diajeng.id - Pada satu momen dalam kehidupan ini, kamu tentu pernah merasa cemas setiap kali membuka notifikasi berita di smartphone.
Tak sedikit dari kita yang menyambut 2026 dengan rentetan kabar mengkhawatirkan.
Mulai dari Presiden Prabowo yang menyinggung kekhawatiran dunia akan potensi Perang Dunia III akibat konflik geopolitik yang meluas, ekonomi global yang diperkirakan lesu, hingga tantangan di pasar kerja yang memungkinkan AI mengubah cara kita bekerja.
Di tengah situasi yang serba tak pasti ini, wajar jika kita merasa kewalahan. Namun, di antara pesimisme yang melumpuhkan dan optimisme buta yang naif, ada sebuah jalan tengah yang bisa kita ambil: menjadi seorang optimis-realis.
Apa Itu Optimisme Realistis?
Optimisme realistis, menurut situs Becoming Better, bukanlah sekadar "berpikir positif" atau mengabaikan masalah yang ada. Menurut ahli, optimisme realistis adalah spektrum cara berpikir tentang masa depan.
Sebelumnya, kita mungkin sudah mendengar tentang pesimisme realistis, pesimisme yang cenderung memberikan beban berlebih pada kemungkinan buruk sehingga kita jadi takut mengambil risiko. Ada pula optimisme yang tidak realistis, yaitu ketika kita percaya bahwa hal baik akan datang tanpa usaha.
Nah, apabila kita adalah seorang optimis-realistis, itu artinya kita berdiri tepat di tengah-tengah posisi pesimisme realistis dan optimisme tidak realistis.
Dengan menjadi seorang yang optimis-realis, kita berusaha melakukan penilaian yang akurat terhadap realitas, mengakui adanya kesulitan, tapi pada waktu sama tetap fokus pada kemungkinan solusi.
Orang yang optimis-realis tidak melihat hambatan sebagai tembok mati, melainkan tantangan yang bisa dicarikan jalan keluarnya melalui kerja keras dan strategi yang tepat.
Menjadi Seorang Optimis-Realis
Mengubah pola pikir memang tidak terjadi dalam semalam.
Menurut konselor profesional bersertifikat Jonathan F. Anderson di situs Centre for Optimism, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk melatih cara berpikir agar menjadi optimis sekaligus realistis.
1. Mulailah dengan Penerimaan (Acceptance)
Langkah pertama bukan langsung tersenyum, melainkan mengakui realitas situasi yang sedang terjadi. Kita perlu sadar akan apa yang terjadi di dunia sebelum bisa menggeser fokus ke aspek yang lebih positif.
2. Fokus pada Apa yang Bisa Kamu Kendalikan
Di tengah isu global seperti perang atau inflasi, sering kali kita merasa tidak berdaya. Kuncinya adalah mengidentifikasi area di mana kamu memiliki pengaruh.Alih-alih mencemaskan hal yang di luar kendali, konsentrasikan energi pada tindakan nyata yang bisa kamu lakukan hari ini.
3. Pecah Tantangan Menjadi Langkah Kecil
Masalah besar sering kali tampak melumpuhkan. Cobalah untuk memecah tantangan tersebut menjadi tugas-tugas kecil yang lebih mudah dikelola.Kemenangan-kemenangan kecil ini akan membangun momentum dan memperkuat pola pikir optimis.
4. Miliki Growth Mindset (Mentalitas Bertumbuh)
Seorang optimis-realis percaya pada kapasitas mereka untuk tumbuh. Mereka tahu bahwa perjuangan membuat seseorang lebih kuat.Menggunakan kata "belum", seperti dalam kalimat, "Aku belum bisa mengerjakannya," dapat membuka ruang bagi kemungkinan pengembangan diri di masa depan.
5. Komitmen pada Proses, Bukan Hanya Hasil
Kita sering kali merasa gagal karena terlalu fokus pada hasil akhir yang tidak pasti.
Maka, ayo coba belajar untuk berkomitmen pada prosesnya, semisal dengan membangun kebiasaan baru atau mempelajari keterampilan teknologi di masa depan, kemajuan datang dari usaha yang sabar, gigih, dan strategis dalam jangka panjang.
6. Praktikkan Rasa Syukur (Gratitude)
Secara rutin merefleksikan apa yang kamu syukuri dapat membantu menggeser perspektif untuk mengenali aspek positif hidup, bahkan di masa sulit.Ini bukan berarti melupakan masalah, tetapi membantu kita menemukan solusi dengan lebih efisien.
Navigasi Masa Depan dengan Harapan Berdasar
Menjadi optimis-realis adalah tentang memiliki jangkar di dalam diri.
Dengan tidak menggantungkan seluruh harga diri pada validasi eksternal atau kondisi dunia yang fluktuatif, kita tetap bisa berdaya di tengah ketidaknyamanan.
Pada akhirnya, optimisme realistis bisa jadi alat yang membekali kita untuk menghadapi masalah secara konstruktif.
Dengan mengakui kesulitan dan aktif mencari solusi, kita tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga membentuk ketahanan mental untuk menyongsong hari esok yang lebih bermakna.
Simak juga artikel terkait otak dan pola pikir manusia di tautan ini.
Editor: Sekar Kinasih