Menuju konten utama
Diajeng Berdaya

Anggia Prasetyoputri, Tak Kenal Lelah Teliti Resistensi Bakteri

Peraih penghargaan L'Oréal UNESCO Women in Science ini bercerita tentang mentor yang menginspirasinya, tantangan mengidap kanker, dan lika-liku kerja riset.

Anggia Prasetyoputri, Tak Kenal Lelah Teliti Resistensi Bakteri
Header Diajeng Anggia Prasetyoputri. tirto.id/Quita

diajeng.id - "Takdir tidak terletak di antara bintang-bintang, melainkan pada diri kita sendiri.”

Gubahan dari percakapan asli dalam drama The Tragedy of Julius Caesar karya William Shakespeare di atas seakan mencerminkan perjalanan hidup Anggia Prasetyoputri (43).

Awalnya, peneliti di bidang ilmu Biologi Molekuler ini didorong oleh orang tuanya untuk melanjutkan pendidikan tinggi di jurusan Hubungan Internasional.

Mereka berharap, Anggia akan berkarier sebagai diplomat.

Meski begitu, pada detik-detik terakhir, Anggia mengganti jurusan Biologi menjadi pilihan pertamanya saat mendaftar di kampus Universitas Indonesia.

Siapa sangka, keputusan spontan tersebut kelak membuat jalan hidup Anggia menjadi semakin berwarna-warni dan sarat dengan cerita luar biasa.

Tekuni Hidup Sebagai Ilmuwan, Temukan Role Model

Tak lama seusai menyelesaikan kuliah pada 2004, Anggia diterima sebagai CPNS di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)—sejak 2021 berubah nama menjadi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Di BRIN, Anggia bekerja di Pusat Riset Mikrobiologi Terapan.

Kepercayaan diri Anggia dalam meniti karier sebagai peneliti menguat tatkala ia berjumpa dengan sosok mentor Irene Caterina Atmosukarto atau biasa disapa Ines.

Pada 2004, Ines menjadi peneliti perempuan Indonesia pertama yang meraih penghargaan L'Oréal-UNESCO For Women in Science di tingkat internasional.

Kepada Anggia, Ines senantiasa memberikan ruang untuk belajar dan memulai hal-hal baru.

“Waktu itu, beliau mengajak menulis bersama, betul-betul meng-encourage saya untuk belajar. Beliau memberikan tanggung jawab project yang waktu itu saya akui belum banyak tahu soal ini, tapi beliau percaya."

Berkat inspirasi dan dukungan dari sang mentor, Anggia yang masih meraba-raba dunia riset akhirnya tak lagi merasa “sendirian”.

"Beliau memberikan semacam the feeling of being empowered, bahwa 'Kamu bisa! Kamu mungkin hanya belum tahu caranya. This is where you can start,’” kenang Anggia tentang dorongan semangat dari Ines.

“Kata-katanya tersebut masih terngiang di telinga saya sampai sekarang."

Anggia kemudian meneruskan pendidikan master di University of Melbourne, Australia dengan fokus riset terkait imunologi, persisnya tentang bagaimana vaksin dapat membantu mempertahankan sistem imun tubuh manusia.

Jadi Mahasiswa S-3, Teliti Resistensi Bakteri pada Antibiotik

Pada 2015, didukung oleh Australia Awards Scholarship, Anggia memulai studi doktoral di Institute of Molecular Bioscience, University of Queensland.

Suami dan dua anaknya turut diboyong terbang ke Negeri Kanguru.

Selama studi S3, Anggia mengerucutkan fokus riset tentang Antimicrobial Resistance (AMR) atau resistensi antimikroba pada bakteri patogen Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA), terkait dengan pengembangan antibiotik baru.

“Di Indonesia, salah satu faktor risiko yang turut berkontribusi terhadap tingginya resistensi antimikroba adalah longgarnya regulasi terkait penggunaan antibiotik. Ini perlu diperbaiki karena beberapa antibiotik di Indonesia masih bisa dijual bebas,” papar Anggia.

“Sedikit sekali antibiotik baru yang ditemukan dalam satu-dua dekade terakhir, sedangkan resistensi atau kekebalan bakteri terhadap obat antibiotik semakin berkembang,” tambahnya.

Anggia mempelajari bagaimana mekanisme bakteri menjadi resisten. Temuan tersebut dapat menjadi dasar untuk mendesain obat antibiotik baru yang lebih kebal terhadap resistensi.

Anggia Prasetyoputri

Peneliti Anggia Prasetyoputri (43) melakukan aktivitas riset di laboratorium Pusat Riset Mikrobiologi Terapan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Oktober 2024. foto/ Mega Ferdina Warsito

“Antibiotik bekerja dengan menargetkan dan menyerang bagian dari sel bakteri yang penting, misalnya dinding sel. Ketika bakteri menjadi resisten terhadap antibiotik, salah satu bentuk pertahanan adalah dengan membuat dinding selnya menjadi lebih tebal sehingga efek dari antibiotik jadi tidak seefektif sebelumnya.”

“Salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk mengatasi ini adalah menciptakan antibiotik yang menargetkan bagian lain dari sel bakteri yang berbeda dari target-target lain yang sudah ditemukan,” terang Anggia .

Dalam mendalami mekanisme resistensi antimikroba, Anggia menggunakan metode “next-generation sequencing” (NGS) agar dapat melihat perbedaan antara DNA bakteri yang resisten dan tidak resisten.

”Dengan metode ini, saya dapat melihat perbedaan pada bakteri-bakteri yang diteliti, adakah mutasi atau ada perubahan sequence (urutan) pada DNA bakteri tersebut.”

Metode NGS ini jugalah yang memungkinkan Anggia untuk mengetahui bagaimana proses suatu bakteri menjadi resisten terhadap antibiotik.

Menjadi Penyintas Kanker, Upaya Ikhlas dan Kerja Keras

Anggia menuturkan betapa dirinya menggemari keteraturan. Segala yang sudah direncanakan, idealnya, tidak boleh menyeleweng terlalu jauh dari agenda utama.

Namun demikian, ketika Anggia didiagnosis mengidap kanker payudara pada awal 2018, dirinya mulai berpikir ulang tentang penerimaan terhadap takdir.

Diagnosis tersebut tiba ketika ia tengah sibuk-sibuknya mempersiapkan persyaratan lamaran pendanaan riset dan keberangkatan ke Spanyol untuk mengikuti konferensi.

Kala itu, studi Anggia sudah mencapai awal tahun ketiga. Hanya tersisa 1,5 tahun lagi untuk menuntaskannya.

Setelah pihak pemberi beasiswa menawarkan sejumlah opsi, Anggia memutuskan untuk menjalani pengobatan di Australia sembari menuntaskan studi.

Otoritas kampus turut mendukung keputusan Anggia dengan memberikan kemudahan padanya untuk menyusun disertasi dari rumah.

“Sudah sulit untuk berpikir jernih waktu itu. Semua blur rasanya. Walau begitu, saya bersyukur karena mendapatkan dukungan penuh dari pemberi beasiswa, teman-teman di kampus, dan komunitas masyarakat Indonesia di sana.”

“Pada satu waktu, saya menerima surel pemberitahuan jadwal kemoterapi, dan pada hari yang sama itu pula saya dinyatakan lolos travel grant ke Prancis.”

Demikian papar Anggia tentang pilihan sulit yang harus dihadapi ketika menjalani studi selama sakit.

Namun apa daya, agenda yang sudah direncanakan dengan matang-matang akhirnya terpaksa dibatalkan.

Bersama teman-teman komunitas Indonesia di Australia, Anggia lantas terlibat dalam pink ribbon movement—gerakan penggalangan dana untuk penelitian dan dukungan penyintas kanker payudara.

“We managed to raise 3000 dollars for cancer research,” cerita Anggia.

Dengan semangat juang tinggi, disokong oleh keluarga, pembimbing akademik, dan teman-teman terkasih yang tiada henti turut memanjatkan doa untuknya, Anggia berhasil sembuh dan merampungkan naskah disertasinya pada Oktober 2019.

Anggia Prasetyoputri

Anggia Prasetyoputri berfoto dengan dosen pembimbingnya saat menempuh studi doktoral di Institute of Molecular Bioscience, University of Queensland pada 2017. foto/ Wanida Phetsang

Anggia bercerita, submisi disertasi berlangsung menegangkan karena dilakukan pada detik-detik terakhir dirinya menjejak tanah Australia—hanya beberapa jam sebelum ia naik pesawat untuk pulang ke Indonesia.

Perjuangan luar biasa Anggia terbayar lunas pada 2020.

Pada tahun itu, dua hari setelah resmi menyandang gelar doktor, Anggia berpartisipasi pada ajang penghargaan bergengsi L'Oréal-UNESCO For Women in Science in Life Sciences di tingkat nasional.

Kepada tim L'Oréal-UNESCO, Anggia mengajukan proposal penelitian dengan tema virus COVID-19. Tidak lupa ia menerapkan metode sequencing yang sudah digelutinya sedari masa studi doktoral.

“Saya pikir pada waktu itu, you just have to think out of the box,” tegas Anggia tentang keputusannya mengajukan tema terkait COVID-19.

Upaya Anggia membuahkan hasil. Penelitiannya berhasil mendapatkan penghargaan. Lagi-lagi, sosok Ines Atmosukarto membuatnya bertekad untuk meraih penghargaan sama.

Jalan terang untuk Anggia pun terus terbuka lebar.

Dua tahun kemudian, Anggia berhasil mendapatkan APEC-Australia Women in Research Fellowship dengan riset berjudul “Genetic Manipulation and Construction of Staphylococcus Aureus Mutants Via Allelic Exchange”.

Lika-Liku Kerja Peneliti

Sebagai peneliti yang mendedikasikan mayoritas waktu untuk melakukan uji coba ilmiah di dalam laboratorium, Anggia akui bahwa mengomunikasikan temuan riset kepada masyarakat luas masih menjadi tantangan yang jamak dihadapi oleh ilmuwan di penjuru dunia.

Publikasi jurnal, tekan Anggia, nyatanya lebih banyak dibaca oleh mahasiswa atau sesama peneliti. Ia melihat masih ada kesenjangan dalam penyampaian dan akses informasi.

“Membahas sesuatu yang kompleks membutuhkan pengertian dan pengetahuan yang cukup bagi orang-orang yang ingin memahaminya,” tutur Anggia.

“Sebagai peneliti, kami ingin bahasan yang dipilih bisa diminati banyak orang tanpa terlalu menyederhanakan hasil,” terang Anggia, yang menyebut X sebagai salah satu platform media sosial pilihan banyak peneliti masa kini untuk memopulerkan topik-topik riset ke publik.

Terkait dengan dunia STEM yang citranya maskulin dan secara historis didominasi laki-laki, Anggia mengakui bahwa representasi perempuan peneliti di Indonesia masih perlu ditingkatkan.

“Sejauh saya melihat, role model perempuan peneliti di Indonesia–setidaknya di bidang saya–tentu sudah ada, tetapi jumlahnya memang belum sebanyak laki-laki,” kata Anggia yang baru-baru ini menjadi anggota Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI).

Pada waktu sama, Anggia tidak menampik bahwa di dalam domain STEM, sebagaimana di sektor lainnya, bias gender masih juga ditemui.

Misalnya, pandangan bahwa jika laki-laki menyampaikan pendapat, isinya dianggap bagus, sedangkan perempuan yang berpendapat dianggap cerewet.

“Bias juga terjadi dalam kerja kelompok. Perempuan diberi beban penugasan lebih besar karena dianggap jago multitasking. Demikian juga perempuan yang masih lajang diberi workload lebih banyak karena dianggap masih punya banyak waktu. Itu tidak fair, ” jelas Anggia.

Di balik tantangan gender yang masih berseliweran, Anggia percaya bahwa dukungan keluarga dan lingkungan kerja yang sehat menjadi faktor penting yang berkontribusi besar terhadap perkembangan karier perempuan peneliti.

Anggia sungguh bersyukur karena suami dan keluarganya tidak pernah berhenti menyokongnya untuk senantiasa berkiprah dengan penuh percaya diri di bidang ilmu yang sudah digelutinya selama dua dekade tersebut.

Saat ini, sembari melakukan bimbingan mahasiswa, Anggia mengerahkan sebagian energinya untuk proses kepenulisan terkait berbagai temuan dari riset-riset yang sudah selesai dilakukan.

Di samping itu, ia menjadi koordinator salah satu tim riset BRIN. Anggia dan timnya tengah berusaha mencari bahan baku obat dari bahan tradisional untuk penyakit diabetes dan antikanker.

Di tengah kesibukannya bekerja, Anggia menolak untuk berhenti belajar hal-hal baru.

Selama beberapa minggu ke depan, ia akan belajar tentang prinsip-prinsip kesetaraan gender dan penerapannya di riset-riset STEM dalam program kuliah pendek dari Australia Awards bertajuk Breaking Barriers: Promoting Inclusive Leadership in Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Erika Rizqi

diajeng.id - Binar
Kontributor: Erika Rizqi
Penulis: Erika Rizqi
Editor: Sekar Kinasih