diajeng.id - Peringatan Hari Kartini menjadi momen penting untuk mengenang perjuangan perempuan Indonesia dalam meraih hak dan kesempatan yang setara. Diperingati setiap tanggal 21 April, hari ini tidak hanya sekadar seremonial, tetapi juga menjadi pengingat akan semangat emansipasi yang diperjuangkan oleh R.A. Kartini.
Lebih dari itu, tujuan peringatan Hari Kartini adalah untuk menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya pendidikan, kesetaraan gender, dan peran perempuan dalam berbagai bidang kehidupan. Sementara itu, peringatan dengan puisi tentang Hari Kartini diharapkan mempu memberi semangat agar Kartini terus hidup dan menginspirasi generasi masa kini.
Contoh Puisi Tentang Kartini
Contoh puisi Hari Kartini bisa menjadi cara sederhana namun bermakna untuk mengekspresikan rasa kagum terhadap perjuangannya. Melalui rangkaian kata yang indah, kamu bisa menggambarkan semangat, keberanian, dan ketulusan Kartini dalam memperjuangkan hak perempuan. Tak hanya menyentuh, puisi ibu kita Kartini ini juga dapat menjadi inspirasi untuk meneladani nilai-nilai yang ia perjuangkan.
IBUKU KARTINI
kukuh ibuku yang setiap hari menanak nasi
mengasuh anak anak, menyiapkan keperluan ayah
menyuapi bubur adikku, mengantarku pergi sekolah
kukuh ibuku yang selalu menunggu usai was
bila sore hari kakak perempuanku belum pulang
ayah yang harus lembur sampai larut malam
kukuh ibuku yang selalu mengalah dengan keadaan
meski bertentangan dengan cita-cita dan harapanmu
harus rela dan tunduk untuk diredam
kukuh kartini itu, ibu
Oleh: Aloeth Puthi
PEREMPUAN ITU BERNAMA KARTINI
Terang hati dan jiwanya
Setinggi cita-citanya
Negeri kincir angin
Telah membidik angannya
Mampu berbicara lantang di hadapan para dewan
Tentang kemelut dunia yang tengah berkobar
Dari manakah datangnya
Barisan waktu yang dilalui menguak semuanya
Keringat dan air mata tak dihiraukannya
Kesejajaran yang diinginkannya
Mengalahkan rasa cintanya
Dia ingin perempuan Indonesia tak terserimpet kain panjang sebatas betis
Yang hanya mampu bergerak dan beringsut segaris
Dunia ini begitu luas
Lebih luas dari taman kupu-kupu mengurungnya
Lebih berwarna dari lampu kamar tempat dia menulis
Surat yang dia layangkan kepada teman-temannya
Dia hanya ingin
Setelah gelap ada terang
Dia tak mau perempuan Indonesia hanya ingin (di belakang)
punggung laki-laki
Yang hanya mampu sendika dhawuh (menurut pada setiap ucapan)
tanpa tahu persoalan secara utuh
Pada akhirnya hanya bisa mengeluh
Dia ingin perempuan Indonesia ada di samping laki-laki
Mampu mendampingi
Mampu menyeimbangi
Baik hasrat
Maupun jati diri
Perempuan itu bernama Kartini
Mati muda sudah takdirnya
Emansipasi wanita tujuannya
Dan kini Kartini-kartini Indonesia telah bertebaran dimana-mana
Membawa suluh
Terangi jagad semesta
Oleh: Amini
DI BALIK SANGGUL KARTINI
Kebaya anggun perempuan muda Jepara
Menyimpan mimpi di balik wajah priyayi
Akar-akar aksara Barat menyintas jiwa
Buah kandung lahirkan setitik harap
Sanggul hitam di kepala Kartini
Adalah mahkota perempuan kelas atas
Darah biru darah merah bukanlah pembeda
Mengejar bintang pada titik tulis dan baca
Ia bukan jiwa sendiri dengan status kodrat api semangat
Perempuan tak boleh berdiam pada dapur-dapur berasap
Perempuan tak boleh berdiam pada status rendah dan hina
Perempuan tak boleh hidup dalam gelapnya aksara
Lalu di balik kebaya Jepara dan sanggul bangsawan itu
Kartini bangkit berdiri menjerat aksi emansipasi
Ia kupas kungkungan adat perempuan yang tak bebas menuntut ilmu
Ia kupas derita perempuan pribumi yang digerogoti lelaki tanpa cinta
Kebaya dan sanggul Kartini itu adalah cahaya hidup
Ketika jemari kecil menuliskan hanya empat kata
“Habis Gelap Terbitlah Terang”
Oleh: Bety C. Rumkoda
CAHAYA DARI HATI KARTINI
Hari berlalu dan pergi kepada lupa
Dari pagi menjelang temaram yang tenang
Sukma menyibak makna dari gemericik hujan yang basah
Pun berpayung angin dari cakrawala
Semesta dengan cara paling teratur
Berkisah tentang masa-masa kelam dan terang
Dari tinta-tinta dirangkum ingatan
Kisah-kisah awal kemilau menolak pudar
Adalah cahaya di bilik mata Kartini
Dari sengsara dan derita yang dijahit gulita
Kini terpencar merona oleh ide yang umur panjang
Esok dan lusa serupa kembang-kembang puan Kartini
Masa kelam dipulihkan sedalam asa
Pertiwi yang berkisah tentang air mata perlahan mereda
Luka yang ditangisi negeri terobati satu per satu
Walau tak tuntas-tuntas, itulah negara
Oleh: Defri N. Sue
KARTINI MILENIAl
Waktu berjalan begitu cepat
Emansipasi yang dulu diperjuangkan beralih cerita
Bukan lagi bicara tentang kesetaraan antara wanita dan pria
Tapi membela dan meneguhkan hak-hak wanita
Tak perlu ada lagi pembuktian diri
Kesetaraan sudah terbukti
Namun hakikat tetap ada
Bahwa wanita tulang rusuk pria bukan tulang punggung keluarga
Kartini Milenial terus berlari mengejar mimpi
Tak peduli waktu yang menggerus diri
Bersolek memoles diri
Bersama pria membangun negeri
Katanya Kartini Milenial hanya bisa bermedsos ria
Berjoget, memamerkan wajah, ketawa kesana kemari tanpa rasa
Itu memang ada, tapi hanya segelintir saja
Lihatlah kaum wanita penulis puisi, tetap berkarya walau dunia tak menghargai
Kartini milenial belajar dari keberanian ibu Kartini
Yang menyuarakan suara hati
Tak peduli karyanya di caci
Hanya ada rasa untuk berbagi
Kini Kartini Milenial sudah mampu berdiri
Berkarya mengekspresikan diri
Dengan tonggak emansipasi mengejar mimpi
Namun kodrat sebagai wanita tetap terpatri
Oleh: Elma Susanti
Penulis: Risa Fajar Kusuma
Editor: Risa Fajar Kusuma & Dhita Koesno