diajeng.id - Ada malam-malam ketika aku hanya bisa diam terduduk di samping kasur, menatap wajah anakku yang sudah terlelap dalam tidurnya.
Di antara deru tarikan napasnya yang terdengar teduh, tanpa terasa mataku tiba-tiba perih dan ada tirta yang turun, basah oleh air mata penyesalan.
Beberapa jam sebelumnya aku menaikkan suara agak tinggi, meluapkan emosi yang seharusnya bisa kutahan.
Kini, ketika ia tidur tanpa tahu betapa sakit hatiku sendiri, aku merasa seperti ibu yang gagal menjaga hatinya.
Menjadi seorang ibu ternyata bukan sekadar memberi makan, memandikan, atau menyiapkan segala kebutuhan anak.
Aku sebagai ibu juga manusia.
Terkadang ada hari-hari yang diisi rasa lelah bercampur dengan pikiran yang penuh, lalu tanpa sadar aku melepaskannya dalam bentuk amarah. Bukan karena anakku berbuat salah besar, melainkan lebih karena aku sendiri sedang berada dalam kondisi rapuh.
Saat itulah ada luka yang timbul. Rasa bersalah yang menyesakkan dada, air mata yang jatuh tanpa bisa dibendung.
Aku tahu, marah bukan solusi, apalagi pada anak kecil yang baru belajar mengenal dunia dan memahami dinamikanya.
Meski begitu, di balik setiap tangisan, aku juga sadar mengakui kesalahan pada anak bukan berarti aku kehilangan wibawa.

Justru di situlah aku bisa mengajarkan bahwa orang dewasa pun bisa keliru. Di balik itu, yang terpenting adalah keberanian untuk meminta maaf dan memperbaiki.
Pernah ada satu momen yang sangat membekas. Setelah memarahi anakku, aku datang menghampirinya yang sedang duduk diam. Matanya berkaca-kaca.
Pelukan kecil itu pastinya sangat menamparku sekaligus menguatkanku. Mengapa anakku mudah sekali memberi maaf, sementara aku kadang begitu pelit memberi diriku sendiri ruang untuk salah.
Perawat berpengalaman Colleen Adrian menulis, merasa bersalah setelah membentak anak atau kehilangan kesabaran terhadap mereka adalah hal yang wajar. Itu karena seorang ibu punya hati nurani dan ingin berbuat baik kepada anak-anaknya.
Di satu sisi, kehilangan kesabaran dan membentak terkadang juga wajar, karena ibu juga manusia.
"Itu manusiawi dan nyata. Karena, semua manusia terkadang kehilangan kesabaran, dan dengan begitu, itu adalah pengalaman manusia yang normal," jelas Colleen.
Justru karena itu nyata dan wajar, ibu dan anak berpotensi mempelajari sesuatu yang sangat berharga dari pengalaman tersebut, selama mereka mau meluangkan waktu untuk mengendalikan diri dan kemudian memperbaikinya.
Itu karena anak-anak juga akan melakukan kesalahan pada suatu saat, dan mereka perlu tahu apa yang harus dilakukan.
Anak Belajar Pelajaran Hidup yang Tak Ternilai
Anak-anak belajar banyak hal dari ibunya, termasuk bagaimana cara memperbaiki diri.
Saat seorang ibu terpancing emosi dan membentak anak, lalu menyadari kesalahannya, mengambil waktu sejenak untuk menenangkan diri, dan kemudian memperbaiki keadaan bersama sang anak, di situlah sebenarnya ia sedang mengajarkan keterampilan berharga, yaitu bagaimana cara memperbaiki hubungan.
Pelajaran ini akan menjadi bekal penting yang dibawa anak sepanjang hidupnya.
Ketika seorang ibu mau bertanggung jawab penuh atas kehilangan kendalinya, baik berupa kata-kata maupun sikap, dan berani memperbaiki hubungan, ia sekaligus melindungi anak dari rasa malu yang merugikan diri dan berbagai hal toksik lainnya.
Mengapa begitu? Karena anak-anak cenderung mudah menyalahkan diri sendiri, apalagi jika orang tua menimpakan kesalahan kepada mereka.
Ungkapan seperti, “Kalau kamu tidak melakukan ini, Ibu tidak akan marah,” justru menanamkan luka.
