diajeng.id - Apa kamu hobi mendengarkan musik keras-keras di headphone atau earphone? Meskipun rasanya memuaskan dan melegakan, kebiasaan ini perlu diwaspadai.
Selain meningkatkan risiko gangguan pendengaran, mendengarkan musik keras-keras dapat dikaitkan dengan berbagai bahaya lain yang memengaruhi kualitas hidup, termasuk masalah kognitif, peningkatan risiko jatuh, hingga demensia.
Studi berjudul “Hearing and sociality: the implications of hearing loss on social life” yang terbit di Frontiers in Neuroscience (2023) menjelaskan bahwa ketika bayi, manusia sudah lebih peka terhadap suara daripada penglihatan, dibandingkan dengan orang dewasa.
Inilah bukti betapa fundamentalnya peran pendengaran dalam kemampuan berbahasa.
Dalam interaksi interpersonal yang kaya dan mendalam, kita mengutarakan pikiran dan perasaan dengan berbicara dan saling mendengar, dengan penuh empati dan welas asih.
Pendek kata, mendengar menjadi syarat vital untuk kita berbicara.
Namun, bagaimana jika fungsi pendengaran kita menurun atau hilang sepenuhnya? Benarkah gangguan pendengaran mengintai semua usia? Bagaimana gangguan pendengaran dapat secara signifikan meningkatkan risiko kita mengalami demensia?
Gejala Gangguan Pendengaran
Terganggunya proses pendengaran tergolong sebagai disabilitas sensorik yang cukup umum.
Penyebab gangguan pendengaran bermacam-macam. Namun, hampir 50 persen kasus bermula dari kondisi genetik.
Melansir situs Kementerian Kesehatan RI, gejala gangguan pendengaran dapat timbul pada salah satu atau kedua telinga, bergantung pada variasi tingkat keparahan.
Apa saja gejalanya?
Pertama, kamu merasa kesulitan mendengar pembicaraan orang lain secara jelas, khususnya ketika situasi ramai.
Kedua, kamu sering meminta temanmu yang berbicara untuk mengulang pembicaraan.
Ketiga, kamu cenderung mendengarkan musik atau televisi lebih keras dari orang biasanya.
Keempat, kamu kesulitan mendengarkan menggunakan gawai atau telepon. Selanjutnya, kamu sering kesulitan mendengar jika orang berbicara tidak berhadapan.
Jika kamu banyak merasakan gejala ini, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter ahli.
Siapa yang Berpotensi Alami Gangguan Pendengaran?
Menurut WHO, lima persen penduduk dunia atau sekitar 430 juta jiwa orang, termasuk di dalamnya 34 juta anak-anak, memerlukan rehabilitasi untuk mengatasi gangguan pendengaran yang menyebabkan disabilitas.
WHO memperkirakan, pada tahun 2050, 1 dari 10 orang atau lebih dari 700 juta orang akan mengalami gangguan pendengaran.
Sementara itu, di Amerika Serikat, sekitar 5 persen orang dewasa usia 45-54 menderita gangguan pendengaran yang menjadi disabilitas. Persentase tersebut meningkat pada kelompok usia lebih tua, 10 persen pada usia 55-64, 22 persen pada usia 65-74, dan 55 persen pada usia 75 tahun ke atas.
Yang memprihatinkan, gangguan pendengaran tak hanya menyasar kalangan berusia senja, melainkan juga yang masih tergolong muda.
Mengutip artikel di The Lancet (2024), sekitar 50 persen individu berusia 12 hingga 35 tahun berisiko mengalami gangguan pendengaran akibat paparan suara tinggi dari aktivitas senggang sehari-hari, sebut di antaranya dari perangkat audio, acara olahraga, konser, dan kegiatan bising lainnya.
Hubungan Pendengaran dan Demensia
Meski kerap disepelekan, gangguan pendengaran yang tidak diatasi dapat dikaitkan dengan risiko demensia, terutama pada orang tua yang kondisi kesehatannya lebih rentan.
Penting diingat, otak adalah organ utama dalam proses mendengarkan.
Seperti dikutip dari artikel ilmiah “Hearing and dementia: from ears to brain” di jurnal Brain (2021), “Kita mendengar dengan otak, terutama dalam lanskap suara yang kompleks dalam kehidupan sehari-hari: patologi neurodegeneratif menargetkan otak pendengaran, sehingga diperkirakan akan merusak fungsi pendengaran secara dini dan mendalam.”
Dalam uji klinis ACHIEVE Collaborative Research Group di Amerika Serikat yang hasilnya diterbitkan di jurnal The Lancet (2023), tim pimpinan Frank Lin dan Josef Coresh meneliti orang tua usia 70-84 tahun dengan gangguan pendengaran yang belum ditangani dan tidak memiliki gangguan kognitif substansial.
Grup ini dikelompokkan menjadi dua, 238 orang yang sebelumnya pernah diteliti untuk risiko penyakit kardiovaskular, dan 739 orang sukarelawan baru dengan riwayat kesehatan baik.
Hasilnya, intervensi pendengaran dengan edukasi konseling dan alat bantu dengar memberikan manfaat besar bagi grup pertama dengan risiko penyakit jantung. Kelompok ini juga cenderung berusia lebih tua dan berisiko lebih tinggi mengalami penurunan kemampuan kognitif daripada grup kedua.
Intervensi pendengaran yang mereka peroleh ternyata dapat mengurangi perubahan kognitif sebesar 48 persen selama 3 tahun.
Pendeknya, orang tua yang memiliki gangguan pendengaran dengan kondisi jantung dan kemampuan kognitif rentan perlu mendapatkan intervensi pendengaran sesegera mungkin agar terhindar dari risiko pikun.
Terdapat beberapa alasan kuat mengapa masalah pendengaran berpotensi meningkatkan risiko demensia.
Pertama, isolasi sosial. Kesulitan mendengar membuat orang cenderung menarik diri dari pergaulan dan akhirnya mengisolasi diri.
Di satu sisi, isolasi sosial merupakan faktor risiko demensia pada kelompok usia tua.
Demikian temuan dari dua riset dari Johns Hopkins University School of Medicine dan Bloomberg School of Public Health yang hasilnya dipublikasikan pada 2023 lalu.
“Salah satu kemungkinan penjelasannya, berkurangnya kesempatan bersosialiasi juga mengurangi keterlibatan kognitif, yang berpotensi berkontribusi pada peningkatan risiko demensia,” tambahnya lagi.
Perubahan struktur otak juga dapat menjelaskan kaitan gangguan pendengaran dan risiko demensia.
Dalam tinjauan naratif di Journal of the Chinese Medical Association (2024), Alison Huang dan Frank Lin menyampaikan bahwa bagian otak yang berfungsi untuk pendengaran (korteks auditori) dapat mengalami penyusutan. Hal ini dapat memengaruhi fungsi kognitif lainnya.
Risiko demensia pada mereka dengan gangguan pendengaran juga tidak bisa dipisahkan dari beratnya beban kognitif.
Otak harus bekerja sangat keras untuk mencoba memahami suara jika pendengaran terganggu. Kerja keras ekstra ini dapat menguras energi otak, sehingga fungsi kognitif lain menjadi terabaikan dan berpotensi mempercepat penurunan daya ingat.
* Artikel ini merupakan kolaborasi Diajeng dan Senja, komunitas berbasis di Jabodetabek yang mengadvokasikan edukasi bagi family caregiver serta kegiatan bagi warga senior agar berdaya dan mandiri.
Penulis: Dewi Ananda
Editor: Sekar Kinasih