Menuju konten utama

Daycare Aman: Antara Kamera CCTV dan Kualitas Pengasuh Anak

Keberadaan CCTV di daycare memang memberi ketenangan sesaat. Namun, muncul rasa khawatir bahwa yang terlihat tak selalu mencerminkan keseluruhan situasi.

Daycare Aman: Antara Kamera CCTV dan Kualitas Pengasuh Anak
CCTV di Daycare. foto/Istockphoto

diajeng.id - Bagi banyak orang tua bekerja, layar smartphone yang menampilkan live streaming CCTV dari ruang daycare bisa jadi "obat penenang" paling ampuh di tengah tuntutan pekerjaan di kantor.

Ada rasa aman "semu" saat melihat buah hati tertidur lelap atau duduk di pojok bermain dalam kotak digital yang kita pantau setiap jam.

Namun, rentetan kasus penganiayaan di tempat penitipan anak belakangan ini menjadi tamparan keras yang menyadarkan kita pada satu kenyataan pahit.

Faktanya, kamera berperan sebagai saksi bisu yang merekam kejadian, alih-alih benteng yang cukup kuat memberikan perlindungan optimal. Kekerasan bisa terjadi di "titik buta" atau bahkan di depan kamera dalam bentuk verbal atau emosional yang tidak selalu bisa ditangkap dan diterjemahkan oleh kamera.

Artinya, di samping keberadaan CCTV yang fungsional dan mudah diakses, diperlukan integritas manusia dan sistem kerja manusiawi yang menggerakkannya.

Melampaui estetika fasilitas atau kecanggihan aplikasi pemantau, kita perlu mempertanyakan ulang bagaimana regulasi emosi para pengasuh saat menghadapi tangisan anak-anak yang tak kunjung berhenti. Apakah lembaga tersebut memanusiakan stafnya sehingga mereka punya cukup tangki emosional untuk memanusiakan anak-anak kita?

Dengan membangun standar keamanan di daycare, artinya kita berusaha membangun ekosistem yang menempatkan transparansi sebagai budaya dan menumbuhkan kesadaran pada pengasuh bahwa mereka sedang menjaga nyawa anak manusia, alih-alih sekadar menuntaskan jam kerja.

Salah satu perspektif datang dari Nita Ernawati (42), seorang ibu bekerja yang telah memercayakan anaknya pada sebuah daycare selama hampir tiga tahun.

Bagi Nita, teknologi tetap memiliki peran penting, akan tetapi bukan satu-satunya penjamin keamanan.

“Menurut saya, CCTV di daycare itu sangat penting,” ujarnya. “Karena setiap daycare seharusnya punya SOP yang transparan, supaya orang tua bisa ikut memantau kondisi anaknya.”

Nita pun menegaskan bahwa teknologi, dalam batas tertentu, memang dibutuhkan sebagai alat kontrol dan transparansi. Kamera memberi akses, membuka kemungkinan pengawasan, dan menjadi jembatan antara orang tua dan ruang yang tidak bisa mereka jangkau secara fisik.

Namun ketika ditanya lebih jauh tentang apa yang benar-benar menentukan rasa aman, jawabannya bergeser dari teknis teknologi ke faktor manusia. Nita menekankan bahwa keamanan fisik dari kamera tidak ada gunanya tanpa keamanan psikis dari integritas pengasuh atau pendamping.

“Kualitas tenaga pendidik,” katanya tegas. “Pengasuh harusnya punya pelatihan PAUD atau pemahaman psikologi anak. Jadi bukan sekadar menjaga secara fisik, tapi juga mengerti perkembangan mental anak.”

Pandangan serupa dengan penekanan lebih relasional disampaikan oleh Ibu NN (40).

NN melihat CCTV sebagai kebutuhan yang tidak bisa diabaikan, terutama dalam konteks transparansi.

“Penting sekali,” ujarnya. “Karena dengan adanya CCTV, kita bisa memantau anak-anak kita melalui HP, meskipun tidak bisa sigap apabila terjadi sesuatu, setidaknya kami sebagai orang tua tahu kronologisnya. Tidak hanya mendengar cerita dari miss yang bisa menimbulkan asumsi lain, dan penuh kecurigaan yang tidak-tidak.”

Bagi Ibu NN, kamera berfungsi sebagai alat verifikasi, pemantau, sekaligus penyeimbang narasi. CCTV memberi orang tua akses pada “versi visual” dari keseharian anak, yang sering kali tidak sepenuhnya bisa diwakili oleh laporan lisan.

Namun, seperti Nita, NN tidak berhenti pada teknologi.

Perempuan yang menitipkan anaknya di daycare sejak usia 3 bulan hingga 7 tahun ini mengingatkan bahwa kehadiran daycare sendiri adalah bentuk dukungan besar bagi orang tua bekerja. Oleh karena itu, relasi yang sehat antara orang tua dan pengasuh menjadi fondasi yang tidak bisa diabaikan.

“Kita sebagai orang tua juga perlu membangun bonding, bukan hanya dengan anak, tapi juga dengan pengasuh di daycare,” tutur NN. “Karena kita percayakan kepada pengasuh atau miss-miss untuk menjaga, merawat, dan mendidik anak-anak kita dengan hati dan kasih sayang."

Pendek kata, tanpa hati nurani, pengasuhan akan kehilangan maknanya.

Pengasuh, dalam pandangan NN, bukan sekadar pekerja yang menjalankan tugas teknis. Mereka adalah figur orang dewasa pengganti sementara yang memegang peran emosional penting dalam keseharian anak. Tanpa empati dan kepedulian, keberadaan fasilitas sebaik apa pun menjadi tidak berarti.

"Pengasuh tanpa hati nurani merawat anak-anak sama saja bohong buka penitipan anak," tutupnya.

Ketika kita memilih daycare yang terbaik, kita mungkin berupaya mengakses fasilitas terbaik, dari kamera dan aplikasi tercanggih, hingga sistem layanan paling modern. Namun begitu, faktanya, tidak ada teknologi yang mampu menggantikan sentuhan hati nurani manusia.

Kepercayaan orang tua dan pihak penitipan anak lahir dari kombinasi lebih kompleks antara kompetensi, empati, komunikasi.

Kita perlu pertimbangkan matang-matang, seberapa bisa dipercaya staf pendamping dan pengasuh daycare ketika CCTV tidak sanggup menangkap segala kenyataan di lapangan?

Pada akhirnya, anak-anak kita tidak hanya butuh diawasi. Mereka butuh dipahami, diperlakukan dengan sabar, dan dirawat dengan hati. Rasa aman yang sejati selalu dimulai dari sana.

Simak juga artikel seputar mendidik anak di sini.

Baca juga artikel terkait SISTEM TEMPAT PENITIPAN ANAK atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih