Menuju konten utama

Calon Pasangan Punya Red Flag? Pertimbangkan Ulang Sebelum Nikah

Pernikahan adalah komitmen seumur hidup. Mengabaikan sinyal-sinyal kritis dari calon pasangan atau hubungan itu sendiri bisa berujung fatal.

Calon Pasangan Punya Red Flag? Pertimbangkan Ulang Sebelum Nikah
Header Diajeng Red Flag. tirto.id/Quita

diajeng.id - Pernah nonton film Hollywood lawas Runaway Bride?

Film yang dibintangi Julia Roberts ini mengisahkan seorang perempuan bernama Maggie Carpenter yang berulang kali melarikan diri dari pernikahannya sendiri, meninggalkan altar dan calon suaminya dalam kebingungan.

Adegan ikonik tersebut, meski terasa dramatis dan komikal, bukanlah sekadar fantasi layar lebar.

Dalam kehidupan nyata, banyak pasangan menghadapi keraguan besar tepat menjelang hari-H, bahkan ada yang memutuskan untuk membatalkan akad nikah.

Mengapa ini bisa terjadi?

Salah satu penjelasannya, jauh sebelum janji suci diucapkan, ada Red Flag alias pertanda bahaya yang muncul dan tidak boleh diabaikan.

Pernikahan adalah komitmen seumur hidup. Mengabaikan sinyal-sinyal kritis dari calon pasangan atau hubungan itu sendiri bisa berujung pada penyesalan besar.

Oleh karena itu, sebelum naik ke pelaminan, sebaiknya kenali lebih dalam, pertanda apa saja yang menunjukkan bahwa calon suami atau istri mempunyai red flag, agar tidak menyesal kemudian hari.

Dikutip Psychology Today, penelitian Monk dkk dalam Journal of Social and Personal Relationships (2020) menyoroti bagaimana banyak orang tidak benar-benar memilih untuk menikah, melainkan terseret oleh inersia hubungan.

Inersia hubungan merujuk pada serangkaian transisi, seperti tinggal bersama atau bertunangan, yang semakin menambah “beban konsekuensi” jika pasangan tersebut ingin mundur.

Semakin jauh melangkah, semakin berat berhenti. Meski begitu, pada waktu sama, tanda bahaya sudah berkedip seperti lampu peringatan di dashboard yang lama diabaikan.

Permodelan dinamika relasi menunjukkan, masalah yang muncul sebelum menikah jarang menguap begitu saja setelah pesta usai. Kecemburuan, konflik, dusta kecil yang berulang, biasanya tumbuh, bukan hilang.

Dalam rangka memahami bagaimana seseorang akhirnya berani membatalkan pernikahan, Monk dan tim mewawancarai 30 individu di Amerika Serikat yang membatalkan pertunangan.

Dari analisis kualitatif yang mendalam, mengemuka satu mekanisme penting: visualisasi masa depan.

Orang yang berhasil menarik rem sebelum “tergelincir" umumnya membayangkan tiga skenario: tetap menikah, menikah dengan orang lain, atau menjalani hidup sendiri.

Ketika bayangan masa depan bersama pasangan terasa penuh tekanan, ketidaknyamanan itu justru membuka ruang berpikir jernih.

Visualisasi memberi jeda, urat napas, untuk menilai red flag yang selama ini disangkal, sekaligus menghadapi hambatan emosional dan sosial untuk mundur.

Ada banyak faktor yang membuat orang tetap bertahan dalam hubungan yang buruk: kenyamanan, sudah terlalu lama "investasi emosional", adanya aset bersama, hingga ketakutan menghadapi kekacauan setelah putus.

Bagi perempuan, tekanan budaya dan empati berlebih pada perasaan pasangan sering membuat mereka menunda keputusan sulit.

Karena itu, banyak perempuan dalam studi Monk dkk berupaya mencari cara memperlambat situasi, seperti menunda tanggal nikah, mengambil jarak, atau menciptakan ruang hening agar mereka bisa benar-benar melihat masa depan apa yang sedang mereka masuki.

Langkah ini bukan drama, melainkan strategi bertahan hidup.

