diajeng.id - Dalam masyarakat modern, definisi kesuksesan seorang ayah acap kali berpusat pada karier dan pendapatan.
Namun, di balik setiap pintu rumah, ada peran krusial yang sering luput dari sorotan: menjadi suami yang suportif dan mitra yang setara bagi istri, terutama yang sedang berjuang membesarkan anak usia dini.
Beban kerja domestik dan pengasuhan anak tidak pernah mengenal jam kantor. Pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan penuh waktu tanpa akhir pekan.
Lalu, bagaimana para ayah pekerja, baik yang memiliki jadwal formal maupun fleksibel sebagai freelance, menyeimbangkan peran mencari nafkah dengan tanggung jawab di rumah?
Diajeng Tirto menghadirkan tiga sosok suami sekaligus ayah dengan latar belakang pekerjaan formal kantoran dan freelance yang sama-sama memiliki anak usia dini untuk berbagi kisah.
Ketiganya akan memaparkan strategi praktis mereka, mulai dari apa yang dilakukan saat alarm berbunyi hingga apa yang bisa diberikan sebagai bentuk terima kasih.
Melalui testimoni jujur ini, simak pandangan para ayah tentang bagaimana menjadi suami dan ayah suportif sejati, dan betapa besarnya rasa syukur mereka atas pengorbanan dan dedikasi istri yang mengurus rumah dan anak.
Yanto (36 Tahun): Suami Bekerja Full Time yang Prioritaskan Dukungan untuk Istri
Yanto, ayah dari tiga anak yang bungsunya masih berusia 2 tahun 3 bulan, memahami betul bahwa pernikahan dan pengasuhan adalah kerja tim suami dan istri.
Meski bekerja full time sebagai karyawan swasta di sebuah perusahaan, sekaligus freelance yang membuat jadwalnya padat, ia tetap berusaha hadir untuk keluarganya, baik secara fisik maupun emosional.
Lalu, apa saja bentuk bantuan yang dilakukan Yanto di rumah? Ia pun menjawab tanpa ragu: mencuci pakaian dan menyapu.
"Saya memastikan untuk mencuci semua baju yang kotor dari punya saya sendiri, istri dan anak anak. Menyapu, mengepel lantai bagian tertentu (misalnya area makan, ruang tamu) atau merapikan mainan anak sepulang kerja," ujar karyawan swasta yang bekerja di kawasan Sleman, Yogyakarta.
Yanto bercerita, jadwalnya sangat padat. Dari Selasa sampai Jumat, ia harus berangkat bekerja pukul 04.30 karena ada pekerjaan freelance memproduksi konten digital sebelum masuk kantor.
Hanya pada hari Senin dia punya waktu lebih longgar untuk ekstra mengurus anak, "Jadi sebelum berangkat kerja hari Senin, saya yang mengurus anak, dari menyiapkan anak untuk mandi dan menyiapkan seragam sekolahnya."
Walaupun waktunya terbatas, ia tetap ingin memberikan kontribusi nyata, sekecil apa pun itu.
Salah satu cerita yang paling menonjol dari Yanto adalah momen ketika istrinya mulai menangani usaha binatu. dalam rangka mendukung istrinya, ia langsung mengambil alih sebagian besar pekerjaan domestik sepulang kerja.
"Ini adalah momen transisi peran di mana saya mengambil alih beban domestik agar istri bisa mengerjakan tugas laundry. Setelah pulang kerja saya langsung mengambil alih pengawasan anak, mengajaknya bermain, mengawasi anak belajar, serta membantu mengerjakan PR. Membantu menyiapkan makan malam, mencuci piring setelah makan malam, atau memesan makanan jika istri sudah terlalu lelah untuk memasak," jelas Yanto.
Meski begitu, ada juga masa ketika Yanto tidak bisa membantu banyak dalam pekerjaan rumah. Ia tidak menutupi hal itu. Namun untuk menyeimbangkan, ia memastikan istrinya tetap memiliki waktu luang yang berkualitas.
"Jika saya benar-benar tidak bisa berpartisipasi dalam tugas fisik (karena harus produksi konten di luar rumah), maka saya mengasuh anak sepenuhnya di hari libur sehingga istri bisa melakukan pekerjaan lain atau istirahat, atau yang terpenting mendengarkan tanpa menghakimi keluh kesahnya tentang pekerjaan domestik," ucapnya.
Bagi Yanto, dukungan emosional bisa sama berharganya dengan dukungan fisik.
Ketika diminta memberi pandangan tentang kerja ibu rumah tangga, Yanto menjawab dengan tulus dan penuh apresiasi.
Menurut Yanto, pekerjaan ibu rumah tangga adalah pekerjaan paling penting sekaligus paling rumit di dunia, dan paling tanpa libur.
Semua yang istrinya lakukan, tambahnya, adalah investasi terbesar untuk masa depan anak-anak.
"Kamu menciptakan kedamaian dan kebahagiaan di rumah ini, yang tidak bisa digantikan oleh gaji. Terima kasih banyak karena sudah menjadi homemaker yang luar biasa. Saya sangat bersyukur memilikimu," tutup Yanto memuji istrinya.
Dea Anugrah (34 Tahun): Fleksibilitas dan Delegasi, Membeli Waktu untuk Kualitas
Dea Anugrah, seorang ayah di Jakarta yang memiliki satu putra (4,4 tahun), memiliki perspektif yang cukup unik tentang pembagian kerja rumah tangga, yang banyak dipengaruhi oleh fleksibilitas jam kerjanya.
Alih-alih bekerja di kantor dengan jam 9-5 yang kaku, ia sering berangkat sore, memberinya waktu luang yang berharga di pagi hari.
Dea mengakui bahwa di awal pernikahannya dengan Nadya, sang istri, ia cukup sering turun tangan untuk urusan domestik seperti mencuci piring dan mengepel.
Namun, seiring kondisi finansial keluarga menjadi lebih kuat, mereka memilih solusi yang realistis: mempekerjakan Pekerja Rumah Tangga (PRT).
"Sejak ada PRT, mayoritas pekerjaan rumah tangga kami berdua serahkan ke dia. Aku jadi tidak sama sekali (melakukan kerja domestik), karena sudah ada yang mengerjakan," tutur Dea.
Meski pekerjaan domestik berat didelegasikan, keterlibatan Dea dan Nadya dalam pengasuhan anak tetap tinggi.
Sebelum berangkat kantor di siang atau sore hari, Dea memastikan ia terlibat penuh, yakni memandikan dan bermain bersama anak.
Sepulang dari kantor yang jamnya juga fleksibel, fokus utama Dea adalah koneksi emosional.
Ia menghabiskan waktu untuk mengobrol dan bermain bersama putranya.
"Enaknya memang sistemnya bukan yang dibagi kayak jadwal shift-shift-an. Yang memang lagi bisa, ya sudah inisiatif. Kalau misalnya aku lagi meeting malam-malam, Nadya yang handle. Tapi kalau Nadya yang lagi meeting, aku yang handle. Ya begitulah tukar-tukaran."
Saat Diajeng bertanya tentang pandangannya terhadap pekerjaan ibu rumah tangga, Dea memberikan perspektif yang realistis dan cukup kritis, didasari oleh latar belakang ibunya yang merupakan ibu rumah tangga penuh waktu.
Dea sangat menghargai kerja keras ibu rumah tangga yang menurutnya sangat melelahkan, terutama dalam mengurus dan mendidik anak. Namun, ia merasa model peran tunggal, misalnya di ranah domestik saja, pada era ekonomi sekarang tidak ideal.
"Akan sangat mengkhawatirkan ibu rumah tangga yang tidak punya kemampuan mencari uang, terus suaminya meninggal, misalnya. Akan sulit sekali. Sama kayak mengurus domestik, itu skill juga, sebaiknya sama-sama dilatih, supaya bisa lebih mandiri secara finansial," terang Dea.
