Menuju konten utama
Hari Lupus Sedunia 10 Mei

Kenali Lupus Sejak Dini: Pentingnya Deteksi & Edukasi di Faskes

Gejala lupus dapat muncul dan menghilang. Kondisi ini sering membuat pasien menganggap keluhan yang dialami hanya gangguan kesehatan biasa.

Kenali Lupus Sejak Dini: Pentingnya Deteksi & Edukasi di Faskes
Ilustrasi Lupus. foto/IStockphoto

diajeng.id - Lupus atau Systemic Lupus Erythematosus (LES) merupakan penyakit autoimun kronis yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan dan organ tubuh sendiri.

Penyakit ini dapat menyerang berbagai organ, seperti kulit, sendi, ginjal, paru-paru, hingga darah. Gejalanya beragam dan sering menyerupai penyakit lain. Akibatnya, lupus kerap terlambat terdiagnosis.

Dalam rangka Peringatan Hari Lupus Sedunia, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta mengadakan webinar terkait Lupus pada Senin (11/5/2026).

Dokter Internis di Mayapada Hospital, dr. Faisal Parlindungan, M.Ked (PD) menjelaskan bahwa tenaga kesehatan perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap tanda dan gejala sistemik lupus.

Gejala yang umum ditemukan antara lain mudah lelah berkepanjangan, demam tanpa sebab yang jelas, nyeri dan bengkak pada sendi, sesak atau nyeri dada, sariawan berulang, rambut rontok, serta ruam kemerahan di area pipi dan hidung yang dikenal sebagai butterfly rash.

Pada beberapa pasien, lupus juga dapat menyebabkan gangguan ginjal yang ditandai dengan bengkak pada kaki atau perubahan hasil pemeriksaan urine.

"Kita bisa lihat ada banyak sekali gejala atau tanda yang dialami oleh pasien lupus," kata dr. Faisal. "Jadi, jika menjumpai wanita muda dengan dua atau lebih gejala tadi yang tidak diketahu apa penyebabnya, maka itu patut dicurigai ini adalah bagian dari lupus."

Oleh sebab itu, perlu juga memahami beda butterfly rash dengan ruam yang lain, misalnya akibat alergi atau jerawat. "Biasanya ada di pipi, dahi, dan kata kuncinya adalah kemerahan ini tidak melewati batas nasolabial (garis senyum), jadi itu yang bisa membedakan kondisi butterfly rash dengan ruam yang lain," imbuhnya.

Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan lupus, lanjut dr. Faisal, adalah gejalanya yang dapat muncul dan menghilang. Kondisi ini sering membuat pasien menganggap keluhan yang dialami hanya gangguan kesehatan biasa.

"Padahal, jika tidak ditangani sejak dini, lupus dapat berkembang menjadi lebih berat dan memengaruhi kualitas hidup pasien," ujarnya.

Di samping mengenali apa saja gejala lupus, kata dr. Faisal, penting juga memahami faktor yang dapat memicu kekambuhan atau flare, seperti stres, infeksi, paparan sinar matahari berlebihan, kurang istirahat, dan ketidakpatuhan dalam mengonsumsi obat.

Oleh karena itu, edukasi kepada pasien menjadi bagian penting dalam pengendalian penyakit lupus.

"Bisa mengedukasi melalui SALURI (Periksa Lupus Sendiri). Ada 12 item yang bisa di-checklist oleh masyarakat. Misalnya, apakah demam lebih dari 38 derajat karena sebab yang tak jelas, rasa lelah dan lemah berlebihan, sensitif dengan sinar matahari, atau rambut rontok berlebihan," jelas dr. Faisal.

Tanda lainnya yang bisa dilakukan dengan SALURI adalah mengenali ruam kemerahan bentuk kupu-kupu yang sayapnya melintang dari pipi ke pipi, ruam merah di kulit, sariwan yang tak kunjung sembuh, nyeri sendi terutama di lengan dan tungkai dalam waktu lama, ujung-ujung jari tangan dan kaki pucat saat udara dingin, nyeri dada saat berbaring, sering kejang atau beberapa kelainan dari hasil pemeriksaan laboratorium.

Kesadaran dari masyarakat dan tenaga kesehatan penting untuk meningkatkan kualitas hidup para penyandang lupus di Indonesia.

Pada kesempatan yang sama, Nurlina, SKM, Administrator Kesehatan dari Direktorat Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan menekankan pentingnya peran fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) dalam skrining dan edukasi lupus.

"FKTP berperan penting dan menjadi garda terdepan dalam mendeteksi gejala awal, melakukan pemeriksaan dasar, serta menentukan kebutuhan rujukan ke dokter spesialis," sebutnya.

Pendekatan komunikasi yang baik juga sangat diperlukan agar pasien tidak merasa takut atau putus asa setelah mengetahui kemungkinan diagnosis lupus.

"Penyampaian informasi kepada pasien sebaiknya dilakukan dengan bahasa yang sederhana, empatik, dan mudah dipahami," tutur Nurlina.

Pasien perlu mengetahui bahwa lupus bukan penyakit menular, "Jadi tetap dapat dikendalikan dengan pengobatan rutin serta pola hidup sehat."

Dukungan keluarga dan lingkungan sekitar juga berperan penting dalam membantu pasien menjalani pengobatan jangka panjang.

Melalui deteksi dini, skrining yang tepat, dan komunikasi yang baik, penanganan lupus dapat dilakukan lebih optimal.

Simak juga artikel lainnya terkait informasi kesehatan di sini.

Baca juga artikel terkait PENYAKIT LUPUS atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Binar
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih