Menuju konten utama

Anak Rewel dan Susah Fokus? Waspadai Anemia Defisiensi Besi

Kadar zat besi yang rendah dapat memengaruhi kemampuan otak untuk fokus dan konsentrasi. Pada anak, bisa berdampak pada kegiatan akademiknya.

Anak Rewel dan Susah Fokus? Waspadai Anemia Defisiensi Besi
Header Diajeng Zat Besi Anak. tirto.id/Quita

diajeng.id - Selama ini, konsumsi suplemen zat besi (Fe) dalam bentuk Tablet Tambah Darah (TTD) marak digencarkan bagi kalangan perempuan, terutama remaja putri, yang rentan mengalami kekurangan zat besi karena menstruasi.

Nyatanya, bukan hanya perempuan, anak-anak juga dapat mengalami defisiensi zat besi sampai kondisinya anemia.

"Kelompok usia yang paling tinggi mengalami defisiensi besi adalah usia balita (0-5 tahun) sehingga kelompok ini menjadi prioritas pencegahan," ujar dr. Yuni Astria, SpA.

Ia menambahkan, "Kekurangan zat besi, dengan atau tanpa anemia pada anak, apalagi berlangsung lama dan terjadi pada rentang usia 0-2 tahun, sangat berpotensi mengganggu tumbuh kembang anak, termasuk perkembangan otak yang negatif terhadap kualitas sumber daya manusia."

Zat besi adalah mineral penting untuk mendukung proses pembentukan hemoglobin atau protein di dalam sel darah merah.

Tanpanya, sel darah merah tidak akan dapat menjalankan tugasnya dengan baik untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh.

Nah, kadar zat besi yang rendah dapat memengaruhi kemampuan otak kita untuk fokus dan berkonsentrasi. Pada anak, bukan tidak mungkin dampaknya akan mengganggu prestasi akademiknya di sekolah.

Mengutip artikel di jurnal Metabolites (2022), anemia defisiensi besi adalah kelainan darah yang paling sering terjadi pada anak-anak. Di negara-negara industri, persentase kejadiannya mencapai 20,1 persen pada anak usia 0 dan 4 tahun dan 5,9 persen pada anak antara usia 5 dan 14 tahun. Angkanya jauh lebih tinggi di negara-negara berkembang, masing-masing 39 persen dan 48,1 persen.

Di Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 mencatat, prevalensi anemia di kalangan balita usia 0-4 tahun mencapai 23,8 persen, anak usia 5-14 tahun sebesar 16,3 persen, dan remaja 15-24 tahun 15,5 persen.

Apa saja gejala yang terlihat pada anak-anak yang menderita defisiensi zat besi?

Seperti disampaikan dr. Yuni, gejalanya meliputi iritabilitas (mudah tersinggung, marah, atau gelisah), daya persepsi dan perhatian berkurang, mudah jatuh sakit, berperilaku aneh (mengunyah benda tertentu seperti kertas, alat tulis, pasta gigi, es, atau kotoran).

Selain itu, tanda lain yang dapat dikenali pada anak dengan defisiensi besi adalah kukunya: permukaan kuku yang kasar, mudah patah atau terkelupas, dan bentuknya menyerupai sendok.

Konjungtiva kedua mata anak kemungkinan juga terlihat pucat. Pada kasus-kasus serius, dapat dijumpai atrofi lidah (permukaan lidah rata), peradangan pada sudut mulut (stomatitis angularis) dan peradangan pada lapisan lambung (gastritis).

Orang tua perlu memberikan makanan kaya zat besi agar anak terhindar dari kemungkinan mengalami defisiensi zat besi.

Pada dasarnya, terdapat dua macam besi yang terkandung di dalam makanan, yaitu Fe-heme dan non-heme.

"Contoh makanan yang mengandung besi heme adalah ikan, hati, daging berwarna merah. Makanan ini lebih mudah diserap oleh usus dibandingkan sumber non-heme," jelas dr. Yuni.

