Menuju konten utama

Baik Bagiku Tak Mesti Baik Bagimu: Seni Membantu Orang Lain

Haruskah kita membantu orang lain sebagaimana kita ingin dibantu? Dalam sejumlah konteks, prinsip tersebut mungkin tidak selalu relevan.

Baik Bagiku Tak Mesti Baik Bagimu: Seni Membantu Orang Lain
Header Diajeng Perlakuan Sama ke Orang Lain. tirto.id/Quita

diajeng.id - Ingat dengan The Golden Rule?

“Perlakukan orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan."

Pepatah yang akrab dalam keseharian ini mengandung pesan moral bahwa kebaikan yang kita berikan pada orang lain akan dibalas dengan kebaikan yang sama untuk kita.

Secara umum, aturan ini mengharuskan kita untuk bersikap ramah, adil, dan penuh empati terhadap sesama.

Meskipun terdengar masuk akal, adakalanya kita dihadapkan pada situasi yang mengharuskan kita merenunginya. Apa prinsip ini berlaku dalam setiap jenis situasi?

Pada titik tertentu, justru muncul pertanyaan penting, apa kita harus selalu membantu orang lain dengan solusi yang cocok pada diri sendiri? Adakah kebijaksanaan lain yang perlu dipertimbangkan?

Di sinilah letak persoalannya. Prinsip The Golden Rule sering membuat kita tanpa sadar tidak mengukur orang lain dengan standar diri sendiri.

Kita berempati dengan cara “kalau aku ada di posisinya, aku mau diperlakukan seperti ini”, tanpa benar-benar bertanya pada orang tersebut apakah yang kita maksud relevan dengan kebutuhannya.

Sebagai manusia dengan keunikan masing-masing, kebutuhan emosional, cara berpikir, dan bentuk dukungan yang kita hargai bisa sangat berbeda.

Perlakukan Orang Lain Sesuai yang Mereka Butuhkan

Menurut artikel di Tiny Buddha, kita sebaiknya memperlakukan orang lain sesuai dengan apa yang mereka butuhkan atau hargai, alih-alih sekadar mengikuti kebutuhan atau preferensi kita sendiri.

Ini juga bukan berarti menuruti semua keinginan tanpa batas, tetapi berusaha memahami apa yang benar-benar mereka hargai, apakah itu didengarkan, diberi ruang, atau justru dibantu menganalisis masalah.

Pendekatan ini mengajak kita melangkah lebih jauh dari sekadar empati menuju pemahaman, dengan menyadari bahwa apa yang bekerja untuk kita belum tentu bekerja untuk orang lain.

Dengan menemui orang di “tempat mereka berada”, relasi pun berpeluang menjadi lebih sehat, bijaksana, dan bermakna.

Apa yang Bisa Kita Lakukan Selain Mengikuti “The Golden Rule”?

Alih-alih otomatis memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan, sebuah artikel dari Harvard Business Review (2022) mengajak kita mengadopsi The New Golden Rule, yaitu memperlakukan orang lain sebagaimana mereka ingin diperlakukan.

Dalam hal penerapannya, ada beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan:

1. Menantang asumsi diri sendiri

Langkah pertama adalah menyadari bahwa empati berbasis diri sering kali berubah menjadi asumsi.

Kesamaan usia, kepribadian, atau latar belakang tidak otomatis berarti kesamaan kebutuhan.

Saat merasa “tahu” apa yang orang lain inginkan, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya, "Apakah ini kebutuhan mereka, atau hanya cerminan preferensiku sendiri"?

Kebiasaan menguji asumsi membantu kita terhindar dari generalisasi yang keliru dan bias personal.

2. Bertanya secara langsung dan mendengarkan

Cara paling akurat untuk mengetahui bagaimana seseorang ingin diperlakukan adalah dengan bertanya, bukan menebak.

Pertanyaan sederhana tentang preferensi komunikasi, waktu yang tepat untuk berdiskusi, atau bentuk dukungan yang dibutuhkan dapat mencegah banyak kesalahpahaman.

Mendengarkan jawaban mereka, tanpa defensif atau pembenaran diri, adalah kunci utama pendekatan ini.

3. Mengungkapkan preferensi diri secara terbuka

Tidak semua orang akan berinisiatif bertanya.

Maka kita juga perlu berani menyampaikan kebutuhan dan preferensi kita sendiri dengan jelas.

Transparansi dua arah membantu mengurangi salah tafsir dan menciptakan ruang dialog yang lebih sehat.

4. Mencari alternatif, bukan memaksakan pilihan

Perbedaan preferensi tidak harus berakhir pada situasi “caraku atau cara mereka”.

Pada tahapan ini, yang ditekankan adalah pentingnya mengganti pola pikir "atau" menjadi "dan".

Ketika memungkinkan, carilah pengaturan yang mengakomodasi kedua belah pihak.

Jika kompromi penuh tidak bisa dicapai, setidaknya temukan titik temu kecil yang saling menguntungkan.

5. Utamakan pemahaman, bukan kemenangan

Inti dari New Golden Rule bukanlah mengalahkan orang lain atau mengorbankan diri sendiri, melainkan membangun relasi yang lebih inklusif.

Dengan rasa ingin tahu, keterbukaan, dan kompromi, kita tidak hanya mengurangi konflik, tapi juga memperkaya cara kita memahami manusia lain.

Simak juga artikel terkait lainnya di tautan berikut ini.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih