Menuju konten utama
Belajar Berempati

Cara Melatih Empati: Ubah Hasrat Berkuasa Jadi Rasa Peduli

Empati adalah kemampuan memahami perasaan, pikiran, dan pengalaman orang lain seolah-olah kita sendiri mengalaminya. Terdengar sulit? Tenang, bisa dilatih.

Cara Melatih Empati: Ubah Hasrat Berkuasa Jadi Rasa Peduli
Header Diajeng Cara Melatih Empati. tirto.id/Quita

diajeng.id - Empati acap kali terdengar sebagai kata indah, tetapi jarang sungguh-sungguh dipraktikkan, apalagi oleh mereka yang dipercaya memegang amanah publik.

Dalam masyarakat yang majemuk, kita semua, terkhusus pejabat, idealnya dapat berperilaku lebih baik, kooperatif, dan toleran terhadap orang lain.

Banyak orang masih bertanya-tanya, apa itu empati? Mengapa empati begitu penting dalam kehidupan sosial maupun politik?

Sederhananya, empati adalah kemampuan untuk memahami perasaan, pikiran, dan pengalaman orang lain seolah-olah kita sendiri yang mengalaminya.

Secara umum, Karina Schumann, peneliti APA sekaligus profesor psikologi sosial di University of Pittsburg menyebutkan, empati adalah prediktor kuat bagi perilaku positif yang bermanfaat bagi masyarakat, individu, dan hubungan.

Tanpa empati, komunikasi hanya sebatas kata, bukan jembatan yang menghubungkan hati.

Perbedaan Empati dan Simpati

Banyak yang masih mencampuradukkan antara simpati dan empati.

Perbedaan simpati dan empati terletak pada kedalaman rasa; simpati sekadar ikut merasa iba atau kasihan, sementara empati menuntut keterlibatan yang lebih dalam mencoba benar-benar merasakan dari sudut pandang orang lain.

Di sinilah bedanya, empati bukan hanya soal merasa, tapi juga soal mengerti dan kemudian bertindak lebih bijak.

Seperti dijelaskan oleh Jamil Zaki, peneliti empati dan psikolog dari Stanford University yang dipublikasikan di Economist, empati merupakan lem atau "perekat psikologis" yang menghubungkan orang-orang dan menjadi dasar kerja sama dan kebaikan.

Dalam konteks wakil rakyat atau pemimpin publik, perbedaan empati dan simpati menjadi krusial. Simpati saja tidak cukup ketika masyarakat menghadapi krisis; rakyat tidak hanya butuh “turut prihatin” atau kata-kata manis di depan kamera.

Mereka membutuhkan kebijakan yang lahir dari pemahaman nyata tentang penderitaan dan kebutuhan mereka.

Dan itu hanya mungkin jika para pemimpin sungguh-sungguh berlatih empati dengan mendengar, memahami, dan menempatkan diri di posisi rakyatnya.

Upaya dan Cara Melatih Empati

Dikutip dari situs American Psychological Association (APA), ada berbagai cara yang bisa dilakukan untuk melatih empati. Diajeng telah merangkumnya di bawah ini:

1. Pahami bahwa empati bukan sekadar ikut merasakan

Empati adalah kemampuan untuk memahami perasaan orang lain tanpa harus menanggung beban emosinya sepenuhnya.

Empati dapat menjadi keterampilan yang melelahkan jika tidak dilakukan dengan benar.

Mengidentifikasi diri secara berlebihan dengan emosi orang lain dapat menimbulkan stres, menyebabkan respons stres kardiovaskular serupa dengan yang kamu alami dalam situasi yang sama menyakitkan atau mengancam.

Oleh karena itu, lebih baik kita bisa hadir sebagai orang yang memberikan dukungan, alih-alih korban kedua yang ikut terseret arus stres.

2. Bedakan simpati, empati, dan belas kasih

Simpati membuat kita merasa kasihan, empati mengajak masuk ke sudut pandang orang lain, sementara belas kasih mendorong kita bertindak nyata.

Perspektif yang berorientasi pada orang lain dapat menghasilkan kepedulian empati, yang juga dikenal sebagai belas kasihan, yang dapat dilihat sebagai respons emosional terhadap proses kognitif.

Emosi itulah yang mungkin memicu perilaku membantu. Melatih empati berarti mengubah rasa menjadi energi untuk membantu.

