diajeng.id - Endometriosis bagi sebagian perempuan masih dirasakan sebagai nyeri menstruasi yang biasa. Padahal, kondisi ini dapat memengaruhi kualitas hidup, aktivitas sehari-hari, hingga peluang untuk memiliki keturunan.
Banyak perempuan baru mengetahui dirinya mengalami endometriosis setelah bertahun-tahun menahan nyeri, mengalami gangguan menstruasi, atau kesulitan hamil.
Pada kondisi ini, jaringan yang mirip lapisan dalam rahim tumbuh di luar rahim dan memicu peradangan kronis. Akibatnya, dapat terjadi perlengketan organ, terbentuk kista coklat, gangguan pada tuba falopi, hingga menurunnya kualitas lingkungan rahim untuk implantasi embrio.
Tidak heran jika endometriosis menjadi salah satu penyebab infertilitas atau gangguan hormonal yang cukup sering ditemukan.
Namun, diagnosis endometriosis bukan berarti harapan untuk hamil jadi tertutup. Penanganan yang tepat dan personal adalah kunci utama. Sebagian pasien masih memiliki peluang hamil alami, sementara yang lain mungkin memerlukan operasi, program hamil, inseminasi (IUI), atau bayi tabung (IVF), tergantung kondisi masing-masing.
Webinar "Endometriosis dan Program Hamil" dari dr. Nogi E. Prasetiyo, Sabtu (16/5/2026) membahas tentang bagaimana endometriosis memengaruhi kesuburan, kapan operasi benar-benar diperlukan, serta bagaimana menentukan strategi promil yang paling sesuai berdasarkan usia, cadangan ovarium, kondisi tuba, hingga riwayat medis pasien.
Endometriosis Tidak Selalu Sama pada Setiap Perempuan
Endometriosis, kata dr. Nogi, memiliki spektrum yang sangat luas. "Ada pasien dengan kista kecil tetapi nyerinya sangat berat, sementara ada juga pasien dengan kelainan cukup luas namun gejalanya minimal."
Kadang-kadang, endometriosis juga bisa tertukar dengan kondisi lainnya, seperti adenomiosis, miom, atau kista coklat.
"Karena itu, diagnosis tidak bisa hanya berdasarkan satu pemeriksaan saja. USG, MRI, hingga laparoskopi dapat digunakan sesuai kebutuhan pasien," sebut dr. Nogi.
Saat ini, laparsakopi masih menjadi pilihan yang baik demi memastikan endometriosis karena dokter dapat melihat kondisi organ secara langsung.
Ia menyatakan, endometriosis dapat memengaruhi kesuburan melalui berbagai mekanisme sekaligus. Peradangan kronis yang terjadi di rongga panggul dapat menyebabkan perlengketan antarorgan reproduksi sehingga proses pembuahan menjadi lebih sulit.
Pada beberapa pasien, tuba falopi dapat tersumbat atau mengalami hydrosalpinx, yaitu kondisi tuba membengkak berisi cairan yang dapat menurunkan peluang implantasi embrio hingga sekitar 50 persen.
Selain itu, endometriosis juga dapat memengaruhi kualitas sel telur dan cadangan ovarium. "Inilah alasan mengapa pemeriksaan AMH menjadi sangat penting dalam menentukan strategi promil," ucapnya.
Menurut dr. Nogi, keputusan program hamil tidak boleh hanya berdasarkan satu faktor saja. Usia, AMH, kondisi tuba, kualitas sperma, ukuran kista, hingga riwayat operasi semuanya perlu dipertimbangkan secara menyeluruh.
Kapan Masih Bisa Coba Hamil Alami?
Tidak semua pasien endometriosis harus langsung menjalani IVF. Pada pasien dengan usia di bawah 35 tahun, cadangan ovarium cenderung masih baik, tuba normal, dan ukuran kista kecil, sehingga peluang hamil alami masih cukup baik.
Biasanya dokter dapat memberikan waktu observasi sekitar 6-12 bulan sambil memantau siklus ovulasi dan perkembangan gejala.
Namun, jika terdapat faktor tambahan seperti kualitas sperma yang kurang optimal atau gangguan ringan pada tuba, inseminasi atau IUI dapat dipertimbangkan sebagai langkah berikutnya.
Lantas, kapan operasi dibutuhkan? Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul adalah apakah semua kista endometriosis harus dioperasi. Jawabannya: tidak selalu.
Berdasarkan penjelasan dr. Nogi, operasi umumnya dipertimbangkan apabila ukuran kista lebih dari 4 cm, nyeri yang dirasakan sangat berat, hydrosalpinx, ada gangguan anatomi panggul, atau terdapat endometriosis dalam yang melibatkan usus maupun kandung kemih.
"Operasi dapat dipertimbangkan bila kista mengganggu akses pengambilan sel telur pada program IVF," imbuhnya.
Untuk tindakan operasi sendiri, perlu dipikirkan secara matang karena setiap operasi ovarium dapat menurunkan cadangan ovarium atau AMH sekitar 15–30 persen. Risiko ini bahkan dapat meningkat pada operasi berulang.
Oleh karena itu, dr. Nogi menekankan bahwa operasi harus memiliki tujuan yang jelas, alih-alih dilakukan secara rutin tanpa indikasi kuat.
Sebaiknya IVF atau Operasi yang Didahulukan?
Pada beberapa pasien, keputusan tersulit justru menentukan mana yang harus didahulukan: operasi atau IVF.
Jika pasien memiliki usia di atas 35 tahun dengan AMH rendah, dokter cenderung lebih berhati-hati terhadap tindakan operasi karena khawatir cadangan ovarium semakin menurun. Dalam kondisi seperti ini, IVF bisa menjadi prioritas agar kesempatan mendapatkan sel telur tetap terjaga.
Sebaliknya, apabila pasien memiliki kista besar, nyeri berat, atau gangguan anatomi yang signifikan, operasi dapat dilakukan terlebih dahulu untuk memperbaiki kondisi panggul sebelum menjalani promil.
Simak juga artikel seputar kesuburan di sini.
Editor: Sekar Kinasih