Menuju konten utama

5 Contoh Puisi Tentang Hari Kartini, Penuh Makna & Semangat

Berikut ini adalah 5 rekomendasi puisi tentang Hari Kartini yang penuh makna dan semangat positif untuk perempuan.

5 Contoh Puisi Tentang Hari Kartini, Penuh Makna & Semangat
Ilustrasi Puisi Hari Kartini. foto/istockphoto

diajeng.id - Peringatan Hari Kartini menjadi momen penting untuk mengenang perjuangan perempuan Indonesia dalam meraih hak dan kesempatan yang setara. Diperingati setiap tanggal 21 April, hari ini tidak hanya sekadar seremonial, tetapi juga menjadi pengingat akan semangat emansipasi yang diperjuangkan oleh R.A. Kartini.

Lebih dari itu, tujuan peringatan Hari Kartini adalah untuk menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya pendidikan, kesetaraan gender, dan peran perempuan dalam berbagai bidang kehidupan. Sementara itu, peringatan dengan puisi tentang Hari Kartini diharapkan mempu memberi semangat agar Kartini terus hidup dan menginspirasi generasi masa kini.

Contoh Puisi Tentang Kartini

Contoh puisi Hari Kartini bisa menjadi cara sederhana namun bermakna untuk mengekspresikan rasa kagum terhadap perjuangannya. Melalui rangkaian kata yang indah, kamu bisa menggambarkan semangat, keberanian, dan ketulusan Kartini dalam memperjuangkan hak perempuan. Tak hanya menyentuh, puisi ibu kita Kartini ini juga dapat menjadi inspirasi untuk meneladani nilai-nilai yang ia perjuangkan.

IBUKU KARTINI

kukuh ibuku yang setiap hari menanak nasi

mengasuh anak anak, menyiapkan keperluan ayah

menyuapi bubur adikku, mengantarku pergi sekolah

kukuh ibuku yang selalu menunggu usai was

bila sore hari kakak perempuanku belum pulang

ayah yang harus lembur sampai larut malam

kukuh ibuku yang selalu mengalah dengan keadaan

meski bertentangan dengan cita-cita dan harapanmu

harus rela dan tunduk untuk diredam

kukuh kartini itu, ibu

Oleh: Aloeth Puthi

PEREMPUAN ITU BERNAMA KARTINI

Terang hati dan jiwanya

Setinggi cita-citanya

Negeri kincir angin

Telah membidik angannya

Mampu berbicara lantang di hadapan para dewan

Tentang kemelut dunia yang tengah berkobar

Dari manakah datangnya

Barisan waktu yang dilalui menguak semuanya

Keringat dan air mata tak dihiraukannya

Kesejajaran yang diinginkannya

Mengalahkan rasa cintanya

Dia ingin perempuan Indonesia tak terserimpet kain panjang sebatas betis

Yang hanya mampu bergerak dan beringsut segaris

Dunia ini begitu luas

Lebih luas dari taman kupu-kupu mengurungnya

Lebih berwarna dari lampu kamar tempat dia menulis

Surat yang dia layangkan kepada teman-temannya

Dia hanya ingin

Setelah gelap ada terang

Dia tak mau perempuan Indonesia hanya ingin (di belakang)

punggung laki-laki

Yang hanya mampu sendika dhawuh (menurut pada setiap ucapan)

tanpa tahu persoalan secara utuh

Pada akhirnya hanya bisa mengeluh

Dia ingin perempuan Indonesia ada di samping laki-laki

Mampu mendampingi

Mampu menyeimbangi

Baik hasrat

Maupun jati diri

Perempuan itu bernama Kartini

Mati muda sudah takdirnya

Emansipasi wanita tujuannya

Dan kini Kartini-kartini Indonesia telah bertebaran dimana-mana

Membawa suluh

Terangi jagad semesta

Oleh: Amini

DI BALIK SANGGUL KARTINI

Kebaya anggun perempuan muda Jepara

Menyimpan mimpi di balik wajah priyayi

Akar-akar aksara Barat menyintas jiwa

Buah kandung lahirkan setitik harap

Sanggul hitam di kepala Kartini

Adalah mahkota perempuan kelas atas

Darah biru darah merah bukanlah pembeda

Mengejar bintang pada titik tulis dan baca

Ia bukan jiwa sendiri dengan status kodrat api semangat

Perempuan tak boleh berdiam pada dapur-dapur berasap

Perempuan tak boleh berdiam pada status rendah dan hina

Perempuan tak boleh hidup dalam gelapnya aksara

Lalu di balik kebaya Jepara dan sanggul bangsawan itu

Kartini bangkit berdiri menjerat aksi emansipasi

Ia kupas kungkungan adat perempuan yang tak bebas menuntut ilmu

Ia kupas derita perempuan pribumi yang digerogoti lelaki tanpa cinta

Kebaya dan sanggul Kartini itu adalah cahaya hidup

Ketika jemari kecil menuliskan hanya empat kata

“Habis Gelap Terbitlah Terang”

Oleh: Bety C. Rumkoda

CAHAYA DARI HATI KARTINI

Hari berlalu dan pergi kepada lupa

Dari pagi menjelang temaram yang tenang

Sukma menyibak makna dari gemericik hujan yang basah

Pun berpayung angin dari cakrawala

Semesta dengan cara paling teratur

Berkisah tentang masa-masa kelam dan terang

Dari tinta-tinta dirangkum ingatan

Kisah-kisah awal kemilau menolak pudar

Adalah cahaya di bilik mata Kartini

Dari sengsara dan derita yang dijahit gulita

Kini terpencar merona oleh ide yang umur panjang

Esok dan lusa serupa kembang-kembang puan Kartini

Masa kelam dipulihkan sedalam asa

Pertiwi yang berkisah tentang air mata perlahan mereda

Luka yang ditangisi negeri terobati satu per satu

Walau tak tuntas-tuntas, itulah negara

Oleh: Defri N. Sue

KARTINI MILENIAl

Waktu berjalan begitu cepat

Emansipasi yang dulu diperjuangkan beralih cerita

Bukan lagi bicara tentang kesetaraan antara wanita dan pria

Tapi membela dan meneguhkan hak-hak wanita

Tak perlu ada lagi pembuktian diri

Kesetaraan sudah terbukti

Namun hakikat tetap ada

Bahwa wanita tulang rusuk pria bukan tulang punggung keluarga

Kartini Milenial terus berlari mengejar mimpi

Tak peduli waktu yang menggerus diri

Bersolek memoles diri

Bersama pria membangun negeri

Katanya Kartini Milenial hanya bisa bermedsos ria

Berjoget, memamerkan wajah, ketawa kesana kemari tanpa rasa

Itu memang ada, tapi hanya segelintir saja

Lihatlah kaum wanita penulis puisi, tetap berkarya walau dunia tak menghargai

Kartini milenial belajar dari keberanian ibu Kartini

Yang menyuarakan suara hati

Tak peduli karyanya di caci

Hanya ada rasa untuk berbagi

Kini Kartini Milenial sudah mampu berdiri

Berkarya mengekspresikan diri

Dengan tonggak emansipasi mengejar mimpi

Namun kodrat sebagai wanita tetap terpatri

Oleh: Elma Susanti

Baca juga artikel terkait SUPPLEMENT CONTENT atau tulisan lainnya dari Risa Fajar Kusuma

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Risa Fajar Kusuma
Penulis: Risa Fajar Kusuma
Editor: Risa Fajar Kusuma & Dhita Koesno