Menuju konten utama
Renungan Senja Ramadhan

Menemukan Rasa Cukup di Tengah Lautan Perbandingan

Syukur bukan membandingkan hidup kita dengan mereka yang “lebih buruk” agar kita merasa lebih baik. Syukur menyadari yang ada, tanpa meremehkan orang lain.

Menemukan Rasa Cukup di Tengah Lautan Perbandingan
Header Diajeng Serial Ramadhan: Bersyukur. tirto.id/Quita

diajeng.id - Ketika sedang santai membuka Instagram Story, pernahkah hati dan pikiranmu tiba-tiba jadi tegang?

Kamu lihat teman kuliahmu mengunggah kabar pernikahan. Ada pula yang membagikan promosi jabatan. Lainnya sedang liburan ke luar negeri bersama keluarga, memamerkan rumah baru, atau pencapaian yang tampak begitu rapi dan membanggakan.

Lalu, ada saja semacam bisikan halus di benak, “Kok aku masih di sini-sini saja?”

Perasaan iri, tertinggal, atau tidak cukup baik itu sontak berhamburan. Namun, setelah itu, kamu kembali bertanya-tanya, "Apa ini tandanya aku kurang bersyukur?"

Kenyataannya, kita bukan manusia yang buruk hanya karena sempat membanding-bandingkankan. Kita juga bukan pribadi yang kurang iman hanya karena hati pernah terasa goyah.

Bisa jadi, kita hanya terlalu sering terpapar kehidupan orang lain, terutama pada era digital yang membuat pencapaian siapa pun terasa begitu dekat dan nyata.

Melalui Al Quran, surah Ibrahim ayat 7 menegaskan kuatnya hubungan antara syukur dan bertambahnya nikmat.

Apabila kita mencoba membacanya dari sudut pandang lebih personal, ayat ini juga membicarakan tentang cara kerja hati, bahwa bersyukur adalah latihan untuk lebih peka memerhatikan apa yang sudah ada.

Syukur, dengan begitu, bukan sekadar ucapan di bibir. Bersyukur membantu kita melatih fokus dan membentuk kepekaan batin.

Apakah Syukur Selalu Baik?

Dalam psikologi positif, seperti dijelaskan laman The Guardian, rasa syukur umumnya memang punya peran yang baik.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa berfokus pada hal-hal yang kita hargai bisa meningkatkan kesejahteraan, membuat kita merasa lebih terhubung, dan menurunkan stres.

Itulah sebabnya praktik seperti menulis jurnal syukur sering direkomendasikan sebagai strategi sederhana untuk memperbaiki suasana hati dan mengasah perhatian pada sisi baik kehidupan.

Menariknya, syukur tidak selalu baik tanpa dilengkapi dengan konteks yang tepat sehingga berisiko kontraproduktif ketika dipaksakan.

Konsep yang sering disebut “toxic gratitude” muncul ketika kita merasa harus bersyukur meskipun sedang terluka, diperlakukan tidak adil, atau masih bergulat dengan emosi kuat seperti kesedihan, kecewa, atau marah.

Dalam situasi seperti ini, dorongan untuk selalu “melihat sisi positif” dapat membuat orang menekan pengalaman emosional yang sebenarnya valid dan penting untuk diproses.

Bahaya lain dari syukur yang dipaksakan adalah kecenderungan untuk menutup rapat masalah yang sesungguhnya perlu perhatian.

Kalau kita terlalu menekan diri agar selalu positif, kita berisiko memendam konflik batin atau ketidakpuasan. Padahal, yang diperlukan adalah pengakuan dan penyelesaian.

Syukur yang sehat bukanlah menyangkal masalah, tetapi melihat kebaikan bersamaan dengan kenyataan yang sulit.

Syukur yang sehat memberi ruang bagi dua hal sekaligus, yaitu menerima kenyataan apa adanya termasuk penderitaan atau kegagalan, dan tetap menjaga harapan serta apresiasi terhadap hal-hal baik yang nyata.

Artinya, kita tidak menolak emosi negatif. Kita justru mengizinkan gelombang negatif tersebut hadir, lalu memilih untuk melihat sisi lain yang memberi kekuatan. Dalam cara ini, syukur menjadi latihan hati yang penuh kesadaran, alih-alih sekadar kewajiban untuk selalu merasa “cukup.”

Kaitan Syukur dengan Kecemasan dan Depresi

Rasa syukur juga punya hubungan yang menarik dengan kecemasan dan depresi. Alih-alih “menghapus” masalah, syukur lebih erat kaitannya dengan upaya menggeser perhatian kita.

Menurut organisasi kesehatan mental (ADAA) dalam artikel berjudul "Gratitude - A Mental Health Game Changer", salah satu pola yang memperkuat kecemasan dan depresi adalah kebiasaan mengulang pikiran negatif atau kekhawatiran tentang masa depan.

Syukur bekerja sebagai respons bersaing.

Ketika kita secara sadar mencari hal-hal untuk diapresiasi, kita mengajak pikiran kembali ke saat ini dan mengurangi pola pikiran negatif yang berulang. Langkah tersebut secara alami dapat menurunkan stres dan kecemasan.

Selain itu, praktik syukur juga membantu kita fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan.

Dengan memerhatikan aspek kehidupan yang nyata dan positif, sekecil apa pun, kita memberi otak sinyal bahwa ada elemen yang stabil dan berharga dalam hidup kita.

Kesadaran tersebut akhirnya dapat membantu memperbaiki mood, menumbuhkan ketahanan emosional, dan memberi ruang untuk merasa aman meski tantangan tetap ada.

Tips Melatih Rasa Syukur

Salah satu cara paling sederhana untuk memulai latihan bersyukur sehari-hari, berdasarkan saran dari Grateful.org, adalah dengan mencatat tiga hal kecil yang menurutmu patut disyukuri setiap harinya.

Mulailah dengan hal-hal yang biasa saja, seperti udara pagi yang segar atau matahari yang cerah, nikmat makanan hari ini, atau tubuh yang kuat menjalani aktivitas dan olahraga.

Tuliskan itu semua di jurnal atau buku harian, pada jam atau waktu yang sama setiap hari, misalnya saat bangun atau sebelum tidur. Rutinitas ini membantu melatih perhatianmu untuk melihat keberkahan kecil yang sering terlewat.

Selain itu, sediakan momen untuk mengucapkan terima kasih secara sadar pada orang-orang telah memberikan bantuan, sekecil apapun itu. Mereka akan merasa dihargai, dan kamu pun akan terus diingatkan bahwa bahwa kebaikan itu nyata dan berarti.

Selama aktivitas sehari-hari seperti makan, cobalah hadir penuh tanpa gangguan smartphone. Nikmati rasa, aroma, dan pengalaman momen tersebut. Dengan begitu, mata batinmu akan semakin terbuka terhadap proses yang tengah berlangsung.

Agar latihan ini tidak menjadi rutinitas kosong, batasi konsumsi media sosial yang sering memicu perbandingan. Alihkan energimu untuk menyadari bantuan-bantuan nyata yang kamu terima dari orang lain atau keadaan sekitarmu.

Di tengah ritme hidup yang serba cepat, Ramadhan mengajak kita untuk memperlambat langkah, seperti makan lebih pelan, berbicara lebih hati-hati, memberi ruang bagi hening, dan menjalani aktivitas dengan lebih sadar.

Dalam perubahan ritme itu, kita pun bisa belajar bahwa banyak hal yang selama ini terasa biasa ternyata menyimpan makna mendalam.

Simak juga artikel lainnya terkait Ramadhan di sini.

Baca juga artikel terkait RAMADHAN 2026 atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih