diajeng.id - Apa kamu termasuk orang yang santai dan tidak ambil pusing ketika menerima kritik dari orang lain?
Realitasnya, pada banyak orang, kritik kerap menimbulkan perasaan tidak nyaman.
Dikutip dari laman Psychology Today, kita semua perlu nyaman dengan diri sendiri. Maka dari itu, saat ada orang lain menilai diri kita secara negatif, segala keraguan tentang diri mungkin akan langsung muncul ke permukaan.
Di balik itu, adakah manusia di dunia ini yang tidak punya keraguan tentang nilai, kebaikan, kompetensi, atau daya tarik dirinya sendiri?
Tentu saja, ada konteks yang perlu diperhatikan saat kita menyikapi persoalan tentang kritik.
Misalnya, saat anak berusia 4 tahun mengkritik kita, kecil kemungkinannya kita tersinggung. Sebab, kita tidak memberikan wewenang pada anak sekecil dan selugu itu untuk membuat penghakiman. Nah, situasinya tentu berbeda jika yang mengkritik kita adalah orang dewasa.
Apa yang Membuat Kita Rentan terhadap Kritik?
Sedari kecil, banyak dari kita tumbuh dengan kritik.
Orang tua, guru, atau pengasuh pasti pernah menegur, mengoreksi, dan memberi nasihat agar kita jadi pribadi lebih baik dan bisa diterima oleh lingkungan.
Menariknya, seiring beranjak dewasa, sebagian dari kita suka mengaitkan kritik dengan rasa bersalah, malu, atau tidak cukup baik. Setiap penilaian negatif, bahkan yang ringan atau sepele, bisa membangkitkan kembali luka lama tentang kekurangan diri sendiri.
Pendek kata, mungkin rasanya seperti kembali menjadi anak kecil yang ditegur karena berbuat salah.
Apabila kita berpegang pada logika, satu komentar pun tidak akan mampu mendefinisikan nilai diri kita seutuhnya. Meski begitu, emosi sering berkata lain.
Pencapaian dan keberhasilan belum tentu cukup untuk melindungi diri dari perasaan tersinggung atau diserang.
Jika penghargaan terhadap diri belum benar-benar tertanam kuat, kritik jadi terasa seperti ancaman.
Masih melansir artikel lain dari laman Psychology Today, kritik yang maksudnya tulus dan membangun pun sering kali terasa seperti serangan langsung terhadap orang yang dikritik.
Serangan akan terasa semakin nyata bagi mereka yang melekatkan identitas diri dengan pandangan, keputusan, atau cara berpikirnya.
Begitu seseorang mempertanyakan apa yang diyakininya, seolah-olah diri sendiri pula yang sedang dipertanyakan. Tak heran, keseimbangan mental dan emosional ikut goyah.
Dalam momen seperti itu, cara terbaik untuk menekan “tombol reset” adalah dengan mengingatkan diri sendiri bahwa kita tetap baik-baik saja, bahkan ketika sedang membuat kesalahan.
Tidak perlu buru-buru membela diri, karena penilaian diri kita tidak mutlak ditentukan oleh pandangan orang lain.
Namun, mencapai penerimaan diri seperti itu bukan hal mudah.
Ketika ego terluka, reaksi pertama yang umum dilakukan adalah bertindak defensif, seperti melawan, menyangkal, membalikkan keadaan, atau diam dan menarik diri, bahkan menyerang balik.
Meskipun tidak mencerminkan kedewasaan emosional, reaksi tersebut lumrah karena merupakan bentuk perlindungan diri yang sangat manusiawi. Kita hanya berusaha mengembalikan rasa aman yang sempat terguncang.
Pertanyaan menarik selanjutnya, mengapa kita cenderung bersikap defensif ketika dikritik?
Menurut VeryWell Mind, reaksi defensif bertujuan untuk melindungi diri kita dari perasaan terluka atau malu.
Mekanisme pertahanan ini mungkin berkembang dari memori masa kecil ketika kita berada di bawah pola pengasuhan keras, pelecehan, atau pengabaian.
Ini juga bisa muncul karena penolakan teman sebaya (perundungan) atau pengalaman dilecehkan oleh pasangan yang narsistik dalam hubungan romantis.
Kita mungkin secara tegas menyangkal umpan balik yang diterima, secara impulsif membenarkan keputusan itu, atau mencari-cari alasan untuk berdalih.
Kita juga mungkin mengalihkan perhatian pada kesalahan orang lain.
Memang betul, dengan bersikap defensif, perasaan hati jadi lebih baik. Namun, efek itu hanya sebentar.
Dampak jangka panjangnya justru berisiko memperburuk relasi sosial. Jika kita membalas kritik dengan menyebut kelemahan orang yang mengkritik kita, bukan tidak mungkin dia juga bersikap defensif.
Akibatnya, muncul siklus perilaku defensif yang mungkin tidak disadari oleh kedua belah pihak.
Tanda-tanda Orang Bersikap Defensif saat Dikritik
Ketika merasa dikritik, tubuh dan pikiran sering kali langsung bereaksi sebelum sempat berpikir jernih.
Tanpa sadar, kita masuk ke dalam "survival mode" alias mode bertahan hidup.
Alih-alih mendengarkan kritik dari orang lain, yang kita lakukan adalah melindungi diri dari rasa tersinggung atau malu.
Coba perhatikan, apakah ada perilaku berikut kamu lakukan saat dikritik:
- Berhenti mendengarkan dan segera mengakhiri percakapan.
- Menjauh, menutup telepon, atau bahkan membanting pintu.
- Membuat alasan atas hal yang dikritik.
- Menyalahkan orang lain atas kesalahan yang disorot.
- Menuduh balik bahwa orang lain melakukan hal yang sama.
- Mencoba membenarkan tindakan sendiri dengan berbagai penjelasan.
- Mengungkit kesalahan lama orang lain untuk mengalihkan topik dari masalah yang sedang dibahas.
- Mengatakan bahwa orang lain “tidak seharusnya merasa seperti itu”.
Dengan mengenal pola-pola tersebut, bukan artinya kita jadi menyalahkan diri sendiri.
Identifikasi di atas perlu dilakukan sebagai langkah awal agar kita bisa menahan jeda sebelum merespons, memberi ruang bagi diri untuk benar-benar mendengarkan tanpa merasa diserang.
Tips Menyikapi Kritik Tanpa Terjebak dalam Sikap Defensif
Mengutip Wonder Mind, ada beberapa cara untuk membantu mengurangi rasa sakit akibat kritik, atau setidaknya, membantu kita menemukan makna dalam kata-kata yang mungkin tidak disukai.
1. Minta Klarifikasi
Kritik sering kali terasa menyakitkan karena ditafsirkan sebagai serangan pribadi, padahal belum tentu demikian.Coba, pahami maksud sebenarnya di balik kata-kata tersebut. Tanyakan lebih lanjut, “Kenapa menurutmu begitu, ya?” atau “Bisa dijelaskan lebih detail?"
Dengan mengajukan pertanyaan sederhana demikian, kita dapat membuka ruang pemahaman, alih-alih perlawanan.
2. Anggap sebagai Perbedaan Pendapat
Tidak semua kritik berarti kesalahan. Persoalannya bisa jadi sesimpel pandangan yang berbeda.Dalam banyak situasi, orang lain menilai berdasarkan sudut pandangnya sendiri, termasuk atasan, rekan kerja, atau teman.
Dengan menganggap kritik tak lebih sebagai perbedaan pandangan, beban emosional jadi pikiran dan pikiran tetap terbuka.
3. Uji Dulu Sebelum Menolak
Alih-alih langsung menolak, coba perlakukan kritik sebagai eksperimen kecil. Terapkan sebagian sarannya dan lihat apakah hasilnya terasa lebih baik.Kalau tidak berhasil, ingat, selalu ada kesempatan untuk menyesuaikan atau kembali ke cara lama yang diyakini.
Pendekatan ini membuat kritik terasa seperti alat belajar, bukan serangan.
4. Beri Jarak dari Pikiran Negatif
Ketika sebuah komentar terus terngiang dan sulit dilupakan, berlatih memberi jarak bisa membantu.Coba bayangkan kata-kata itu hanya sekilas iklan lewat di layar televisi, bukan kebenaran mutlak. Bisa juga membayangkannya sebagai tulisan berwarna atau gambar lucu yang perlahan memudar.
Teknik sederhana tersebut berpotensi membantu melepas cengkeraman emosi dari pikiran.
5. Tahu Kapan Perlu Ditepis
Tidak semua kritik pantas direspons dengan perlawanan.Dalam situasi tertentu, menahan diri justru lebih bijak, terutama ketika posisi orang yang memberi kritik memiliki pengaruh lebih besar.
Apabila memang perlu menanggapi, fokuslah pada fakta tanpa memperkeruh suasana. Tidak semua perbedaan perlu dijadikan medan perang.
6. Sampaikan Perasaan Secara Jujur
Jika ada ucapan yang terasa menyakitkan, coba ungkapkan perasaa secara jujur.Bisa jadi, orang yang menyampaikan kritik tidak bermaksud menyinggung, melainkan teknik penyampaiannya kurang tepat. Menjelaskan efek dari kata-kata mereka dapat membuka jalan untuk saling memahami.
7. Beri Ruang untuk Merasakan Emosi
Setelah menerima kritik, wajar jika muncul rasa marah, malu, atau kecewa.Tenang, emosi itu semua wajar. Tidak perlu buru-buru menekan atau menangkisnya. Biarkan semua muncul dan mereda dengan sendirinya.
Dengan menerima dan mengakui gejolak-gejolak emosi yang muncul, kita justru akan lebih cepat menenangkan diri.
8. Perlakukan Diri dengan Kelembutan
Kritik bisa mengguncang kepercayaan diri, terutama ketika menyinggung hal yang kita yakini penting.Kalau sudah begitu, coba peluk diri sendiri seperti: beri pengertian, kasih ruang, dan yakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Memberikan empati untuk diri sendiri bisa menjadi penawar paling efektif bagi luka yang ditinggalkan kritik.
Melalui kritik inilah, kita menemukan keseimbangan antara keberanian untuk mendengar dan kebijaksanaan untuk memilih saran apa yang layak diperhatikan demi pengembangan diri lebih baik.
Pada akhirnya, tidak semua kritik dari orang lain itu benar, tetapi setiap kritik bisa mengajarkan sesuatu tentang diri sendiri, tentang orang lain, dan tentang bagaimana menjadi manusia yang sedikit lebih bijak dari kemarin.
Baca juga artikel lain terkait pengendalian diri di sini.
Editor: Sekar Kinasih