3. Kembangkan pola pikir bahwa empati bisa dilatih

Empati bukan sifat bawaan yang statis.

Penelitian yang dilakukan John Dovidio, PhD dari Yale University menunjukkan bahwa orang yang percaya empati bisa berkembang akan lebih berusaha memahami orang lain, bahkan ketika berbeda latar belakang atau pandangan.

Penting untuk merenungkan perasaan atau pengalaman orang lain tanpa harus merasakan hal yang sama.

“Ini tentang menempatkan dirimu pada peran yang tepat. Tujuannya bukan untuk menjadi penderita, tetapi untuk menjadi pendengar yang baik,” kata Dovidio.

4. Terbuka pada perbedaan dan pengalaman baru

Membaca buku, menonton film, atau berinteraksi langsung dengan budaya lain bisa memperluas perspektif, serta dapat memberikan latar belakang untuk memahami sudut pandang orang lain.

Dengan memberi ruang untuk pengalaman orang lain, kita juga belajar melihat dunia dari kacamata yang berbeda.

5. Gunakan cerita sebagai latihan empati

Membaca novel, menonton teater, atau menyelami serial dengan karakter kuat bisa membantu kita memahami motivasi dan perasaan orang lain.

Untuk memahami cerita, kita harus pula memahami karakter, motivasi, interaksi, reaksi, dan tujuan orang lain.

Mungkin saat memahami cerita, kita juga dapat meningkatkan kemampuan untuk memahami orang sungguhan di dunia nyata pada saat yang sama.

Latihan ini akan membuat kita terbiasa menerima perspektif berbeda tanpa merasa terancam.

6. Bangun koneksi lewat sentuhan manusiawi

Kontak mata, senyuman tulus, atau sentuhan ringan dapat memicu hormon oksitosin yang memperkuat rasa terhubung. Saat ada rasa aman, empati lebih mudah tumbuh dan mengalir.

Kuncinya, berdasarkan penelitian Bianca Jones Marlin, PhD, ahli saraf dan dosen psikologi Columbia University, kedua belah pihak merasa terhubung dan tidak terancam. Untuk mengatasi hal itu, maka sebaiknya lakukan pendekatan yang tenang tetapi bersifat langsung.

7. Cari kesamaan, bukan hanya fokus pada perbedaan

Bahkan dengan orang yang pandangannya bertolak belakang, selalu ada titik temu, misalnya keluarga, pekerjaan, atau hobi. Menemukan identitas bersama membuat kita lebih mudah memahami dan peduli.

Contoh lainnya, mungkin kamu dan tetangga memiliki ideologi politik yang berlawanan, tetapi anak-anak kalian usianya sama dan bersekolah di tempat yang sama. Coba manfaatkan kesamaan itu untuk menciptakan empati yang lebih besar.

8. Belajar bertanya dengan tulus

Alih-alih menebak perasaan orang lain, tunjukkan rasa ingin tahu. Ajukan pertanyaan terbuka, dengarkan tanpa menghakimi, dan perhatikan isyarat nonverbal. Rasa ingin tahu adalah jembatan menuju pemahaman yang lebih dalam.

Membaca pikiran orang lain tidak selalu menjadi cara empati bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Ini lebih tentang berusaha secara aktif untuk memahami sudut pandang seseorang.

9. Kenali hambatan empati pribadi

Penelitian Karina Schumann menunjukkan bahwa setiap orang memiliki hambatan empati, atau area di mana sulit untuk menunjukkan empati.

Untuk mengatasi hambatan ini dalam perilaku prososial, Schumann menyarankan untuk memerhatikan pola dan fokus pada area yang kamu rasa sulit terhubung dengan orang lain dan memahami pengalaman mereka.

Misalnya dengan orang yang selalu negatif atau berbeda pandangan tajam. Justru di situ letak latihannya, usahakan mendengarkan tanpa menyela, memberi ruang, lalu merefleksikan apa yang kita pelajari.

10. Latih kerendahan hati dan ragukan asumsi sendiri

Empati butuh keberanian untuk berhenti menghakimi cepat-cepat. Alih-alih langsung menilai, coba tanyakan, “Apa lagi yang mungkin terjadi di balik sikap orang ini?” Keraguan pada asumsi pribadi membuka ruang untuk pemahaman yang lebih luas.

Baca juga artikel menarik lainnya yang berkaitan dengan pengembangan diri dan kesehatan mental di tautan ini.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih