Menuju konten utama

Anak Sering Bertanya? Jangan Dimarahi, Itu Benih Berpikir Kritis

Terkadang, orang dewasa tidak punya cukup ruang dan energi untuk memfasilitasi pertanyaan-pertanyaan "ajaib" dari anak-anak.

Anak Sering Bertanya? Jangan Dimarahi, Itu Benih Berpikir Kritis
Header diajeng Anak Bertanya. tirto.id/Quita

diajeng.id - “Ibu, siang hari begini, bintang pergi ke mana?”

“Kalau Bumi jatuh, jatuhnya ke mana, ya, Pak?”

“Pelangi itu terbuat dari apa?”

“Rumah burung pipit ada di mana? Jauh enggak?



“Ikan kok matanya melek terus, berarti nggak pernah tidur, ya?”

Pernah mendapat pertanyaan dari anak-anak yang terdengar absurd dan lucu seperti di atas?

Pada momen yang menjadi bagian dari periode penasaran anak-anak itu, yang acap kali terjadi adalah orang dewasa kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Namun, benarkah anak-anak bertanya karena sekadar untuk mencari jawaban saja?



Mari kita tengok penggalan kisah dari astronom Premana “Nana” Wardayanti Premadi saat masih kecil.

Ketika pertama kali mengamati bulan, Nana heran karena benda langit itu terus mengikutinya selama dia melaju di dalam mobil.

Ia pun sempat menanyakan hal itu kepada orang tuanya sambil lalu.

"[Sebenarnya pertanyaan tentang bulan] tidak ditanyakan secara spesifik kepada siapa pun untuk mendapatkan jawaban, tetapi itu adalah keingintahuan yang tercetus dalam kata. Sekarang setelah saya pikir ulang, kesempatan itu jarang sekali terjadi [pada anak-anak zaman sekarang]," cerita Nana dalam sesi wawancara dengan Diajeng Tirto bulan Juni silam.

Apa yang digambarkan Nana menunjukan bahwa sering kali, pertanyaan anak-anak bersifat kontemplatif, alih-alih definitif.



Mereka bertanya tentang dunia sekitar tidak hanya didorong oleh keinginan untuk mencari jawaban pasti, tapi juga ekspresi ketakjuban dan sukacita.



Jadi, bukan sekadar “curious about something” (penasaran akan sesuatu), anak-anak memiliki kecenderungan untuk “wondering about something” (takjub akan sesuatu).

Apa perbedaannya?

Rasa penasaran biasanya akan langsung berhenti saat anak sudah mendapat penjelasan, sedangkan ketakjuban dapat terus bertahan bahkan ketika jawaban paling masuk akal sudah diberikan.

Mengapa penting untuk terus mendorong anak bertanya tentang apa pun dengan penuh rasa takjub?

Dalam artikel “Wonder and Moral Education” di jurnal Educational Theory (2018), Anders Schinkel menulis, “Ketakjuban dapat menumbuhkan empati, cinta, dan kasih sayang, serta memikat kita menuju penghormatan terhadap kehidupan. Rasa takjub juga membentengi [manusia] dari dogmatimse dan fanatisme, dan mendekatkan pada [sikap] rendah hati.”

Keberanian untuk mempertanyakan alam sekeliling pertama-tama didapatkan anak lewat keluarga, yaitu kedua orang tua.

Dalam lingkup keluarga, kemampuan seorang anak untuk mengajukan pertanyaan ternyata sangat bergantung dengan pola asuh yang diterima.


“Ketika kebutuhan dasar bayi terpenuhi dengan cepat, ia akan mengembangkan Model Kerja Internal: “Aku bisa memercayai orang lain”, “Aku berharga”, “Aku mampu”. Hasilnya adalah secure attachment. Hal ini mengarah pada penghargaan diri, rasa aman, kemampuan sosial yang tinggi, serta minat untuk menjelajahi hal-hal yang belum dikenal,” penjelasan Catherine L’Ecuyer dalam “The Wonder Approach to Learning” (2014).

Rasa takjub dan penasaran yang ada di dalam diri anak-anak adalah bekal berharga untuk persiapan mereka beranjak dewasa. Namun, seperti sudah disebut, kadang-kadang kelompok dewasa tidak punya cukup ruang atau energi untuk memfasilitasi pertanyaan tersebut.

Kekosongan inilah yang ingin diisi, misalnya oleh Nana, melalui program Universe Awereness for Children (UNAWE) yang cabangnya di Indonesia didirikan pada 2007 lalu.

Program UNAWE dimulai di Belanda pada 2004 oleh George K. Miley, astronom sekaligus dosen di Leiden University.


Miley, yang saat itu sedang menuju masa pensiun, lantas menghubungi Nana dan mengajaknya untuk mendirikan lembaga serupa di Indonesia.

Profesor di Institut Teknologi Bandung ini menyambar kesempatan tersebut dengan semangat meluap. Dalam visi Nana, ia ingin menyaksikan sains hadir semakin awal di kehidupan anak-anak Indonesia.

UNAWE bertujuan untuk menyediakan pembelajaran astronomi bagi anak-anak berumur 4 hingga 10 tahun. Dalam pandangan Nana, ini adalah rentang usia saat manusia belum terpapar bias kognitif.

Melalui gerakan ini, anak-anak didorong untuk tidak takut bertanya atau bahkan merasa pertanyaan yang diajukan terlalu bodoh.

“Jadi, Universe Awareness adalah cara kita untuk berkomunikasi dengan masyarakat super muda yang suatu hari—tidak lama lagi—akan menggendong kita di pundak mereka,” tambah Nana lebih lanjut.

Alih-alih memaksakan anak-anak untuk mempelajari hard science, mereka perlu didorong untuk terbiasa berpikir secara ilmiah, rasional, dan logis—kemampuan yang dibutuhkan untuk bertahan hidup di tengah disrupsi teknologi.

Premana Premadi

Premana Premadi mengajari tentang gerhana matahari pada siswa SD di Poso pada 2016. FOTO/Premana Premadi


Anak-anak, tutur astronomer Carl Sagan, selalu tahu cara mengajukan pertanyaan penting.

Tentu para orang tua harus mulai berpikir ulang bagaimana menyikapi perasaan takjub dan penasaran yang selalu menggelayuti para “petualang cilik” tersebut.

Bertanya adalah insting purba yang ada di dalam setiap diri manusia untuk mengenal dunia yang ditinggali. Kolaborasi antara keluarga sebagai pranata utama dengan lembaga lain menjadi sangat mendesak di tengah kemajuan teknologi yang tidak ramah anak.

Bertanya adalah hak anak dan kewajiban bagi orang tua untuk memastikan bahwa ada ruang aman bagi rasa takjub campur penasaran itu.

Tentu kita tidak ingin mengulangi apa yang diramalkan Rachel Carson, penulis dan ahli biologi kelautan Amerika, dalam buku The Sense of Wonder (1965).

“Dunia anak begitu indah, baru, bersih, penuh ketakjuban, dan gelora. Betapa malangnya pandangan jernih penuh insting tentang apa yang memesona dan mengagumkan itu semakin redup dan bahkan benar-benar hilang jauh sebelum kita beranjak dewasa.”

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Erika Rizqi

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Erika Rizqi
Penulis: Erika Rizqi
Editor: Sekar Kinasih