapat menutupi kesedihan, ketakutan, atau rasa sakit.

Air mata yang muncul bersamaan dengan amarah bisa jadi merupakan cara tubuh melepaskan emosi terpendam yang telah berakumulasi seiring waktu.

Cara kita menyalurkan emosi terbentuk sedari usia dini. Saat kita kecil, jika kita tidak diperbolehkan mengungkapkan amarah, acap kali emosi itu dikeluarkan lewat tangisan.

Reaksi terhadap emosi berkembang seiring perjalanan hidup. Artinya, bagaimana kita diajari tentang emosi sewaktu kecil dapat memengaruhi cara kita merespons situasi ketika dewasa.

Dalam kasus lain, menangis saat marah dapat dikaitkan dengan disregulasi emosi yang berkaitan dengan trauma.

Trauma dapat memengaruhi kemampuan otak untuk mengatur emosi yang kuat, sehingga ketika amarah melanda, ia dapat meluap menjadi air mata.

Meskipun tidak selalu merupakan tanda trauma, kelelahan emosional ini penting untuk dikonsultasikan dengan profesional kesehatan mental.

Menurut situs Better Help, setiap orang memiliki cara berbeda dalam merespons dan mengekspresikan kemarahannya. Bagi sebagian orang, menangis mungkin menjadi satu-satunya jalan ketika emosi memuncak.

Dalam kondisi seperti ini, dukungan dari pakar kesehatan mental dapat sangat membantu untuk menggali perasaan yang ada dan menemukan cara lain dalam menyalurkan amarah.

Para ahli memahami bahwa emosi seperti marah, sedih, atau cemas acap kali saling berkaitan dan tidak selalu mudah dijelaskan. Air mata kemarahan bisa saja berakar dari kecemasan atau bahkan depresi.

Melalui sesi konsultasi dan terapi dengan ahli, emosi yang terasa berat dapat ditelusuri sumbernya sehingga lebih mudah dikelola.

Pada akhirnya, memahami dan menerima emosi adalah langkah penting untuk tetap sehat, baik secara mental maupun emosional.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih