Menuju konten utama

Anakku Diam dan Menarik Diri, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Ketika merasa tidak mampu berinteraksi dengan baik, anak akan mulai mempertanyakan eksistensinya. Kondisi ini dapat memengaruhi keberhargaan diri.

Anakku Diam dan Menarik Diri, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Header diajeng Anak Menutup Diri. FOTO/freepik.com

diajeng.id - Salah satu pertanda anak membatasi diri adalah menampilkan sikap seolah-olah dirinya baik-baik saja.

Padahal, di dalam hatinya, mereka bisa saja dipenuhi perasaan takut salah, takut mencoba, atau takut ditolak. Apabila dibiarkan, pola ini bisa terbawa hingga remaja bahkan dewasa.

Anak yang menarik diri atau membatasi diri dalam lingkungan sosial, menurut Tiara Dewantari, M.Psi., Psikolog, biasanya menunjukkan pola perilaku sering mengisolasi diri atau menjauh dari interaksi dengan orang lain, baik dengan keluarga maupun dengan orang lain yang berbeda usia.

"Hal ini dapat berdampak pada kemampuan anak menjalin relasi, membangun pertemanan, serta memengaruhi kesejahteraan psikologisnya. Meskipun bukan selalu merupakan gangguan psikologis yang bisa didiagnosis, kondisi ini tetap bisa mengganggu keberfungsian anak dalam kehidupan sehari-hari," ujar Tiara dalam sesi IG Live Klik Psikolog bertajuk Anak yang Membatasi Diri: Memahami Akar dan Cara Mendampingi pada Rabu, 4 Maret 2026.

Di sisi lain, anak juga bisa terlihat menarik diri karena terisolasi oleh lingkungannya.

Misalnya, ketika anak tidak diterima oleh kelompok bermainnya, jarang diajak bergabung ke acara-acara, atau mengalami penolakan sosial. Dalam kondisi seperti ini, anak akhirnya memilih menjauh dari lingkungan.

Dampak Anak yang Menarik Diri dari Lingkungan

Dampaknya, lanjut Tiara, kemampuan membangun hubungan yang sehat juga bisa ikut terhambat dan kondisi emosional anak juga kurang stabil.

Sementara itu, anak-anak yang bisa melakukan interaksi dengan teman sebayanya biasanya akan memiliki perasaan bisa diterima, dihargai, dan menjadi bagian dari suatu kelompok.

"Ketika hal ini tidak terpenuhi, anak bisa merasa kesepian, kurang percaya diri, dan memiliki pandangan negatif terhadap dirinya," imbuhnya.

Tiara pun menyebutkan bahwa mengenalkan sosialisasi ke anak merupakan proses yang sangat penting bagi perkembangan anak.

Melalui interaksi sosial, anak belajar banyak hal, seperti kemampuan berkomunikasi, membangun hubungan yang positif, mengembangkan keterampilan sosial, belajar memecahkan masalah, dan menyampaikan pendapat.

"Semua kemampuan ini tidak bisa hanya dipelajari secara teori. Anak perlu mempraktikkannya secara langsung melalui interaksi dengan orang lain," ucap Tiara.

Pada masa anak-anak hingga remaja, lanjutnya, interaksi sosial sangat berperan dalam pembentukan identitas diri. Terutama pada masa remaja, anak mulai mengaitkan dirinya dengan lingkungan sosial.

Ketika anak merasa tidak mampu berinteraksi dengan baik, ia bisa mulai mempertanyakan eksistensi diri sendiri, "Aku sebenarnya siapa?" atau, "Aku bagian dari mana?" Hal ini dapat memengaruhi self-esteem atau rasa keberhargaan diri anak.

Lantas, apakah anak yang menarik diri memang cenderung kesulitan mengekspresikan perasaan?

Tiara mengatakan, kemungkinan besar begitu. Salah satu penyebabnya adalah keterampilan komunikasi yang kurang terlatih. Mengungkapkan pikiran dan perasaan kepada orang lain bukanlah hal yang mudah, bahkan bagi orang dewasa.

Bagi anak yang jarang berinteraksi, kemampuan ini semakin sulit berkembang. Selain itu, beberapa anak juga merasa cemas ketika harus membuka diri karena tidak tahu bagaimana respons orang lain terhadap perasaannya.

"Akibatnya, anak lebih memilih menyimpan perasaan sendiri," kata Tiara.

Penyebab Anak Menarik Diri dari Kehidupan Sosial

Tiara lalu menjelaskan beberapa penyebab yang membuat anak cenderung menarik diri, di antaranya:

1. Temperamen anak

Ada anak dengan temperamen slow to warm up, yaitu membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa nyaman di lingkungan baru.

2. Preferensi pribadi

Beberapa anak memang lebih menikmati aktivitas yang dilakukan sendiri dibandingkan aktivitas kelompok.

3. Kecemasan

Anak dengan tingkat kecemasan tinggi bisa merasa tidak nyaman ketika harus berinteraksi dengan orang lain.

4. Gaya kelekatan dengan orang tua

Jika anak memiliki attachment style atau gaya kelekatan yang aman dengan orang tua, ia cenderung lebih berani mengeksplorasi lingkungan. Sebaliknya, kelekatan yang tidak aman bisa membuat anak menjadi lebih cemas atau menarik diri.

5. Kendala bahasa atau budaya

Kesulitan bahasa atau perbedaan budaya juga bisa membuat anak terlihat membatasi diri dalam interaksi sosial.

6. Sensitivitas sensorik

Beberapa anak memiliki sensitivitas tinggi terhadap rangsangan sensorik, seperti suara yang terlalu ramai atau sensasi fisik tertentu. Hal ini bisa membuat mereka tidak nyaman berada di lingkungan sosial yang ramai.

Meski begitu, terang Tiara, anak yang menarik diri bukan berarti juga berkepribadian introvert. Sebab, introvert dan ekstrovert adalah bagian dari kepribadian. Tidak ada yang benar atau salah di antara keduanya.

"Yang perlu diperhatikan adalah dampaknya terhadap kehidupan anak. Jika anak yang introvert tetap bisa bersekolah, memiliki teman, dan berfungsi dengan baik dalam kehidupan sehari-hari, maka itu tidak menjadi masalah. Namun jika perilaku menarik diri membuat anak tidak mau sekolah, tidak mau berinteraksi sama sekali, atau menghindari tanggung jawabnya, maka kondisi tersebut perlu diperhatikan lebih lanjut."

Tiara menambahkan, penting bagi orang tua untuk memahami perbedaan antara sifat introvert dan gangguan kecemasan sosial pada anak.

Menurutnya, anak yang introvert tetap mampu berinteraksi dengan orang lain, hanya saja mereka membutuhkan waktu sendiri untuk mengisi energi sosial.

Introvert berbeda dengan kecemasan sosial, yang ditandai dengan rasa takut dan cemas yang sangat kuat ketika harus berinteraksi dengan orang lain.

Bahkan, sebelum menghadapi situasi sosial, anak bisa merasa sangat cemas hingga mengganggu tidur, pola makan, dan aktivitas sehari-hari. Apabila kondisi tersebut sampai mengganggu keberfungsian anak, maka perlu ditelusuri lebih lanjut dengan bantuan profesional.

Selain itu, orang tua perlu berhati-hati dalam memberi label kepada anak, seperti menyebutnya “pemalu” atau “penyendiri”.

Anak akan memandang label tersebut sebagai sesuatu yang tidak bisa diubah, sehingga akhirnya pasrah. Padahal, proses tumbuh kembang anak sangat luwes dan dinamis, tidak kaku.

"Jika label tersebut terus diulang, pasti akan sangat berpengaruh ke keberhargaan diri anak. Jadi ketika anak tadi sudah dapat label negatif, misalnya pemalu itu, kan, negatif ya. Itu bisa jadi akan sangat berpengaruh ke kepercayaan diri anak," tutur Tiara.

Alih-alih memberi label, orang tua sebaiknya bisa lebih peka memahami kebutuhan anak, memberi ruang bagi mereka untuk beradaptasi, serta mendampingi proses perkembangan sosialnya secara bertahap.

Artikel lainnya seputar anak introvert juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait INTROVERT atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Binar
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih