diajeng.id - Kita hidup dunia yang cenderung mengukur nilai satu sama lain dari deretan prestasi dan dampak yang terlihat "keren".
Di satu sisi, memilih untuk hidup tanpa ambisi sering kali dianggap sebagai bentuk menyerah atau kalah.
Padahal, apabila direnungi lagi, ada perbedaan besar antara jadi orang yang tidak punya tujuan hidup dengan jadi orang yang memilih untuk tidak terjebak dalam kompetisi ambisi yang tiada habisnya.
Di tengah kebingungan tentang makna ambisi, mungkin kita juga sering keliru mencampuradukkan antara ambisi dan aspirasi.
Ambisi, seperti dinukil Psychology Today, sering kali berkaitan dengan upaya untuk membedakan diri kita dari orang lain atau mencari keistimewaan.
Ambisi yang murni biasanya memiliki sifat tidak pernah puas. Setelah satu puncak tercapai, ambisi akan segera mencari puncak berikutnya untuk ditaklukkan.
Di sisi lain, aspirasi merujuk pada tujuan tertentu yang ingin dicapai demi kebaikan tujuan itu sendiri, alih-alih pengakuan atau validasi.
Pendeknya, tidak perlu menjadi ambisius untuk "merasa hidup" atau untuk mencapai hal-hal yang bermakna.
Aristoteles bahkan menyarankan kita untuk mencari "titik tengah" yang sehat; antara ambisi yang berlebihan (kerakusan akan pencapaian) dan ketiadaan niat sama sekali.
Ketika Ambisi Mulai Membuat Hidup Rapuh
Sebenarnya, mengejar ambisi yang dimotivasi oleh rasa takut gagal berisiko membuat hidup kita terasa "tipis" atau rapuh.
Kita bisa jadi mengorbankan waktu istirahat, hobi, bahkan hubungan dengan keluarga dan anak demi masa depan cemerlang, yang belum tentu terjadi.
Dorongan-dorongan motivasi dari ketakutan ini biasanya bersifat insatiable alias tidak pernah terpuaskan karena terus menuntut lebih, lebih, lebih tanpa pernah memberi kecukupan sejati.
Dorongan untuk berprestasi, menurut Psychologies, memang hal baik. Toh, di dalam hidup ini, kita perlu berubah untuk terus mencapai hal yang tertinggi dan jadi versi terbaik.
Merunut sejarah umat manusia, ambisi punya peran penting dalam peradaban. Ambisilah yang mendorong kita berhasil menciptakan menciptakan roda, berjalan di bulan, menyembuhkan penyakit paling mematikan, dan mendaki gunung tertinggi.
Namun, manusia juga punya batasan. Keputusan untuk memilih menjalani hidup lebih "santai" demi kewarasan mental juga valid.
Stephanie Fallon menulis The Good Trade bahwa mengerem sebentar dorongan menulis yang kompetitif telah memberikannya semacam kelegaan.
Fallon sadar, dirinya tetap berharga meskipun tidak menghasilkan karya yang menjadi bestseller.
Hidup tetap layak dijalani meskipun kita hanya melakukan "hal-hal sederhana" yang memberikan rasa damai, seperti mendengarkan musik saat jalan kaki dengan hewan peliharaan atau tidur siang tanpa merasa bersalah.
Menurut Fallon, hidup bukan seperti permainan "lantai adalah lava" yang seakan-akan menekankan bahwa satu kegagalan dapat menghanguskan segala hal yang sudah kita bangun.
Tidak punya ambisi bukan berarti kita tidak punya rencana hidup. Pada dasarnya, manusia dibekali akal sehat untuk merancang rencana jelas sekaligus tetap fleksibel.
Dengan begitu, kita bisa mengusahakan yang terbaik di pekerjaan atau sekolah kita, tanpa terbebani dengan tuntutan akan kesempurnaan atau pengakuan luas.
Jika pun kita belum bisa "berhasil", memang mungkin belum waktunya, atau ada bidang lain yang lebih cocok dengan minat dan bakat kita.
Nyatanya, kita sudah "menang" dengan keputusan berani untuk hidup sesuai nilai-nilai sendiri, tanpa perlu validasi dari ambisi-ambisi besar maupun bergantung pada sumber daya orang lain.
Simak juga artikel menarik lainnya terkait di tautan ini.
Editor: Sekar Kinasih