diajeng.id - Duka kehilangan pasangan, orang tua, anak, atau saudara nyatanya adalah sebuah proses yang terus berlangsung.
Memori tentang mereka kadang-kadang menguat, kadang-kadang kabur, akan tetapi rasa kehilangan itu sendiri tidak pernah bisa hilang sepenuhnya.
Kondisi ini menjadi jauh lebih berat ketika kematian datang secara mendadak.
Dalam detik-detik setelah kabar itu datang, otak kita kerap terjebak dalam mode atau fase penyangkalan karena masih berusaha memproses kenyataan yang tidak terduga.
Dalam tulisan Diajeng sebelumnya dijelaskan, ketika sedang berduka, tubuh dan pikiran kita bisa dianalogikan seperti sebuah peramban (browser) dengan terlalu banyak "tab" yang terbuka sekaligus.
Kita merasa lelah, sulit fokus, dan energi kita terkuras habis hanya untuk sekadar bertahan melewati hari.
Di tengah gelombang kesedihan yang menyesakkan ini, kita dihadapkan juga pada realitas yang tidak bisa dihindari bahwa masih ada urusan administratif terkait almarhum, seperti surat kematian, dokumen utang-piutang, hingga warisan yang harus segera dibereskan.
Di luar itu semua, ada kenyataan fisik yang kasat mata.
Tidak semua barang ini bisa kita gunakan kembali, entah karena memori yang terlalu menyakitkan atau memang tidak ada kebutuhan praktis untuk menyimpannya dan memakainya.
Yang pasti, upaya memilah, menyeleksi, dan mendonasikan barang-barang tersebut, atau istilahnya decluttering, adalah tugas yang sangat menguras energi fisik maupun mental.
Tips Declutter Barang-Barang Anggota Keluarga yang Sudah Meninggal Dunia
Berikut adalah panduan strategi dan tips untuk membantu menavigasi proses decluttering barang milik keluarga yang telah tiada:
1. Pahami Bahwa "Tidak Ada Waktu yang Salah"
Seperti disampaikan dalam siniar Theclutter Hub, satu hal yang harus ditanamkan dalam pikiran adalah tidak ada aturan baku mengenai kapan kita harus memulainya.Beberapa orang memilih langsung sibuk merapikan barang sebagai "mekanisme pertahanan" agar pikiran tidak terus melamun, sementara yang lain tidak sanggup menyentuh satu helai baju pun bahkan setelah bertahun-tahun.
Jangan biarkan tekanan dari orang lain memaksa kita untuk bergerak sebelum benar-benar siap. Kalau merasa terlalu emosional, misalnya jadi menangis hebat hanya dengan melihat lemari pakaian almarhum, itu adalah sinyal penting bahwa kita masih butuh lebih banyak waktu untuk memproses pengalaman kehilangan.
Namun, jika ada tekanan eksternal seperti rumah yang harus segera dijual atau masa sewa yang habis, kamu bisa mempertimbangkan untuk memasukkan semuanya ke dalam kardus-kardus terlebih dahulu untuk disimpan di gudang atau rumahmu sendiri.
Kemudian, ketika kondisi mental atau emosional sudah lebih stabil, kardus-kardus tersebut dapat dibuka kembali dan dipilah-pilah.
2. Mulai dengan "Kategori Pemanasan"
Margareta Magnusson dalam buku The Gentle Art of Swedish Death Cleaning: How to Free Yourself and Your Family from a Lifetime of Clutter (2017) menuliskan, kesalahan umum adalah langsung mencoba memilah barang yang paling sentimental.Magnusson menyarankan untuk memulai memilah barang-barang pribadi sendiri atau kategori yang "mudah". Langkah ini berfungsi sebagai latihan untuk membiasakan diri dengan proses "melepaskan" tanpa beban emosional yang terlalu berat.
Setelah merasa sudah lebih percaya diri, pindahlah ke barang milik almarhum yang memiliki nilai emosional rendah, seperti:
- Peralatan dapur atau Tupperware.
- Alat tulis atau perlengkapan kantor.
- Sepatu olahraga atau barang-barang fungsional yang umum.
3. Pilih "Harta Karun" untuk Dihargai
Tujuan dari decluttering peninggalan duka bukanlah untuk menghapus memori, melainkan untuk mempertahankan kualitas di atas kuantitas.Artinya, tidak perlu menyimpan seluruh koleksi baju atau piring almarhum untuk mengingat mereka.
Pilihlah beberapa benda yang paling mewakili sosok mereka dan letakkan di tempat yang terhormat di rumahmu.
Misalnya, membingkai syal favorit ibu atau menggunakan beberapa cangkir teh terbaik milik ayah yang sudah tiada.
Dengan memberikan tempat istimewa bagi benda-benda terpilih ini, bisa membuat kita merasa lebih tenang saat harus melepaskan sisa barang lainnya yang tidak memberikan dampak emosional yang sama.
4. Navigasi Konflik Keluarga dan Komunikasi
Merapikan barang milik orang tua atau anggota keluarga acap kali melibatkan banyak orang, terutama saudara-saudara sendiri, yang sayangnya bisa memicu ketegangan emosional.Menurut TheClutter Hub, setiap orang memiliki hubungan yang berbeda dengan almarhum dan cara berduka yang tidak sama.
Komunikasi yang jelas sangatlah penting. Cobalah untuk menyepakati "titik temu" tentang barang mana yang semua orang setujui untuk didonasikan dan barang mana yang perlu didiskusikan lebih lanjut.
Kalau masih memungkinkan, tawarkan beberapa benda kepada anggota keluarga lain yang tertarik. Pada waktu sama, pastikan bahwa upaya tersebut tidak dimaksudkan untuk memindahkan beban clutter kepada mereka.
5. Donasi yang Bermakna sebagai Bentuk Penghormatan
Banyak orang merasa bersalah membuang barang yang dianggap "berharga".Namun, mencoba menjual barang peninggalan biasanya malah memperpanjang proses duka dan terasa menyakitkan ketika nilai finansialnya tidak sebanding dengan nilai emosional yang kita rasakan.
Alih-alih menjual, Magnusson menyarankan untuk menyumbangkannya ke organisasi yang akan benar-benar menghargai barang-barang spesifik tersebut.
Misalnya, mendonasikan pakaian kerja ke lembaga yang membantu pencari kerja atau menyumbangkan alat hobi ke komunitas yang membutuhkan.
Dengan mengetahui bahwa barang milik orang terkasih akan memberikan manfaat bagi orang lain yang membutuhkan, kita menemukan cara yang indah untuk menghormati warisan (legacy) mereka.
6. Tetap Sayang pada Diri Sendiri
Proses ini tidak akan berjalan linier.Grief (duka) sering datang dalam gelombang yang tak terduga. Mungkin suatu hari kita merasa sangat produktif, lalu di hari berikutnya kita termenung sendu setelah tak sengaja menemukan foto lama bersama almarhum.
Kalau itu terjadi, hentikan apa pun yang saat itu kamu lakukan. Ambil jeda. Berikan ruang bagi diri untuk merasakan kesedihan tersebut tanpa menghakimi diri sendiri.
Ingat lagi analogi "tab peramban". Fokuslah hanya pada dua atau tiga "tab" utama terlebih dahulu agar kita bisa melihat dengan lebih jernih apa yang sebenarnya dirasakan.
Gunakan "jangkar" penenang, seperti fokus pada napas atau detail kecil yang ada di sekitar kita, untuk menstabilkan diri saat emosi terlalu kuat.
Merapikan barang milik orang tercinta yang telah tiada memang melelahkan, itu jelas.
Seiring dilakukan perlahan, proses ini akan membantu kita untuk menciptakan ruang baru, baik secara fisik maupun emosional, untuk terus melangkah maju sambil tetap menggenggam kenangan mereka di dalam hati.
Simak juga artikel seputar keluarga di sini.
Editor: Sekar Kinasih