diajeng.id - Fani mengkhawatirkan hobi baru anaknya akhir-akhir ini.
Hampir setiap hari, anak gadisnya yang duduk di bangku SMP merekam video dance TikTok terbaru yang sedang viral.
Kedua bola matanya bisa terpaku di layar smartphone selama berjam-jam untuk mengulang take video yang sama. Jika sudah puas dengan hasilnya, barulah dia akan mengedit dan mengunggah video pendek tersebut di berbagai sosial media.
Awalnya, Fani tidak merasa cemas.
Ia tahu betul, anaknya memang suka menari dan aktif mengikuti klub tari tradisional di sekolah.
Namun begitu, lama-kelamaan anaknya mulai enggan diajak menghadiri klub tari dan lebih memilih merekam dirinya bergoyang di depan layar smartphone.
Tidak sedikit orang tua seperti Fani yang bagai mendengar petir di siang bolong karena anaknya bermimpi untuk menjadi orang terkenal. Artis, influencer, content creator, hingga streamer kini menjadi profesi yang semakin digemari anak-anak muda.
Menurut survei yang dikumpulkan Morning Consult pada 2023, lebih dari separuh Gen Z (angkatan kelahiran 1997-2012) bercita-cita jadi influencer.
Sekitar 57 persen dari 1.000 anak Gen Z yang disurvei menyebut ingin menjadi influencer jika punya kesempatan. Kesempatan itu akan datang ketika mereka mendapatkan momen viral.
Seperti yang diprediksikan pelukis terkenal Andy Warhol pada tahun 1968, “Di masa depan, semua orang akan terkenal mendunia selama 15 menit.”
Meskipun tidak banyak orang yang dapat mempertahankan momen viralnya dan hanya menjadi artis dadakan yang lama-lama dilupakan, banyak orang tetap nekat melakukan apapun demi mendapatkan “15-minute of fame” mereka.
Pertanyaan selanjutnya, apa yang membuat anak-anak kurang minat jadi pilot, ilmuwan, dokter, atau guru, dan malah mengejar ketenaran?
Kebanyakan orang tua mungkin akan menyalahkan sosial media dan langsung menyita ponsel anaknya.
Di balik reaksi tersebut, ada teori menarik mengatakan keinginan untuk menjadi terkenal dapat dipengaruhi oleh pola asuh orang tua.
Penulis buku Alain de Botton menyebut bahwa memiliki anak yang terobsesi dengan popularitas dapat menentukan seberapa baik pola asuh dari orang tua.
Botton menjelaskan bahwa anak yang sama sekali tidak punya keinginan untuk terkenal memiliki sistem validasi internal yang kuat. Artinya, ia tidak perlu mencari pengakuan diri dari orang lain karena sudah mendapatkan banyak cinta dan perhatian dari orang tuanya.
"Mereka tidak berusaha untuk dikenal oleh orang asing, mereka bisa merasa puas jika dikenal oleh sekelompok kecil orang yang mereka kenal betul," lanjutnya.
Keinginan kuat untuk divalidasi menjadi salah satu sifat umum yang terlihat pada individu yang kurang perhatian atau cenderung diabaikan pada masa kanak-kanak.
Para terapis dan peneliti telah banyak menelusuri kaitan keinginan terhadap ketenaran pada anak dengan perasaan penolakan atau pengabaian yang berkepanjangan.
Begitu kata psikolog Orville Gilbert Brim yang menulis buku Look at Me!: The Fame Motive from Childhood to Death (2009).
Studi ilmu perilaku berjudul “Youth Perspectives of Neglect Signs and Help-Seeking” (2024) menyebutkan bahwa anak kecil pun dapat mengenali sifat cari perhatian yang umum dimiliki anak-anak yang diabaikan oleh keluarganya. Mereka kerap bertingkah nakal dan berisik supaya menjadi pusat perhatian.
“Aku merasa seperti mengenal seorang anak telantar di sekolah; dia selalu suka ngomong dan berkomentar tentang hal-hal sepele untuk menarik perhatian karena di luar kelas atau sekolah, dia tidak banyak bicara dan tidak ada yang tertarik padanya,” kata salah satu anak perempuan yang menjadi partisipan studi.
Seiring perkembangan zaman, kebutuhan validasi pun berkembang menjadi obsesi terhadap likes dan comment di sosial media.
Nyatanya, selebritas di layar televisi dan influencer di jagat internet memang terlihat seperti profesi yang menyenangkan dan mudah untuk menghasilkan banyak uang.
Bukan hal keliru pula apabila kita tergiur dengan gemerlap kehidupan mereka sebagaimana dipoles cantik oleh lensa kamera.
Mereka terlihat melakukan hal yang disukai dan menikmati pekerjaannya, salah satu kualitas yang dicari anak muda dalam menentukan profesi di masa depan.
Jangankan Gen-Z, Milenial yang sudah lama terjun ke dalam pasar kerja pun mendambakan keterkenalan.
Artikel Forbes pada 2017 silam pernah menyebut bagaimana 1 dari 4 Milenial siap meninggalkan kariernya demi jadi terkenal.
Tak hanya itu, role model juga dapat sangat memengaruhi cita-cita kita.
Apabila kita begitu mengagumi orang terkenal yang sering ditemukan di internet atau menghasilkan karya yang inspiratif, tak ayal jika kita bermimpi untuk memiliki profesi yang sama kelak.
“Jika kamu ingin anakmu menjadi dokter, berilah dia mainan dokter-dokteran. Jika kamu ingin anakmu jadi pilot, sering-seringlah mengajaknya ke lapangan terbang,” begitu nasihat bijak yang pernah kuterima.
Maka dari itu, ketika anak mengutarakan cita-citanya untuk menjadi artis, content creator, atau game streamer, sebaiknya orang tua tidak perlu panik apalagi sampai menggoyahkan mimpi tersebut.
Pada akhirnya, yang terpenting adalah membuka ruang dialog dan berjalan bersama anak dalam memahami serta merawat mimpi-mimpinya.
Penulis: Yolanda Florencia Herawati
Editor: Sekar Kinasih