Rasa malu yang toksik membuat anak percaya bahwa pada dasarnya terdapat "kekurangan" atau "cacat" pada dirinya, dan bahwa kesalahannya menentukan siapa ia sebagai pribadi.
Dengan memperbaiki diri, ibu perlu menunjukkan bahwa tindakan marah itu bukan salah anak, sehingga harga diri anak tetap terjaga.
Masih melansir pandangan Adrian, anak-anak juga belajar bahwa membuat kesalahan bukanlah akhir dari segalanya.
Anak paham bahwa tidak apa-apa berbuat salah, asalkan berani memperbaikinya. Dari situlah tumbuh lingkungan penuh kasih, tempat anak belajar bertumbuh dengan hati yang sehat.
Aku pun mulai merenungi dan mulai belajar bahwa marah bukan akhir dari segalanya.
Ada kesempatan kedua yang bisa kutawarkan. Kesempatan itu adalah untuk meminta maaf, untuk memperbaiki, untuk menunjukkan bahwa hubungan ibu dan anak bukan hanya tentang aturan, tapi juga tentang kejujuran hati.
Anak butuh tahu bahwa orang tuanya pun sedang belajar, dan dari situ ia akan belajar pula tentang empati, kerendahan hati, dan cinta yang tulus.
Pentingnya Ibu Mengakui & Meminta Maaf atas Kemarahan
Kumala Windya, M.Psi, Psikolog, dosen dari Fakultas Psikologi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mengatakan seorang ibu perlu mengakui dan meminta maaf atas kemarahannya kepada anak.
Beberapa manfaatnya antara lain:
1. Validasi perasaan anak:
Saat ibu meminta maaf, anak merasa perasaannya diakui. Ia tahu bahwa rasa sedih atau takut yang muncul akibat kemarahan ibu itu nyata dan penting untuk didengar."Anak belajar bahwa emosinya penting dan diakui. Anak merasa 'dilihat' dan dihargai," ujar Kumala.
2. Modeling (contoh nyata):
Ketika melihat ibunya berani mengakui kesalahan, ia memahami bahwa orang dewasa pun bisa salah, dan yang terpenting adalah keberanian untuk memperbaikinya."Anak belajar dari contoh. Jika ibu bisa mengakui kesalahan dan meminta maaf, anak pun belajar melakukan hal yang sama ketika ia salah," jelasnya.
3. Mengajarkan tanggung jawab emosional:
Ibu menunjukkan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas kata-kata dan tindakannya, terutama saat emosi sedang tinggi."Di sini anak belajar bahwa marah boleh, tapi jika menyakiti orang lain, perlu diperbaiki," imbuhnya lagi.
4. Memperkuat hubungan:
Anak belajar bahwa konflik bukan akhir dari hubungan, melainkan kesempatan untuk saling memahami dan semakin dekat."Permintaan maaf dapat memperbaiki ikatan ibu–anak, mengurangi rasa takut/terancam, dan menumbuhkan rasa aman," kata Kumala.
5. Mengurangi rasa bersalah anak:
Terkadang, lanjut Kumala, anak merasa penyebab marahnya orang tua adalah dirinya."Dengan ibu mengakui salah, anak jadi tahu bahwa tidak semua kesalahan berasal dari dirinya," tukasnya.
Aku Pun Bisa Salah: Pelajaran dari Air Mata Seorang Ibu
Dikutip Motherly, rasa bersalah yang dirasakan seorang ibu saat memarahi anak akan berbeda.
Rasa bersalah itu akan terus hadir, karena si ibu memang melakukan kesalahan. Rasa bersalah itu menunjukkan moralitas bagi ibu, yang artinya ibu mampu mengakui kesalahan dan keputusan buruknya.
Merasa bersalah saat diperlukan itu baik dan sehat. Namun, tentu saja rasanya tidak enak. Bahkan, jika tidak melakukan apa pun untuk mengatasi rasa bersalah tersebut, maka hal itu dapat menghantui pikiran ibu.
Meski demikian, aku sendiri masih sering terjebak dalam pusaran lelah, sibuk, dan marah. Namun kini aku tahu, tangis penyesalan yang jatuh setiap malam tidak sia-sia.
Ketika aku berani memeluk anakku sembari meminta maaf, di situlah aku merasa, meski penuh luka kecil, cinta kami justru tumbuh semakin kuat.
Artikel lain terkait ibu dan anak juga bisa dibaca di laman ini.
Editor: Sekar Kinasih