diajeng.id - Jika goresan tinta warna-warni bisa bernyanyi dengan merdu, salah satu yang pasti berhasil menyuarakannya dengan cemerlang adalah Semiha Berksoy (1910-2004).
Penyanyi opera dan pelukis kelahiran Istanbul ini tumbuh dewasa pada fajar abad ke-20, periode krusial yang merekam kejatuhan Kekhalifahan Usmani seiring pemberontakan dan kekalahan perang bertubi-tubi serta tekanan dari gerakan nasionalis untuk mendirikan republik Turki modern.
Di tengah situasi politik yang bergejolak, Berksoy kecil menemukan oase di dunia seni. Sedari usia dini, Berksoy meyakini bahwa berkesenian lewat suara dan ragam kreasi visual adalah panggilan hidup yang memberinya kemerdekaan penuh untuk mengekspresikan diri.
Berksoy mulai menekuni seni pahat, lukis, dan keramik dengan serius setelah diterima di Konservatorium Istanbul pada pengujung dekade 1920-an. Bersamaan dengan itu, ia belajar teater di sekolah milik Muhsin Ertuğrul, tokoh berpengaruh dalam perkembangan industri perfilman Turki.
Berksoy kelak membintangi film bersuara pertama Turki yang disutradarai Ertuğrul, İstanbul Sokaklarında (1931).
Di film keduanya bersama Ertuğrul, Söz Bir Allah Bir (1933), Berksoy memerankan karakter perempuan modern Turki, yang pada masa itu mulai bergelut dalam tarik-ulur identitas budaya nasional di antara narasi modernisasi Eropa versus nilai-nilai tradisional ketimuran.

Tampil dengan potongan rambut pendek dan suara lantang penuh kepercayaan diri, ia berseru pada lawan mainnya, “Aku mendukung perempuan jadi seperti laki-laki… Dengan kata lain, aku seorang feminis!”
Meski sempat menjajal dunia film, Berksoy teguh menancapkan karier di teater dan kelak mendulang popularitas sebagai perempuan Turki pertama yang menjadi penyanyi opera profesional.
Setelah tampil di opera perdana Turki berjudul Özsoy (1934), Berksoy mendapatkan kesempatan untuk mendalami studi teater dengan beasiswa pemerintah Turki di Akademi Musik Berlin di Jerman.
Selama beberapa waktu, suara soprano dramatis Berksoy sukses memesona dan mengharumkan nama Turki di panggung-panggung pertunjukan Eropa.
Namun, tak berapa lama kemudian, Perang Dunia II berkecamuk. Berksoy pun memutuskan pulang ke tanah airnya untuk membantu pembangunan konservatorium nasional pertama di ibukota Ankara.
Di tengah kesibukan berteater, Berksoy tidak meninggalkan kecintaannya pada seni lukis.
Kiprah seniman yang khas dengan tampilan riasan wajah tebal dan kostum warna-warni itu tidak terbatas di dalam negeri. Pada 1969, Berksoy kembali ke Berlin untuk menggelar pameran tunggal internasional pertamanya di Haus am Lützowplatz.

Berksoy meninggal dunia pada 2004 di usia 94 tahun. Sampai menjelang akhir hayatnya, Berksoy masih aktif melukis dan memeriahkan dunia panggung kesenian.
Pada tahun 2000 di sebuah klub di Istanbul, misalnya, dengan tubuh dibalut kostum hasil lukisannya sendiri, Berksoy tampil bersama sebuah grup perkusi untuk membacakan puisi, bernyanyi, melukis, sampai membawakan drama. Pada tahun sama, dia membawakan aria Liebestod dari opera Tristan and Isolde di Lincoln Centre, New York. Tiga tahun kemudian, dia juga masih berenergi untuk membawakan interpretasi atas opera Salome di Vienna Bienniale.
Meski raganya telah lama tiada, komunitas seni terus berupaya menjaga nyala semesta warna-warni Berksoy.
Lukisannya diikutsertakan di berbagai eksibisi dan biennale internasional, di antaranya Venice Biennale (2005, 2024), Shanghai Biennale (2012), Frieze Masters, London (2018), Lyon Biennale (2022).
Tahun lalu, galeri seni kontemporer di Berlin, Hamburger Bahnhof, menampilkan sekitar 80-an lukisan Berksoy dalam eksibisi bertajuk Singing in Full Colour.
Koleksi tersebut kini diboyong ke kota kelahiran Berksoy untuk dikembangkan dalam eksibisi Aria of All Colors, berlangsung dari Januari sampai September 2026 di museum seni kontemporer Istanbul Modern.
Lebih dari 200 karya visual Berksoy di pameran ini mengajak kita untuk membedah perjalanan hidupnya sebagai pekerja seni yang berani, merdeka, dan setia.

Melalui goresan pewarna dan kuas di atas kertas, kanvas, sampai kain, Berksoy berupaya mengabadikan perjalanan seni selama tujuh dekade yang penuh warna.
Berksoy sempat menjalin relasi spesial yang kompleks dengan tokoh intelektual Nazım Hikmet (1902-63). Sastrawan tersebut dibui karena tulisan-tulisannya yang berhaluan politik kiri dianggap sebagai ancaman negara.
Namun, kedekatan dengan Hikmet tidak membuat Berksoy gentar atau takut dengan risiko dilabeli sebagai Komunis. Berksoy tetap menengok Hikmet di penjara. Melalui korespondensi yang berjalan intens, sang sastrawan konsisten mendukung kiprah Berksoy di ranah seni.
Lukisan “Hapishanede Ziyafet—Perjamuan di Penjara” (1999), terletak di posisi paling tengah pada foto di atas, adalah salah satu cara Berksoy memahami pengalaman Hikmet dan dua tokoh intelektual Turki lainnya, Hikmet Kıvılcımlı dan Kemal Tahir, yang pernah dibui bersamaan di Penjara Çankırı pada 1940 silam.
Di bilik eksibisi utama yang dinamai “Kirmizi Oda—Kamar Merah”, terpajang lukisan-lukisan berisi interpretasi visual Berksoy terhadap pengalamannya memerankan tokoh-tokoh utama di berbagai pementasan opera.
Berksoy menunjukkan bagaimana ia memosisikan dirinya sendiri di dalam setiap tema pementasan, dari asmara dan hasrat, duka dan kematian, hingga amarah dan cemburu, sebagaimana ditemukan dalam opera Tosca (Giacomo Puccini), Fidelio (Ludwig van Beethoven), Der fliegende Holländer dan Tristan and Isolde (Richard Wagner), Salome dan Ariadne auf Naxos (Richard Strauss).

Salah satu gaya khas yang kerap ditemukan dalam mahakarya Berksoy adalah Kader Çizgisi atau Garis Takdir. Sederet lukisan yang dipajang dalam gaya ini seakan-akan disatukan atau “diikat” oleh satu garis horizontal. Di setiap bingkai lukisan, garis tersebut kerap “memutus” bagian kepala atau tubuh bagian atas dengan tubuh bagian bawah pada figur yang dilukis.
Dapat dijumpai pula lukisan yang menggambarkan sosok Berksoy kecil dengan sang ibu, Fatma Saime Hanım.
Fatma Saime Hanım, seorang pelukis, meninggal dunia ketika Berksoy berusia delapan tahun. Kehilangan ini dipandang turut berperan dalam membentuk cara Berksoy memaknai kesepian dan rasa rindu. Proses melukis pada akhirnya juga menjadi semacam katalis bagi Berksoy untuk menjaga sosok terkasih tersebut agar senantiasa hidup dalam kesehariannya.

Pameran Aria of All Colors oleh Semiha Berksoy turut menampilkan beberapa arsip korespondensi surat, rekaman audio aria dan cuplikan video pementasan opera di panggung, poster dan klip film, kostum, serta bentuk karya seni lainnya termasuk lukisan di atas medium kain.
Baca artikel lainnya terkait pameran seni di tautan berikut.
Editor: Dwi Ayuningtyas