Menuju konten utama

Memimpin dengan Empati: Mengapa Cara Manusiawi Justru Efektif?

Menahan ego, membuka diri pada masukan, dan berani mengakui kesalahan adalah perilaku mulia yang membuat pemimpin jadi lebih dipercaya.

Memimpin dengan Empati: Mengapa Cara Manusiawi Justru Efektif?
Header Diajeng Jadi Girlboss Asyik. tirto.id/Quita

diajeng.id - Di dunia kerja yang dinamis, tak jarang kita berjumpa dengan atasan, manajer, atau bos yang perilakunya sering kali tidak menyenangkan kepada para bawahannya.

Beberapa sikap bos yang tidak menyenangkan ini seperti berbohong soal urusan pekerjaan, memperlakukan karyawan secara berbeda atau pilih kasih, bahkan sering mengambil keputusan sepihak tanpa mau mendengarkan masukan tim.

Laman Forbes menuliskan, sifat bos yang tak menyenangkan juga bisa dilihat dari caranya yang memberikan beban kerja yang tak realistis, tenggat yang memaksa, hingga kebiasaan melempar tanggung jawab ke bawahan membuat tim kelelahan alih-alih berkembang.

Tak hanya itu, sifat menyakitkan lainnya juga sering mengambil ide bawahan agar ia yang mendapatkan apresiasi dan pujian, sampai tak mau memberikan kesempatan karyawan untuk tumbuh dan berkembang.

Padahal, di era sekarang, kepemimpinan justru bisa menjadi semakin kuat ketika dibangun dengan vibe positif, empati, dan keaslian diri.

Kalau kalian diberi amanah untuk menjadi pemimpin bagi staf-staf lainnya, apa strategi agar tetap produktif sekaligus memanusiakan pegawai?

Dalam laman Psychology Today, Peter Bregman melakukan sesi wawancara dengan penulis buku Radical Candor: Be a Kickass Boss Without Losing Your Humanity (2017), Kim Scott.

Berdasarkan pengalaman Kim, kepemimpinan yang “asyik” ternyata bukan soal selalu bersikap baik atau ingin disukai.

Scott bercerita tentang Bob, pegawainya yang cerdas dan menyenangkan. Sayangnya, kinerjanya buruk.

Di satu sisi, Scott menunjukkan jebakan empati yang keliru. Karena takut menyakiti perasaan Bob dan ingin terlihat seperti pemimpin yang populer, Scott malah menahan kejujuran.

Umpan balik yang seharusnya disampaikan dengan jelas pada Bob justru dibungkus pujian kosong, kritik ditahan, dan masalah dibiarkan berlarut-larut.

Dampaknya bukan hanya pada tim yang harus menutup kekurangan Bob, tapi juga pada Bob sendiri.

Ketika akhirnya Bob dipecat, pertanyaan darinya sangat menohok, “Kenapa tidak ada yang bilang?”

Di situlah Scott menyadari kegagalannya sebagai pemimpin.

Scott kemudian menegaskan bahwa kepemimpinan yang sehat berdiri di antara dua titik ekstrem, yaitu empati yang berlebihan hingga menghindari kejujuran, dan ketegasan dingin tanpa kepedulian.

Menurut Scott, pemimpin yang benar-benar asyik justru berani jujur karena peduli, mengatakan hal sulit sejak awal agar orang lain punya kesempatan tumbuh, bukan terluka di akhir.

Tips lainnya agar kepemimpinan terasa lebih asyik sekaligus berdampak juga dibahas oleh Elissa L. Perry dari TC, penulis buku Human Resources for the Non-HR Manager (2004) dengan rekannya Carol T. Kulik dari University of South Australia di situs Teachers College Columbia University.

Pertama, sadari bahwa menjadi bos yang baik bukan bakat bawaan, melainkan keterampilan yang dipelajari.

Manajemen, terutama soal manusia, perlu diperlakukan sebagai “ilmu”, alih-alih sekadar intuisi atau akal sehat.

Semakin serius seorang pemimpin mengembangkan keterampilan Sumber Daya Manusia (SDM), semakin kuat pula hasil tim dan perjalanan kariernya sendiri.

Kedua, definisikan kesuksesan dengan jelas.

Tim tidak bisa bekerja dengan baik jika standar kinerja samar.

Pemimpin yang asyik mampu menjelaskan apa arti “kerja yang baik”, bagaimana mengukurnya, dan memberi umpan balik yang adil tanpa terjebak bias atau penilaian sesaat.

“Sebelum dapat menilai kinerja karyawan atau membimbing mereka menuju kinerja yang lebih baik, kamu perlu mengetahui dengan jelas tentang seperti apa kinerja yang baik dan bagaimana hal itu dapat diukur,” saran Perry dan Kulik.

Ketiga, seimbangkan peran sebagai hakim dan pelatih.

Menilai kinerja itu penting, tapi membantu orang bertumbuh jauh lebih berdampak.

Pemimpin yang efektif tidak hanya menunjuk kesalahan, tapi juga membekali tim dengan alat dan arahan untuk berkembang.

Terakhir, bangun dialog dan akuntabilitas dua arah.

Rajin meminta umpan balik, peduli pada kesejahteraan tim, dan menciptakan hubungan berbasis kepercayaan membuat orang merasa dihargai dan ingin bertahan.

Di situlah kepemimpinan yang positif bekerja: tegas, manusiawi, dan saling menguatkan.

“Setiap hubungan itu unik. Namun kamu dapat menemukan cara untuk terhubung dengan karyawan yang berbeda sehingga ada rasa kepercayaan dalam setiap hubungan kerja,” tutup Perry dan Kulik.

Dilansir Scientific American, kepemimpinan yang asyik berakar pada kerendahan hati dan kesadaran diri.

Menahan ego, membuka diri pada masukan, dan berani mengakui kesalahan adalah perilaku mulia yang membuat pemimpin jadi lebih dipercaya.

Memberi ruang bagi tim untuk punya kendali, sekecil apa pun, juga akan membantu mereka merasa dihargai sebagai manusia, bukan sekadar pekerja.

Selain itu, budaya kerja yang sehat juga memberi izin pada pegawai untuk beristirahat dan benar-benar “lepas” saat di luar jam kerja, karena performa terbaik lahir dari keseimbangan alih-alih burnout atau kelelahan.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih