diajeng.id - Menutup pintu rumah dengan langkah berat sembari mencium aroma bayi yang baru saja tertidur adalah babak baru yang tak pernah benar-benar siap kuhadapi.
Setelah berbulan-bulan terbiasa dengan ritme menyusui, momong bayi, dan mendengar tawa kecil di rumah, kembali menatap layar laptop terasa seperti memasuki dunia yang asing.
Di satu sisi, ada kelegaan karena bisa kembali berkarya di kantor, tapi di sudut hati yang paling dalam, muncul sebuah tanya yang sunyi namun tajam: Apakah dunia kerja masih menyisakan tempat yang sama untukku?
Itulah yang pernah kurasakan belum lama ini atau juga dialami ibu-ibu lainnya setelah kembali bekerja.
Ya, cuti melahirkan bukan sekadar jeda fisik, melainkan sebuah pertaruhan emosional di mana kita berjuang menjaga nyala ambisi di tengah kekhawatiran akan langkah karier yang mungkin tak lagi sama.
Bagaimana sebenarnya cuti melahirkan memengaruhi perjalanan karier ibu bekerja?
Alasan Usai Cuti Melahirkan Bisa Membuat Ibu Pekerja Khawatir
Dinukil dari Randstad, ada 3 alasan dan stigma yang sering membuat perempuan, khususnya ibu pekerja, ragu-ragu dalam memaksimalkan cuti melahirkan:
1. Takut Karier “Berjalan di Tempat” Saat Ibu Berhenti Sejenak
Salah satu kekhawatiran paling umum adalah anggapan bahwa mengambil cuti melahirkan terlalu lama bisa memperlambat laju karier.Ada rasa cemas tertinggal dari proyek-proyek penting, kehilangan peluang promosi, atau dinilai kurang ambisius.
Bagi ibu, ini terasa lebih berat karena setelah cuti panjang, target kerja tetap menunggu, seolah-olah kita diminta mengejar performa setahun penuh dalam waktu yang lebih singkat.
Di titik ini, cuti yang seharusnya memberi ruang bernapas justru dibayangi rasa bersalah dan takut tertinggal.
2. Rasa Tidak Enak Hati pada Tim dan Lingkungan Kerja
Banyak ibu bekerja merasa gamang karena tahu beban kerja mereka akan dialihkan ke rekan satu tim. Ada ketakutan dianggap merepotkan, tidak solid, atau merusak dinamika kerja.Kekhawatiran ini membuat sebagian orang tetap “hadir” secara profesional meski sedang cuti, mulai dari membalas pesan, memantau pekerjaan, hingga batas antara istirahat dan bekerja jadi kabur.
Alih-alih pulih, cuti justru diwarnai tekanan emosional.
3. Norma Lama tentang Peran Ibu dan Ayah yang Masih Membayangi
Di balik keputusan cuti, ada stigma sosial yang lebih dalam: keyakinan bahwa urusan pengasuhan adalah tanggung jawab utama ibu, sementara ayah seharusnya fokus bekerja.Akibatnya, ibu merasa wajar jika kariernya melambat, sementara ayah enggan mengambil cuti karena takut dinilai kurang berdedikasi.
Padahal, pola pikir ini perlahan mulai ditinggalkan.
Keterlibatan kedua orang tua, tentunya dalam porsi dan kapasitas yang sesuai, justru memberi dampak positif, bagi keluarga, kesehatan mental, dan relasi jangka panjang.
Dampak Cuti Melahirkan Bagi Perempuan
Sebuah riset tahun 2018 yang dibahas dalam Harvard Business Review menunjukkan bahwa cuti melahirkan yang lebih panjang sering kali membawa konsekuensi karier yang tidak diharapkan bagi perempuan.
Penelitian ini menemukan bahwa lamanya cuti kerap dibaca sebagai “sinyal” tentang kemampuan dan komitmen kerja perempuan.
Tanpa disadari, hal ini memengaruhi cara atasan dan rekan kerja menilai dedikasi, kompetensi, bahkan kelayakan perempuan untuk posisi kepemimpinan.
Dampaknya mungkin terkesan sepele. Namun begitu, di dunia kerja yang penuh target dan tuntutan, satu saja penilaian yang sedikit lebih rendah berisiko menentukan progres atau promosi seseorang.
Di satu sisi, riset ini menegaskan bahwa dampak negatif tersebut bukan sesuatu yang tak terhindarkan.
Tak hanya itu, riset ini pun menyoroti pentingnya cuti orang tua bagi ayah agar beban pengasuhan dan jeda karier tidak terus-menerus jatuh pada perempuan.
Dengan kata lain, masalahnya bukan pada cuti melahirkan itu sendiri, melainkan pada sistem dan persepsi yang belum sepenuhnya adil terhadap peran orang tua bekerja.
Apa saja yang perlu disiapkan terkait pekerjaan saat kita akan mengambil cuti melahirkan?
Yang Perlu Dipersiapkan Saat Akan Cuti Lahiran Bagi Ibu Pekerja
Menurut situs The Source, ada beberapa hal yang bisa dipersiapkan oleh ibu pekerja yang akan mengambil cuti melahirkan, antara lain:
1. Menegaskan Kembali Alasan Berkarier
Cuti melahirkan sering membuat perempuan mempertanyakan kembali identitas profesionalnya.Mengingat alasan mengapa kita peduli pada pekerjaan, nilai, makna, dan perjuangan yang sudah ditempuh, bisa menjadi jangkar emosional saat kembali bekerja dengan lebih percaya diri.
2. Mempersiapkan Transisi dengan Lebih Manusiawi
Kembali bekerja bukan sekadar soal kesiapan fisik, tetapi juga mental.Memberi ruang pada emosi yang naik turun, bersikap lembut pada diri sendiri, dan menerima bahwa adaptasi butuh waktu dapat mengurangi tekanan untuk “langsung normal” seperti sebelum cuti.
3. Menyiapkan Sistem Dukungan Pengasuhan Anak
Pengasuhan anak adalah fondasi penting agar kita bisa bekerja dengan lebih tenang. Menyusun rencana pengasuhan utama sekaligus cadangan membantu menghindari stres mendadak yang bisa berdampak pada performa kerja.
4. Menjaga Koneksi Profesional Sejak Awal
Berinvestasi kembali pada hubungan dengan rekan kerja dan atasan sebelum kembali bekerja membantu mengurangi rasa terasing.Percakapan terbuka tentang perubahan, ekspektasi, dan proyek ke depan dapat membuat transisi terasa lebih jelas dan terkendali.
5. Beradaptasi Secara Bertahap, Bukan Seketika
Menyesuaikan ritme kerja dengan ritme bayi membutuhkan latihan.Cobalah untuk simulasi rutinitas sebelum benar-benar kembali bekerja. Dengan begitu, kita belajar mengelola waktu, energi, dan emosi dengan lebih realistis.
Artikel terkait cuti melahirkan lainnya juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih