Menuju konten utama

Dari Taylor Swift sampai Miley Cyrus, Musik Jadi Katalis Emosi

Bagi para diva pop, menciptakan lagu bukan sekadar karya, melainkan cara melepas luka dan berdamai dengan orang-orang terkasih serta diri sendiri.

Dari Taylor Swift sampai Miley Cyrus, Musik Jadi Katalis Emosi
Header Diajeng Musik Healing. tirto.id/Quita

diajeng.id - Rumit mungkin adalah kata yang cukup pas untuk menggambarkan riwayat hubungan keluarga Miley Cyrus.

Sang ayah, Billy Ray, disebut-sebut sebagai pusat segala keruwetan keluarga Cyrus. Seusai bercerai dengan Tish pada 2022, relasi Billy dan kelima anaknya dikabarkan kian berjarak.

Memasuki paruh pertama tahun 2025, Miley mengakui ia sudah belajar menerima Billy. Hubungan keduanya dikabarkan membaik.

“Aku kira waktu yang tepat adalah segalanya. Semakin dewasa, aku menghormati keduanya sebagai individu alih-alih sebagai orang tua. Ini karena aku paham, Ibu telah mencintai Ayah sepanjang hidupnya, dan menikahi seorang musisi di saat ia sendiri bukan bagian industri ini tentu sangat berat.”

Begitu Miley jelaskan dalam wawancara eksklusif dengan The New York Times pada bulan Mei lalu.

Perilisan lagu berjudul Secrets pada 19 September 2025 menjadi semacam pengukuhan hubungan Miley dengan Billy yang saat ini semakin membaik.

“Lagu ini ditulis sebagai tawaran damai kepada seseorang yang telah hilang dariku, tapi cintanya menetap. Dalam hidupku, pengampunan dan kebebasaan adalah dua hal yang sama… Lagu ini kupersembahan untukmu, Ayah.”

Begitu tulis sang musisi tentang lagu terbarunya melalui akun media sosialnya.

Kita sebagai penikmat musik acap kali merasa bahwa diri kitalah yang diselamatkan oleh karya kreatif yang dibuat oleh para musisi idola kita.

Pada satu titik, mungkin sebagian dari kita tidak melihat sisi lainnya: bahwa menulis lirik, mencari melodi yang tepat, serta menyanyikan lagu yang dibuat dari hati adalah juga bentuk penyembuhan dari si musisi.

Selain Miley, musisi lain yang mengalami proses penyembuhan lewat musik adalah Jessie J., yang sempat mengalami stroke pada usia 17 tahun.

Dalam panel acara The Voice, ia membagikan momen bagaimana menulis musik membantunya untuk melanjutkan hidup.

“Aku adalah seseorang yang selalu membutuhkan musik, aku butuh menulis [lagu] untuk bertahan. Musik membantuku memahami perasaanku sendiri, itu adalah medium emosional buatku… [musik] jelas telah menolongku melewati momen-momen sulit dalam hidup.”

Begitu pandangan Jessie tentang musik, dikutip dari The Conversation.

Menyembuhkan diri dengan merilis lagu juga dilakukan oleh Ariana Grande dalam album studio "Eternal Sunshine" (2024).

Dalam video klip musik brighter days ahead, ia tampil sebagai perempuan tua yang melihat dirinya versi muda dalam sebuah rekaman lawas.

“Dia terhubung kembali dengan dirinya ketika muda yang dengan sabar menunggu di belakang layar selama lebih dari satu dekade—saat ia menghadapi dampak dari popularitas, kehidupan pribadinya jadi sensasi, dan trauma generasi. Akhirnya, dengan bantuan dari orang-orang terkasih dan rasa cinta atas seni, dia dapat pulang kepada sosoknya yang sejati.”

Demikian isi deskripsi dari video klip tersebut.

Para musisi menggambarkan perasaan patah hati, jatuh cinta, senang, bahagia, sedih, hancur, dan bahkan penerimaan, melalui musik.

Maka memproduksi musik secara tidak langsung menjadi katalis bagi penyanyi untuk melepaskan perasaan-perasaan yang tidak bisa mereka ungkapkan secara terus terang.

Ada banyak teori dan metodologi beredar seputar cara membuat musik yang tepat.

Namun begitu, bahkan dengan segudang formulasi, membuat musik tetap membutuhkan keajaiban serta perjumpaan dengan banyak orang.

“Ada sesuatu yang mistis, penuh dengan momen magis dan tak terjelaskan ketika kumpulan ide terbentuk dan muncul begitu saja di dalam kepala. Dan itulah unsur paling murni dalam pekerjaanku,” kata Taylor Swift ketika mengisahkan proses penulisan lagunya kepada Harper’s Bazaar pada 2018 silam.

Lagu Taylor dibentuk dari pertemuan dan persinggungan dengan banyak orang, serta relasi yang dibentuk sepanjang perjalanan kariernya sebagai musisi.

“Entahlah. Rasanya banyak orang datang ke dalam hidupmu dan mereka meninggalkan sedikit jejak [yang akhirnya menginspirasi lagu],” ujarnya.

Memproduksi musik menjadi momen terapeutik bagi musisi.

Penelitian Felicity Anna Baker seperti disampaikan dalam artikel “Songwriting as Solace: I Live in the Same Body but It Can’t Talk to Me Any More” (2016) membuktikan hal ini.

Tiga puluh delapan orang responden—yang dirawat usai kecelakaan atau mengidap penyakit tertentu—diminta untuk menulis lagu. Lirik yang mereka buat memproyeksikan perasaan terdalam.

Bagi sebagian responden, menulis lirik lagu membantu mereka mengekspresikan rasa sakit serta membantu membentuk respons emosional terhadap musik tertentu.

Lagu balada yang dibuat merupakan representasi kehilangan, sementara riff gitar yang murni dan tanpa distorsi merupakan ungkapan rasa marah atas pilihan buruk yang membuat mereka terluka.

“Musik berfungsi untuk mengekspresikan rasa sakit dan kehilangan, sekaligus sebagai perayaan atas kesempatan kedua yang tercermin dalam lirik-lirik yang dibuat,” kata Felicity menyimpulkan hasil penelitiannya.

Penelitian Felicity dan pengalaman para musisi di atas menunjukkan bahwa musik bekerja secara dua arah: bagi musisi itu sendiri sekaligus pendengarnya.

Karya para musisi akan terus beresonansi kepada para pendengarnya dengan cara paling personal.

Di tengah situasi sulit dan berat, musik sedikit banyak membantu kita untuk merasa baik-baik saja barang sejenak.

Pada waktu sama, dengan keberadaan para pendengar setia, musisi juga bisa mulai dengan jujur mengakui isi hatinya.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Erika Rizqi

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Erika Rizqi
Penulis: Erika Rizqi
Editor: Sekar Kinasih