diajeng.id - Rachel Green hampir saja menghancurkan pernikahan Ross dengan rencananya untuk menyatakan cinta pada laki-laki tersebut di hari pernikahannya.
Ia baru menyadari betapa ia masih mencintai Ross ketika ia akan menikahi perempuan lain.
Tanpa pikir panjang, Rachel memutuskan untuk pergi ke London dan memberitahu Ross tentang isi hatinya.
“Aku harus bilang ke Ross kalau aku cinta dia,” katanya pada Phoebe yang berusaha mencegahnya pergi, “Itu belum usai sampai seseorang mengatakan ‘I do’.”
Meski selalu digambarkan sebagai sosok manja dan egois, momen ini sepertinya berhasil membuat sejumlah pemirsa merasa geram dengan karakter Rachel.
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa tindakannya dapat menghancurkan kebahagiaan orang lain.
Di dalam semesta hidup Rachel, Ross akan bahagia jika mengetahui dia masih sangat mencintainya.
Rachel bahkan berharap Ross akan menyambut kembali perasaannya, mungkin lebih memilihnya dibandingkan calon istrinya, tanpa mempertimbangkan keseriusan dan kedalaman hubungan mereka.
Salah satu pemeran utama dalam serial sitkom populer Friends ini dapat dipastikan mengidap Main Character Syndrome (MCS) atau sindrom pemeran utama yang ekstrem.
Alih-alih diagnosis klinis, MCS merupakan istilah populer yang berkembang dari ranah media sosial untuk menggambarkan kepribadian orang narsistik dan egois.
Menurut psikolog Susan Albers, dikutip dari Cleveland Clinic, mungkin lebih pas jika kita menyebutnya sebagai energi pemeran utama, alih-alih sebuah sindrom.
Ia dapat didefinisikan sebagai pandangan dunia yang berpusat pada diri sendiri. Pendek kata, orang dengan energi tersebut melihat diri sendiri sebagai protagonis utama dalam kehidupan.
Seiring itu, mereka tidak sungkan untuk meromantisasi atau memperumit masalah-masalah remeh atau sepele. Tujuannya tak lain untuk menciptakan kesan atau perasaan bahwa mereka sudah melewati perjuangan super keras.
Ya, seperti di film-film, poin tersebut merujuk pada kematangan dalam tahap character development—perkembangan karakter.
Tak hanya itu, mereka juga akan bertingkah sesuai narasi skenario yang sudah terpatri di otaknya.
“Kalian melihat diri sendiri melalui lensa cerita, seperti kalian berada di film atau acara TV, dan sorotan selalu tertuju pada kalian,” kata Albers.
@ashlaward Take a second and listen #fyp#foryou#aesthetic#lovelife#drone background song: @hannah_harpist
♬ A Moment Apart - ODESZA - Ashley Ward
Ditilik dari beberapa karakteristiknya, orang dengan energi pemeran utama bisa jadi memiliki karakter yang berkaitan dengan perilaku-perilaku Narcissistic Personality Disorder (NPD) atau gangguan kepribadian narsistik.
“Pada orang yang memiliki gangguan kepribadian narsistik, kalian akan melihat buktinya sepanjang hidup mereka dan dalam berbagai konteks dalam hubungan mereka di tempat kerja dan di rumah,” jelasnya.
Menariknya, perilaku-perilaku orang dengan energi aktor utama ini terlihat pada momen-momen tertentu.
Kadang-kadang, aksinya juga terkesan sepele sehingga kita tidak sadar atau memang tidak merasa perlu sampai repot-repot menegurnya.
Contohnya bisa ditemukan pada pengendara mobil yang suka mempertahankan volume stereo radio tetap keras ketika jam malam sudah tiba, mobilnya sudah memasuki garasi rumah, sedang isi bensin di pom, atau bahkan saat terjebak di lampu merah.
Dia bisa jadi hanya ingin mengirim sinyal pada keluarganya bahwa dirinya sudah tiba di rumah, atau sesederhana untuk menunjukkan eksistensinya di tengah keramaian.
Energi serupa mungkin juga terpancar dari kebiasaan rekan kerjamu menyematkan headphone sambil menyanyi dengan kencang.
Suaranya memang merdu, tetapi suasana kantor begitu sepi. Dia tidak peduli pada orang lain yang berusaha fokus pada pekerjaannya.
Jika kamu suka berselancar di ranah perkontenan digital, kamu mungkin sempat berpapasan dengan sebuah video viral tentang anak laki-laki yang berteriak sekeras-kerasnya tanpa mengambil napas sebelum mengatakan, “It’s chem time baby!”
Dia melakukan ini setiap kali memasuki ruang kelas untuk pelajaran kimia yang bikin semua orang otomatis menoleh kepadanya.
Singkat kata, momen-momen karakter utama diciptakan dengan mempertimbangkan reaksi yang mungkin muncul dari orang-orang di sekitarnya.
Bagi mereka, selain menjadi bintang di hidupnya sendiri, mereka juga harus memastikan bahwa dirinya adalah pemeran utama di kehidupan orang lain.
Kamu dapat menemukan mereka di mana-mana.
Misalnya ketika seseorang menyerobot antrian atau mengebut di jalan karena sedang “terburu-buru”, menelepon atau mendengarkan musik dengan keras di dalam transportasi umum, mengangkat gawai tinggi-tinggi untuk merekam konser sampai menutupi pandangan penonton di belakang.
Kepentingan mereka adalah yang nomor satu.
Bagian paling menyebalkan dari orang dengan energi pemeran utama adalah ketika mereka sudah membicarakan dirinya sendiri. Pengalaman dan cerita orang lain tidak ada bandingannya dengan kisah hidupnya yang luar biasa.
Psikolog klinis Michael G. Wetter dalam wawancara dengan Newsweek pada 2021 menuturkan, keinginan untuk diakui dan divalidasi adalah sifat alami manusia.
Semua orang punya kecenderungan untuk menumbuhkan energi ini karena kita semua pada dasarnya menikmati berdiri di bawah lampu sorot.
Namun demikian, cara pandang ini berbahaya karena kita tidak lagi memandang orang lain sebagai manusia, melainkan hanya Non-Player Character (NPC) atau “extras” yang tidak terlalu menyumbang signifikansi pada alur cerita utama.
Kita akan jadi sosok yang tidak peka dan sulit prihatin dengan pengalaman orang lain-lain.
Padahal, setiap orang tentu merasa dirinya penting. Artinya, berbeda dari cerita di film-film yang hanya menyorot satu figur penting, di kehidupan nyata semua orang adalah pemeran utama.
Rachel mungkin dapat menganggap pernikahan Ross sekadar rintangan dalam kisah cinta mereka. Toh dia memang pemeran utama yang akhirnya dipasangkan dengan Ross.
Yang perlu direnungi betul-betul, apa alasan kita untuk bersikap seperti pusat dunia ketika Bumi tidak pernah mengelilingi Matahari untuk satu orang saja?
Penulis: Yolanda Florencia Herawati
Editor: Sekar Kinasih