diajeng.id - Sejak kecil, banyak dari kita tumbuh dengan keyakinan bahwa hidup yang ideal adalah hidup yang dipenuhi perasaan senang, bahagia, atau happy.
Begitu terobsesinya kita dengan meraih kebahagiaan, seolah-olah ia adalah garis lurus yang harus terus dibiarkan menanjak tanpa jeda. Kalau sudah begitu, di mana ruang untuk kecewa, marah, atau lelah?
Nyatanya, kita diajarkan bahwa perasaan yang “tidak enak” adalah tanda ada yang salah. Padahal, justru di situlah hidup sedang bekerja.
Semakin jauh melangkah, kita mulai menyadari bahwa hidup tidak pernah statis. Ia bergerak, berubah, dan menuntut kita untuk ikut menyesuaikan diri.
Kebahagiaan yang konstan tak lebih dari mitos yang lama diawetkan. Yang benar-benar "sehat" justru kehidupan yang memberi ruang pada seluruh spektrum emosi.
Dunia memang tidak pernah bersahabat, apalagi dengan bayang-bayang pandemi, krisis iklim dan lingkungan, kejahatan perang, situasi ekonomi dan politik tidak stabil di banyak negara, rasanya tidak masuk akal kalau kita berharap dan menuntut manusia untuk merasa gembira, senang, atau bahagia setiap saat.
Kenyataannya, wajar dan sehat bagi kita semua untuk merasakan seluruh spektrum emosi: cemas, gelisah, takut, kesepian, sedih, waspada.
Hidup tidak dirancang hanya untuk merasakan emosi yang menyenangkan.
Melansir Psychology Today, cabang ilmu psikologi yang disebut "psikologi positif" sering dicap sebagai aliran psikologi yang “mengagungkan kebahagiaan”. Ternyata tidak begitu maksudnya.
Tokoh psikologi positif, Martin Seligman, justru mendefinisikannya sebagai studi tentang bagaimana manusia bisa berfungsi secara optimal, alih-alih bagaimana agar kita selalu bahagia.
Hidup yang optimal bukanlah hidup yang bebas emosi negatif.
Masih merangkum dari artikel Pschology Today, ada dua alasan besar untuk memahami ini.
1. Kebahagiaan Tidak Selalu Berarti Makna
Jika kita jujur, hal-hal yang membuat hidup berharga biasanya jatuh pada dua kategori: hedonis dan eudaimonik.Hedonis merujuk pada kenikmatan ragawi atau visual, seperti menyaksikan keindahan matahari terbit, makan kue enak, atau seks yang memuaskan.
Eudaimonik berkaitan dengan makna, seperti menjalani hidup yang sesuai nilai-nilai kita, keberhasilan menyelesaikan sesuatu yang penting, atau memberikan dampak bagi orang lain.
Menariknya, hak-hal yang eudaimonik tidak selalu menimbulkan perasaan senang atau bahagia. Bekerja keras, menepati janji, mengakui kesalahan, atau memaafkan orang lain acap kali terasa berat.
Sebagai contoh, profesi psikoterapis. Pekerjaannya bersinggungan dengan pasien-pasien yang memiliki masalah kesehatan mental. Bisa jadi, proses interaksi dengan pasien tidak terasa “menyenangkan” bagi terapisnya, tetapi di satu sisi sangat bermakna baginya.
Sebaliknya, banyak hal yang membuat kita senang: liburan ke luar negeri, belanja barang-barang mahal, maraton nonton serial drama Korea, atau menghabiskan kudapan kesukaan. Namun, hal-hal tersebut tidak otomatis memberi kedalaman makna dalam hidup.
2. Dampak Positif dari Emosi Negatif
Seandainya kita bisa memilih, tentu kita ingin bahagia terus.Di sisi lain, emosi negatif kadang-kadang dapat berfungsi seperti alarm. Cemas dan takut, misalnya, membantu kita menghindari bahaya.
Amarah juga bisa berguna.
Tim peneliti yang risetnya dipublikasikan di Journal of Personality and Social Psychology (2004) mengumpulkan sejumlah peserta untuk melakukan eksperimen berjualan.
Ternyata, peserta yang percaya bahwa lawan negosiasinya sedang marah justru memberikan diskon lebih besar daripada mereka yang merasa lawannya senang.
Temuan di atas menjadi gambaran bagaimana emosi negatif bisa memengaruhi keputusan secara nyata.
Tentu saja, emosi negatif tetap ada batasannya.
Merasakan emosi negatif bukan alasan atau pembenaran untuk menyakiti orang lain. Selain itu, emosi negatif juga perlu dikelola secukupnya, alih-alih membuat kita terlarut dan tenggelam di dalamnya.
Seperti banyak hal dalam hidup, emosi bekerja paling baik ketika kita menanggapinya dengan seimbang.
Kadang-kadang, kemarahan menggerakkan dunia, dan kesedihan mengarahkan kita untuk hidup lebih jujur.
Dalam studi literatur tahun 2011 oleh psikolog dari Yale, June Gruber, dan sejumlah periset lain, terdapat setidaknya empat sisi kelam dari kebahagiaan.
Pertama, perasaan bahagia yang berlebihan bisa membuat kita jadi kurang peka terhadap risiko kejahatan di lingkungan sekitar.
Kedua, merasa senang atau bahagia terus-menerus tidak selalu berdampak positif. Sebagai contoh, pemain gim komputer yang kompetitif ternyata cenderung memiliki performa lebih baik ketika marah daripada ketika hatinya riang.
Ketiga, tidak semua kebahagiaan itu menyehatkan. Beberapa wujudnya, seperti rasa bangga berlebihan, berisiko menjauhkan kita dari orang lain, bahkan memicu sikap agresif atau perilaku antisosial.
Keempat, terlalu mengejar kebahagiaan justru berisiko membuat kita kurang bahagia, bahkan rentan depresi. Menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan akhir bisa meningkatkan rasa kecewa ketika tidak tercapai.
“Sebaliknya, libatkan diri ke dalam aktivitas bermakna, terutama yang memperkuat hubungan mendalam dengan orang lain, sambil belajar menerima kondisi emosional kalian saat ini, apa pun bentuknya.”
Hidup bukan tentang mengejar kebahagiaan tanpa henti, melainkan bagaimana merangkul seluruh pengalaman emosional yang lumrah sebagai manusia.
Berbagai ragam emosi, baik yang nyaman maupun yang menyakitkan, diciptakan untuk membantu kita bertahan, belajar, berubah, dan tumbuh.
Kebahagiaan tetap penting, tapi ia bukan tujuan tunggal. Kita tidak perlu merasa gembira terus-menerus untuk bisa hidup dengan baik. Yang kita butuhkan lebih pada keberanian untuk hadir sepenuhnya di setiap keputusan kita, apa pun warna perasaan pada hari itu.
Editor: Sekar Kinasih