diajeng.id - Tote bag. Satu cup matcha.
Keychain—labubu jadi pilihan paling bijak.
Novel karya Sally Rooney, Sylvia Plath, atau bell hooks.
Playlist lagu Mitski, Clairo, Laufey, serta beabadoobee.
Sosok tersebut bakal kelihatan lebih bagus lagi kalau pakai earphone kabel ke mana pun bepergian– termasuk saat membaca buku.
Ya, cowok-cowok performatif akan mengokupasi kafe atau ruang publik dengan bacaan di tangan kanan dan minuman matcha di tangan kiri sebagai statement bahwa mereka intelektual dan berpikiran terbuka.
Dari konteks pemahaman komunal, performative male adalah individu yang sensitif, memiliki kemampuan mengelola perasaan sendiri, pendengar yang baik, mendukung kesetaraan dalam hubungan, dan memiliki pengetahuan, secara terbatas maupun luas, tentang teori-teori feminisme.
Tidak seperti cowok maskulin yang cenderung enggan mengungkapkan sisi kerapuhan hatinya, performative male tidak segan menulis curhatan di jurnal atau buku harian. Mereka juga senang berbagi cerita-cerita personal melalui unggahan di media sosial.
Cowok performatif tidak tampil dengan aura intimidatif seperti alpha male.
Sebaliknya, performative male dengan sengaja menghindari penampilan alpha male yang kerap digambarkan dingin, berjarak, dan dalam beberapa contoh juga kekar berotot.
Nilai-nilai maskulin membentuk laki-laki dari generasi ke generasi. Ketika ada yang memutuskan untuk keluar dari standar maskulinitas, bukan tidak mungkin dia akan menjadi bahan perundungan dari sesama kelompoknya.
Pola ini terlihat saat, misalnya, seorang laki-laki membagikan pengalamannya sebagai korban pelecehan seksual di transportasi umum.
Saat sesama perempuan berlomba-lomba memberikan ruang aman bagi korban, aku pernah dengar sesama laki-laki justru melempar kritik karena tidak menghujamkan bogem mentah kepada sang pelaku.
“Cowok kok nangis, bro!”
“Kenapa gak hajar aja orangnya di tempat?”
Aku sering menemukan komentar-komentar semacam itu jika si korban adalah laki-laki.
Fenomena yang terus berulang ini membuat aku, dan mungkin sebagian perempuan lain di luar sana, merasa jengah dengan sikap dominan yang kerap ditunjukan laki-laki dalam setiap kejadian dan momen.
Mereka justru digambarkan seperti Timothée Chalamet ketika memerankan Laurie di film The Little Women (2019) atau James McAvoy sebagai Robbie Turner di film Atonement (2007).
Dalam pengamatanku, kedua tokoh itu adalah yearners—para pendamba—yang tidak bersikap agresif kepada perempuan yang dicintai, bahkan jika yang mereka terima adalah penolakan.
Nah, performative male seolah-olah berupaya menyingkirkan simbol-simbol maskulinitas yang kerap membuat perempuan tidak nyaman.
Sebagai gantinya, cowok performatif memilih mengenakan barang-barang yang tengah tren di kalangan perempuan sebagai aksesori keseharian.
Sekilas, performative male adalah sosok laki-laki yang diidamkan oleh banyak perempuan. Ia pendengar dan pencerita yang baik. Singkatnya, performative male berpotensi dan ideal untuk dijadikan teman diskusi maupun kekasih.
@soyouwannabefriends Send this to your performative friends who should be in the next Performative Male Contest in Jakarta
♬ Sofia - Clairo
Di balik itu semua, kata "performative" tidak disematkan dalam tren baru ini tanpa sebab.
Penting diingat, istilah “performatif” merujuk pada sebuah tindakan yang dilakukan sebagai bagian dari pertunjukan dalam rangka meningkatkan citra diri.
They are here just to perform. Siapa pemirsanya? Tak lain ya perempuan.
Maka dari itu, dalam beberapa kasus atau kejadian, julukan cowok performatif yang populer karena citra intelek, rapi, dan menggemaskan itu menjadi cara efektif untuk menarik perhatian lawan jenis.
Coba kita pikirkan dalam-dalam kritik yang pernah dilayangkan jurnalis Ekta Sinha berikut.
“Cowok performatif berbahaya bukan karena ia menyukai musik indie dan rutin pakai skincare. Ia berbahaya karena menggunakan kerentanan (vulnerability) sebagai senjata. Sikap soft boy-nya bukan tentang menjadi sosok yang benar-benar terbuka secara emosional, melainkan tentang menjadi sosok yang ‘mudah diterima’ secara emosional.”
Apa yang hilang dalam diri performative male adalah kemampuan untuk benar-benar “belajar dari perempuan” karena selama ini yang dilakukan adalah “belajar tentang perempuan”.
Menenteng dan membaca buku yang ditulis oleh penulis perempuan tidak lantas menjadikan seseorang sebagai feminis.
Membicarakan hak-hak perempuan tidak serta merta membuat seseorang memahami kehidupan kelompok gender kelas dua ini, atau seperti ditegaskan filsuf feminis Simone de Beauvoir, the second sex.
Demikian tutur Caitiln Scott saat membagikan momen perjumpaan dengan mereka yang katanya feminis.
Percayalah, apa yang kisahkan oleh Caitiln adalah pengalaman universal yang dialami oleh banyak perempuan.
Sebanyak apapun bacaan yang dilahap oleh perempuan, masih ada beberapa laki-laki yang acap kali dengan sadar meremehkan.
Seluas apapun pengetahuan yang berhasil perempuan rengkuh, tak jarang pula ada laki-laki yang memilih untuk berujar bahwa kami tidak pernah cukup pintar.
Para penulis yang disebut dalam paragraf awal tulisan ini punya arti lebih besar bagi kita, perempuan.
Buku-buku mereka membantu memahami kerentanan diri sendiri serta membuat kita terkoneksi dengan perempuan dan kelompok-kelompok marginal di berbagai belahan dunia.
Maka dari itu, bagiku, menggunakan buku-buku sebagai “dekorasi” untuk sebuah persona terdengar nyaris seperti ejekan.
Akan jadi lebih problematik lagi apabila sosok laki-laki performatif ini ternyata punya rekam jejak yang dipertanyakan dalam berkomentar terkait komunitas marginal lainnya.
Sekali lagi, aku tidak punya masalah dengan laki-laki yang punya selera fesyen, pilihan aksesori tertentu, atau bacaan-bacaan yang dapat mencerminkan pribadi dirinya yang sesungguhnya.
Performative male jadi masalah karena dalam upaya untuk menarik perhatian perempuan, laki-laki mengadopsi konsep feminis hanya untuk membiarkan dirinya terbawa arus yang mempertahankan pola pikir remeh terhadap perempuan.
Penulis: Erika Rizqi
Editor: Sekar Kinasih