Sementara itu, besi non-heme dapat ditemukan pada beras, bayam, jagung, gandum, kacang kedelai.

"Makanan tersebut berbentuk senyawa ferri yang harus diubah dulu di dalam lambung oleh HCL menjadi ferro, agar dapat diserap di dalam usus. Artinya, penyerapan besi non-heme dapat dipengaruhi oleh komponen lain di dalam makanan," jelas dr. Yuni.

Melansir Healthline, tubuh kita dapat menyerap zat besi dengan lebih optimal apabila konsumsi makanan kaya zat besi diimbangi pula dengan makanan tinggi vitamin C. Maka dari itu, anak juga perlu mengonsumsi jeruk, kiwi, tomat, brokoli, pepaya.

Hal lain yang perlu diperhatikan orang tua adalah asupan makanan dan minuman yang dapat menghambat penyerapan zat besi bagi anak.

"Minuman yang mengandung tanin seperti teh, kopi, cokelat, dan makanan berkalsium dapat menghambat penyerapan besi," jelas dr. Yuni.

Dikutip dari Verywell Health, sebuah studi tahun 2024 di Pakistan menyebutkan bahwa tradisi minum teh hitam di sana dapat meningkatkan risiko anemia defisiensi besi sampai dua kali lipat dibandingkan pada mereka yang bukan peminum teh.

Seperti kita ketahui, teh juga populer di Indonesia. Data BPS (Susenas, 2023) mengungkapkan, rata-rata konsumsi teh celup nasional mencapai 1,26 kantong per kapita per minggu.

Seiring dengan banyaknya produk minuman teh dalam kemasan yang praktis dan murah, semakin mudah bagi siapapun untuk mengonsumsinya, termasuk anak-anak.

Padahal, seperti ditegaskan oleh dr. Yuni, konsumsi teh dalam jumlah banyak, terutama yang dilakukan bersamaan dengan santap makan utama, dapat menyebabkan kekurangan zat besi.

Polifenol dan fitat yang terkandung di dalam teh ternyata dapat menghambat penyerapan zat besi.

Meskipun secara umum teh tidak berbahaya bagi anak, dr. Yuni menyampaikan bahwa saat ini belum terbukti adanya manfaat konsumsi teh secara rutin pada anak.

Menurutnya, orang tua boleh memberikan teh sebagai minuman bagi anak sepanjang memerhatikan jumlah dan waktu pemberian.

"Tidak diberikan saat makan utama dan jumlahnya tidak berlebihan. Alternatif minuman lain adalah air putih, ASI atau susu dan jus murni tanpa gula tambahan," saran dr. Yuni.

Konsumsi susu dan produk turunan seperti yogurt dan keju juga penting untuk diperhatikan karena kandungan kalsium di dalamnya dapat menghambat penyerapan zat besi.

"Agar penyerapan zat besi maksimal, pemberian susu atau produk turunan susu diberikan di luar waktu makan utama. Beri jeda sekitar 1,5-2 jam setelah makan utama," jelas dr. Yuni.

Apabila perlu, anak-anak yang kekurangan zat besi dapat mengonsumsi suplemen.

Berdasarkan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), suplementasi besi dapat diberikan kepada semua anak dengan prioritas usia balita (0-5 tahun), terutama usia 0-2 tahun.

Sesuai saran dr. Yuni, suplemen zat besi dapat diminum saat pagi maupun malam, kira-kira 30 menit sebelum sarapan dan makan malam.

Jika terjadi mual, nyeri ulu hati, atau sembelit, suplemen dapat diberikan segera setelah makan.

"Pastikan sebelum memberi suplemen besi pada anak, orang tua harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter, agar dosisnya tepat sesuai dengan kondisi anak," pungkas dr. Yuni.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Daria Rani Gumulya & Sekar Kinasih

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Daria Rani Gumulya & Sekar Kinasih
Editor: Sekar Kinasih