Bagi Dea, alih-alih memperdebatkan apakah ibu rumah tangga harus digaji, solusinya lebih terletak pada pembagian peran dalam mencari nafkah dan mengurus rumah.
Baginya, tugas domestik yang berat-berat dapat diserahkan kepada PRT, sedangkan tugas parenting dibagi dua secara inisiatif.
Dea menutup pandangannya dengan penekanan kuat, "Aku sangat-sangat mengkhawatirkan orang tidak punya kemampuan mencari uang. Itu saja, sangat berbahaya."
Ini menunjukkan bahwa dukungan finansial paling besar yang ia berikan adalah mendukung istrinya untuk juga memiliki kemampuan dan keamanan finansial pribadi.
Abdul Aziz (41 Tahun): Membagi Pagi dan Apresiasi Tulus untuk Kerja yang Tak Kenal Libur
Aziz memiliki tantangan pembagian peran yang sedikit berbeda, karena istrinya juga bekerja sebagai guru.
Mereka berdua mengurus tiga anak, termasuk satu anak bungsu berusia 3,5 tahun. Dalam rumah tangganya, tidak ada PRT, menjadikan kerja sama mutlak diperlukan.
Karena sang istri harus sudah berangkat mengajar sebelum pukul 07.00 WIB, Aziz mengambil alih "zona waktu kritis" di pagi hari.
Alih-alih mengikuti jadwal kaku, ia fokus menyelesaikan pekerjaan yang belum tuntas oleh istrinya malam sebelumnya, seperti cucian.
Setelah istri dan anak-anak yang lebih besar berangkat pergi, Aziz mengambil alih pengasuhan anak bungsu (3,5 tahun).
Sebelum ia berangkat kantor, ia bertanggung jawab penuh memandikan anak bungsu dan menyiapkan sarapan untuknya, sebelum mengantarnya ke sekolah PAUD.
Sistem jemputan mereka juga fleksibel, tergantung jadwal WFH Aziz.
Jika sedang WFH, ia menjemput pukul 12.00, tetapi jika ia ke kantor, istri yang mengambil alih setelah selesai mengajar sekitar pukul 14.00 WIB.
Mereka benar-benar menerapkan pola saling melengkapi tergantung kebutuhan harian.
Sepulang dari kantor, rutinitas Aziz berpusat pada pemulihan energi dan koneksi keluarga: istirahat, mengobrol santai, dan memastikan kebutuhan makan terpenuhi.
"Kalau tidak sempat masak, biasanya saya keluar lagi untuk beli lauk makan malam. Kita saling melengkapi saja, tergantung kebutuhan," imbuh Aziz.
Aziz menyadari bahwa terkadang ia tidak bisa membantu banyak urusan domestik, terutama setelah pulang dari pekerjaan formal. Bentuk dukungannya di sini bergeser dari fisik menjadi emosional dan apresiasi.
"Kalau saya kebetulan tidak sempat membantu urusan rumah tangga, biasanya support lewat apresiasi atau mendengarkan semua keluhan istri," ujarnya.
Aziz pun memiliki penghargaan yang sangat tinggi terhadap peran seorang ibu rumah tangga. Baginya, pekerjaan ini berada di level yang tidak bisa dibandingkan dengan pekerjaan formal.
"Saya sangat menghargai dan menghormati perempuan yang mengurus rumah tangga karena mereka tidak kenal libur dan lelah. Kalau kita kerja kantoran, setelah jam kerja kita bisa istirahat. Tapi kalau ibu rumah tangga tidak ada libur dan istirahatnya," pungkas Aziz.
Bagi Abdul Aziz, pekerjaan ibu rumah tangga adalah pengabdian yang melebihi hitungan matematis atau gaji.
Ini adalah pekerjaan mulia yang tidak bisa dibayar atau dihitung dengan angka, menjadikannya motivasi utama baginya untuk selalu memberikan dukungan praktis dan emosional di rumah.
Editor: Sekar Kinasih