diajeng.id - Clash of Champions musim kedua kembali dengan deretan mahasiswa berprestasi dari kampus dalam dan luar negeri.
Acara yang memotivasi semangat belajar anak-anak Indonesia kembali memopulerkan istilah beauty with brain (kecantikan dengan otak), sebuah pujian yang ditujukan bagi peserta perempuan CoC.
Lewat kolom komentar di sosial media, netizen menunjukan kekaguman melihat mahasiswi yang memutar otak dalam memecahkan soal-soal sulit selama CoC.
Seiring itu, tentu saja puja-puji beauty with brain yang dialamatkan kepada peserta tidak terhindarkan.
Sekilas, istilah beauty with brain tampak tidak berbahaya. Meski begitu, jika dibedah secara mendalam, pujian tersebut berpotensi mengerdilkan kapasitas perempuan.
Beauty with brain menekankan bahwa objek yang tengah dibicarakan ternyata tidak hanya menarik secara penampilan, tetapi juga memiliki tingkat inteligensia tinggi.
Pujian ini secara tidak langsung menyindir: kebanyakan perempuan cantik dan modis biasanya tidak pintar.
Stereotip yang menghubungkan antara penampilan dengan kemampuan otak perempuan bisa dilacak, misalnya, lewat tren dumb blonde yang kemungkinan memicu kemunculan istilah beauty with brain.
Paris Hilton, Marilyn Monroe, dan Nicole Richie adalah beberapa selebritas Amerika Serikat yang dianggap, dituding, dan dinobatkan secara tidak adil sebagai simbol dumb blonde– perempuan penuh gaya dan cantik (biasanya berambut pirang), tapi bodoh.

Sejak kapan tepatnya stereotip dumb blonde berkembang?
Menurut penelusuran Refinery29, konsep dumb blonde setidaknya sudah dikenal sejak abad ke-18 melalui pertunjukan teater berjudul Les Curiosités de la Foire.
Si tokoh utama yang berambut pirang, Rosalie Duthe, digambarkan sebagai sosok bodoh tetapi menarik dalam konteks seksual.
Sebagai antitesa dari karakter dumb blonde, Hollywood kemudian memunculkan sosok baru, yaitu karakter perempuan berkacamata dan nerdy sebagai representasi perempuan dan kepintaran.
Lewat si nerdy, perempuan pintar digambarkan seolah tidak peduli soal makeup. Di sini, perempuan cerdas tidak berpikir untuk menggaet atau berpacaran dengan cowok. Dan tentu saja, perempuan intelektual dilukiskan begitu cuek dengan penampilan.
Lagi-lagi, kontribusi dan kemampuan perempuan tidak bisa dinilai secara utuh jika tidak memasukkan unsur penampilan di dalamnya.
Produk-produk media semacam membuat masyarakat mengamini bahwa kecantikan dan kepintaran adalah kombinasi yang langka dan nyaris mustahil ada.
Dalam kolom opini Inquirer, penulis Filipina Erika Salvador mengungkapkan cerita menarik terkait pengalamannya dijuluki beauty with brain saat duduk di bangku sekolah.
"Acap kali kepintaran yang aku miliki dianggap 'hanya' berasal dari kerja keras, alih-alih pengakuan bahwa itu adalah bakat yang diturunkan dari Ibuku. Sebaliknya, laki-laki menggambarkan diri mereka sebagai anak berbakat dari lahir yang kecerdasannya tidak berkembang sempurna karena tertahan kemalasan dan ketertarikan pada hal-hal maskulin seperti game [online]."
Apa yang dikatakan Erika menjadi pengingat bahwa masyarakat menerapkan standar tinggi dalam menilai perempuan, hal yang sama jarang terjadi pada kelompok laki-laki.
Perempuan lebih banyak menerima pilihan-pilihan kaku yang membuat ruang gerak menjadi terbatas. Jika cantik, maka tidak cerdas.
Sementara itu, tidak ada julukan handsome with brain yang mengasosiasikan penampilan laki-laki dengan tingkat kecerdasannya meski mereka sering dibingkai sebagai makhluk rasional dan logis.
Tidak heran, lebih mudah bagi laki-laki untuk mendapatkan pengakuan sosial dibandingkan perempuan.
Ketika penilaian mengenai kemampuan otak perempuan harus disandingkan dengan penampilan secara terus-menerus, alih-alih fokus pada pencapaian, “Seolah-olah adalah pihak-pihak yang merasa iri melihat kesuksesan perempuan,” tambah Erika.
Saat beauty with brain sebagai pujian diterima tanpa berhati-hati menelisik maknanya, perempuan secara tidak sadar menerima standar-standar patriarki yang selalu menghubungkan perempuan dengan penampilan fisik saja.
Mari kita sama-sama berpikir ulang, beauty with brain bukanlah pujian. Itu adalah julukan beraroma misogini yang seharusnya tidak diterima mentah-mentah.
Istilah tersebut justru rentan digunakan untuk membandingkan satu kelompok perempuan dengan kelompok perempuan lain.
Toh, apa yang dimaksud dengan perempuan ‘cerdas’, ‘pintar’, dan ‘jenius’ bisa diukur dengan beragam kriteria.
Selama berabad-abad, perempuan telah lama ditahan oleh sebuah sistem untuk tidak melampaui laki-laki di dalam banyak bidang.
Tengok dialog ikonik Marilyn Monroe saat memerankan karakter Lorelei Lee dalam film Gentlemen Prefer Blondes (1953), “Aku bisa pintar di saat-saat penting, tapi sebagian besar laki-laki tidak suka itu.”
Di masa kini, ketika akses pendidikan mulai merata untuk semua gender, peran dan kapasitas perempuan dikecilkan dengan sebutan beauty with brain.
Bukankah memilukan bahwa perempuan terus-menerus mendapat julukan baru hanya agar kontribusinya diakui oleh masyarakat?
Penulis: Erika Rizqi
Editor: Sekar Kinasih