Menuju konten utama

Cewek Black Cat, Cowok Golden Retriever: Pasangan Paling Ideal?

Meski terdengar meyakinkan, teori yang dipopulerkan Anna Kristina di TikTok ini tidak dilandasi ilmu psikologi atau penelitian sahih.

Cewek Black Cat, Cowok Golden Retriever: Pasangan Paling Ideal?
Header Diajeng Cewek Kucing Cowok Golden Retriever. tirto.id/Quita

diajeng.id - Tom Holland adalah “Golden Retriever Boyfriend”, sedangkan Zendaya merupakan perwujudan “Black Cat Girlfriend”.

Begitu juga dengan pasangan Rihanna dan A$AP Rocky, serta Kylie Jenner dan Timothée Chalamet.

Jangan lupa untuk mengikutsertakan sejoli Dua Lipa dan Callum Turner.

Siapa yang menyematkan label “Black Cat Girlfriend” dan “Golden Retriever Boyfriend” kepada jajaran artis tersebut?



Tidak lain Anna Kristina, seorang TikToker yang mengaku sebagai pencipta “Black Cat Theory”.

Sejak 2023, Anna Kristina menjelaskan dinamika hubungan “Black Cat Girlfriend” dan “Golden Retriever Boyfriend” lewat akun TikTok.

Video-videonya kelak menjadi viral dan pada akhirnya banyak digunakan oleh netizen untuk mengklasifikasikan jenis hubungan yang tengah dijalani oleh artis.

Menurut Kristina, dikutip ulang dari situs berita Australia News, konsep paling ideal dalam hubungan adalah jika pihak perempuan memiliki sifat seperti kucing hitam.



Ya, kucing hitam digambarkan sebagai makhluk misterius, dingin, introvert, dan juga memiliki aura mematikan (femme fatale).

Selain itu, Kristina juga beberapa kali menghubungkan karakteristik kucing hitam dengan dark feminine energy, sebuah konsep spiritualitas New Age yang meyakini perempuan lebih blak-blakan dan independen.

Lalu, bagaimana dengan laki-laki golden retriever?

Mereka yang diidentifikasi dengan ciri-ciri anjing imut ini memiliki sifat hangat, mudah bergaul, ramah, banyak berbicara, memiliki tingkat kepercayaan tinggi kepada orang lain, dan juga seorang ekstrovert sejati.

Dalam hubungan, jika pihak cowok bersifat seperti golden retriever, maka dia adalah pihak yang mengejar-ngejar cinta dari si black cat yang lebih sulit terbuka dengan sekitar.


"Setiap perempuan harus merengkuh energi si kucing hitam dan menerapkannya dalam hubungan. Karena bentuk inilah yang akan membawamu pada kebahagiaan, perasaan dicintai dan diinginkan. Saat perempuan berhenti mengejar [cinta laki-laki], di situlah ia menjadi menarik... perempuan seharusnya tidak menjadi pihak yang mengejar."

Demikian Kristina sampaikan baru-baru ini pada Roe Magazine.



Sekarang, apakah konsep “Black Cat Girlfriend” dan “Golden Retriever Boyfriend” sudah terdengar masuk akal?

Perlu digarisbawahi, Anna Kristina menciptakan konsep tersebut tanpa mendasarkannya dengan teori psikologi maupun penelitian sahih lainnya.

Tidak heran, penuturannya bisa terdengar sangat menghakimi.



Dalam salah satu video yang telah ditonton sampai 7,4 juta kali, ia memanfaatkan hubungan asmara artis-artis yang gagal sebagai contoh untuk menjustifikasi konsep Black Cat Theory miliknya.

"Jika kamu mau cowok mengejarmu, dia harus menjadi golden retriever... Drake adalah black cat, [Rihanna] golden retriever. Itu kenapa [hubungan keduanya] tidak berjalan. Jika kamu menjadi golden retriever, dan si cowok black cat, tidak akan jadi hubungan yang sukses [sambil menunjuk foto Miley Cyrus dan Liam Hemsworth yang akhirnya bercerai]," Kristina menambahkan.

Apabila diikuti untuk sekedar lucu-lucuan, tren “Black Cat Girlfriend” dan “Golden Retriever Boyfriend” masih bisa diterima. Namun, jika digunakan lebih lanjut sebagai standar dalam menjalin hubungan cinta, hati-hati, konsep ini bisa jadi sangat problematik.

Sebagai “mindset coach” lewat konten di TikTok, Kristina menyuarakan bagaimana hubungan yang sukses ditandai dengan pihak laki-laki yang memiliki usaha lebih besar dibanding perempuan.


Itulah mengapa ia berkali-kali mengulang kalimat semacam, “buat dia mengejarmu”, “jangan mencintai laki-laki tanpa syarat”, “buat dia tunduk”, dalam tren tersebut.

Konsep ketidakseimbangan dalam relasi adalah lagu lama. Beberapa tahun yang lalu, pihak perempuanlah yang diharapkan untuk banyak berkorban.

"Idealnya, kita semua ingin hubungan berjalan dua arah. Meski beberapa hal mungkin tidak sempurna dalam praktiknya, kita semua ingin cinta dan dukungan yang seimbang dari kedua pihak," sosiolog dan seksolog Sarah Melancon menerangkan kepada Lifehacker.

Bagaimana jika akhirnya usaha dan cinta yang diberikan berat satu sisi?

"Semua pasangan pasti melewati momen itu, tapi secara umum, perasaan tidak puas atas relasi yang sedang berjalan akan terus meningkat," tambahnya.

Black cat and golden retriever
Black cat and golden retriever. foto/istockphoto


Kompleksitas hubungan manusia tidak bisa dikotak-kotakkan dengan kaku seperti dalam konsep black cat dan golden retriever.

Menyederhanakan perilaku manusia ke dalam dua identitas yang sangat terbatas, hanya membuat kita terbiasa dengan menilai seseorang dari permukaan saja.

"Hubungan yang berhasil terdiri dari praktik sehat yang berupa penghormatan setara dari kedua pihak, komunikasi yang baik, pengertian kepada satu sama lain, dan berbagi tugas domestik secara adil tanpa berpatokan pada gender," Chantelle Otten, spesialis dalam hubungan sehat, ikut berkomentar.

Jillian Turecki, penulis asal Amerika Serikat yang juga pakar relasi, turut mengkritik teori “Black Cat Girlfriend” dan “Golden Retriever Boyfriend” karena memperlakukan hubungan cinta seperti sebuah permainan strategi, alih-alih berangkat dari keterbukaan, kejujuran, dan ketulusan.

"Padahal kedekatan emosional yang sejati [dalam hubungan] menuntut dan meminta kita untuk melampaui [teori-teori] semacam itu, agar kita saling mengenal lebih dalam. Pada titik itulah kita mulai membangun apa yang dinamakan cinta, kepercayaan, rasa aman, dan keinginan untuk bertualang [berdua]," tegas Turecki di akun video YouTube-nya.

Tentu ada saja netizen yang mereplikasi tren tersebut, mencocok-cocokkannya sedemikian rupa agar sejalan dengan teori Anna Kristina.

Seiring itu pula, bukan tidak mungkin, “Black Cat Girlfriend” dan “Golden Retriever Boyfriend” akan tergeser dengan istilah-istilah baru dalam gelombang tren konten digital yang mensimplifikasi manusia dalam klasifikasi sempit nan dangkal.

Namun, sebagaimana halnya tren yang datang silih-berganti, tidak semua kehebohan di TikTok perlu diikuti. Sebagian besar mungkin hanya perlu dilihat sekilas dan kemudian dilupakan.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Erika Rizqi

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Erika Rizqi
Penulis: Erika Rizqi
Editor: Sekar Kinasih