Di samping itu, memang betul, sebagian besar hubungan para partisipan sudah lama menunjukkan pola tak sehat, menjauh secara emosional, kebohongan, manipulasi, perselingkuhan, kekerasan, atau pola penghindaran yang lebih halus, seperti pasangan yang selalu menghilang ke dunia gim saat tanggung jawab nyata datang mengetuk.

Tanda-Tanda Red Flag Jelang Pernikahan

Berikut beberapa hal penting, dilansir dari VeryWell Mind, agar kamu dapat mengenali tanda-tanda red flag sebelum melaju ke jenjang pernikahan:

1. Keraguan yang Tidak Mereda

Kecemasan yang normal biasanya berkaitan dengan hal-hal teknis, apakah siap, apakah acaranya akan berjalan mulus.

Namun, apabila kegelisahan yang muncul justru mengarah pada pertanyaan tentang hubungannya, alih-alih teknis acara, itu menandakan problem lebih dalam.

Keraguan yang semakin kuat, alih-alih mereda, mengisyaratkan bahwa ada sesuatu dalam hubungan yang tidak terasa aman.

2. Menikah Karena Ekspektasi, Bukan Keyakinan

Jika dorongan menikah datang dari tekanan keluarga, usia, atau sudah terlalu lama bersama, keputusan itu bisa menjadi autopilot sosial.

Pernikahan idealnya berangkat dari cinta yang nyata dan relevan pada saat ini, alih-alih nostalgia masa lalu atau harapan memaksakan masa depan.

3. Perencanaan Pernikahan Membuka Retakan Lama

Perselisihan logistik adalah hal biasa.

Yang perlu diwaspadai adalah ketika konflik terus membesar dan tak pernah selesai, atau tersingkapnya perbedaan nilai, gaya hidup, dan cara menghadapi stres yang tidak kompatibel.

Meski tidak selalu, gesekan-gesekan yang muncul selama merencanakan pernikahan bisa jadi semacam cermin yang memantulkan masalah lama yang selama ini ditahan.

4. Keraguan untuk Tumbuh Bersama

Kadang-kadang, hubungan terlihat harmonis di permukaan. Pada waktu sama, ada suara kecil yang mempertanyakan apakah arah hidup benar-benar sejalan.

Ketidakcocokan, minat, ritme hidup, aspirasi, biasanya bukan hal baru; hanya saja, momentum pertunangan sering membuatnya tenggelam. Jika pertanyaan tentang masa depan bersama terus muncul, kamu layak memberinya perhatian ekstra.

5. Intuisi Mengingatkan untuk Menginjak Rem

Saat semua tekanan eksternal dihilangkan, tamu, keluarga, biaya, dan kamu tetap merasa tidak yakin, itu bukan kecemasan biasa.

Itu adalah alarm batin yang meminta perhatian. Intuisi sering bertindak sebagai radar awal terhadap tanda bahaya yang belum berani diakui secara sadar.

6. Tidak Lagi Merasakan Kebahagiaan

Pernikahan seharusnya menimbulkan rasa antusias, bukan hanya daftar tugas yang menguras jiwa.

Jika prosesnya terasa berat, menyedihkan, atau justru menekan, bisa jadi bukan acaranya yang salah, melainkan hubungan itu sendiri yang kehilangan daya hidupnya.

Pada akhirnya, jika memang berat untuk membatalkan pernikahan, kamu juga bisa menyusun dan menjadwalkan ulang rencananya.

Yang perlu diingat adalah, kamu juga perlu bahagia seperti kisah di negeri dongeng, meskipun itu berarti harus menunggu.

Seperti mengutip pernyataan Amanda Luterman, seorang psikoterapis spesialis seksualitas di Vogue, "Kadang-kadang, menunda pernikahan adalah hal terbaik yang bisa dilakukan saat pasangan sedang berdamai dengan masalah yang menyakitkan."

Akan tiba waktu yang tepat, ketika kamu sepenuhnya bisa fokus menciptakan hari yang bermakna dan menyenangkan untuk menyambut pernikahan impian.

Jika masih ingin membaca artikel lainnya seputar hubungan atau relationship, kamu bisa melanjutkannya dengan mengklik tautan ini.

Baca juga artikel terkait RED FLAG atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih