diajeng.id - Ada kehangatan khas yang perlahan menguar dari When Life Gives You Tangerines (2025).
Bukan hangat semburat matahari seusai hujan, melainkan hangat seperti tetes air mata yang diam-diam jatuh ke pipi setelah terlalu lama ditahan.
Dibintangi oleh IU, Park Bo-gum, Moon So-ri, dan Park Hae-joon, slice-of-life terbaru produksi Netflix ini memperlihatkan kerja-kerja perempuan yang acap kali tak kasat mata tetapi begitu nyata: bertahan, bermimpi, dan mencintai di dunia yang cenderung pelit memberikan mereka ruang.
Cerita diawali dengan perjalanan hidup Ae-sun, seorang gadis muda dari pulau vulkanik Jeju di lepas pantai Korea Selatan.
Ae-sun tumbuh di tengah keterbatasan ekonomi dan budaya patriarki yang kental.
Ia bermimpi jadi penyair dan melanjutkan pendidikan—keinginan yang dianggap mustahil oleh komunitasnya.
Kita diajak menyelami dunia sempit Ae-sun dan perempuan-perempuan di sekelilingnya yang terus mencari celah untuk bernapas di balik bentangan luas dan teduhnya laut Jeju.
Mereka menjadi poros cerita yang hadir dengan mimpi, luka, dan pilihan-pilihan personal. Siapa sajakah perempuan-perempuan ini?
Perempuan yang Bermimpi Besar
Ae-sun, tokoh utama dalam cerita yang diperankan dengan penuh nyawa oleh IU, bercita-cita menekuni ilmu sastra sampai level pendidikan tinggi.
Mimpinya mungkin terdengar lumrah, bahkan mungkin sepele, di telinga masyarakat hari ini.
Namun, dalam konteks sosial dan ekonomi yang membelenggu Ae-sun pada masanya, keinginan tersebut dipandang terlalu berani jika bukan radikal.
Ae-sun dibesarkan di lingkungan yang belum bersedia memberikan ruang bagi perempuan untuk bercita-cita.
Pada era itu, perempuan yang bermimpi tinggi dapat dituding telah berdosa. Perempuan yang berfokus pada kesejahteraan diri sendiri, atau istilah kekiniannya self-love dan self-care, bisa jadi dikecam sebagai pengkhianat masyarakat.
Meski memperoleh dukungan suara terbanyak dalam pemilihan ketua kelas, Ae-sun tetap saja gagal terpilih hanya karena berjenis kelamin perempuan. Datang dari keluarga miskin pula.
Alih-alih menyerah, Ae-sun konsisten mengasah kemampuannya menulis puisi.
Di setiap bait puisi yang digoreskannya, tertuang amarah sekaligus dorongan kuat untuk didengarkan.
Meski jemarinya terasa kaku karena kedinginan dan luka di hatinya masih basah, ia gigih menguntai kata demi kata untuk puisi-puisinya.
Ya, Ae-sun terus bermimpi dan berjuang mencintai dirinya sendiri.
Perempuan yang Ingin Keluar dari Kemiskinan dan Patriarki
Selain Ae-sun dengan karakternya berapi-api, ada ibunya—seorang haenyeo, perempuan penyelam tradisional di Jeju.
Sang ibu, diperankan dengan emosi menghunjam oleh Yeom Hye-ran, bekerja tanpa kenal takut dan lelah di bawah laut demi bertahan hidup.
Ia paham betul, kuasa laut bisa mencabut nyawanya kapan saja.
Di satu sisi, ibu Ae-sun menyadari bahwa tanpa keberanian dan tekad tersebut, keluarganya tidak akan bisa makan.
Ibu Ae-sun memang bukan perempuan yang memiliki mimpi tinggi seperti anaknya. Pada waktu sama, dirinyalah perempuan yang berjuang menanamkan kekuatan mimpi si anak.
Selain itu, ibu Ae-sun tidak sekadar bekerja untuk sesuap nasi pada hari itu.
Perjuangan lainnya termasuk memastikan bahwa anak perempuannya tidak perlu menyelam ke dalam laut dalam demi menghidupi anaknya kelak.
Kerja-kerja perempuan seperti ibu Ae-sun patut diacungi jempol sebagai fondasi perubahan.
Di dalam tubuhnya yang lelah, terdapat warisan yang ingin ia akhiri: warisan kemiskinan dan patriarki.
Ibu Ae-sun mengerti bahwa satu-satunya jalan keluar dari lingkaran maut itu adalah pendidikan dan kepercayaan pada anak perempuannya sendiri.
Perempuan yang Ingin Memutus Siklus Generasi
Salah satu aspek paling menyayat hati dalam When Life Gives You Tangerines adalah bagaimana trauma dan harapan diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Seiring cerita mengalir, kita menyaksikan bagaimana Ae-sun kemudian menjadi ibu dari Geum-myeong (juga diperankan oleh IU).
Meski hidup di zaman yang berbeda, Geum-myeong nyatanya tumbuh dewasa dengan beban yang sedikit-banyak menyerupai Ae-sun.
Seperti ibunya, Ae-sun tegas memilah apa saja hal yang tidak akan diwariskan kepada anaknya kelak.
Ibu Ae-sun tidak mau putrinya menjadi haenyeo. Di roda kehidupan selanjutnya, Ae-sun tidak ingin Geum-myeong menerima tradisi patriarki.
Satu adegan yang mencerminkan kehendak kuat tersebut adalah ketika Ae-sun mendapati anaknya menyiapkan makanan untuk ibu dari kekasihnya yang manipulatif.
Ae-sun bergegas menghentikannya.
“Kamu bukan pembantu siapa pun!” ucap Ae-sun dengan nada protektif sekaligus marah.
Inilah momen ketika siklus itu mulai diputus—ketika seorang ibu menolak membiarkan anak perempuannya untuk tunduk melayani, tetapi mendukungnya untuk berdiri tegak.
Perempuan, Anak Ibunya
Di balik segala kekuatan perempuan yang ditampilkan dengan menggugah, terdapat benang merah paling emosional: relasi ibu dan anak perempuan.
Ae-sun adalah anak ibunya. Geum-myeong adalah anak Ae-sun.
Di setiap generasi, tersemat rasa cinta yang diwujudkan oleh sang ibu dengan pendekatan khas: sunyi, tetapi penuh aksi.
Alih-alih pekikan, suara keras, atau pengorbanan dramatis, dinamika relasi ibu dan anak dalam cerita dibingkai dalam kesenyapan, tatapan, dan kalimat-kalimat pendek yang sering tertahan di tenggorokan.
Misalnya, ketika Geum-myeong tiba-tiba pulang ke rumah setelah mengalami patah hati, Ae-sun dan suaminya segera menyiapkan makanan, menemaninya ngobrol, dan berusaha membuatnya tertawa.
Tidak ada ceramah panjang lebar. Tidak ada tudingan mengkerdilkan seperti, “Sudah ibu bilang, bukan?”
Di satu sisi, karakter ibu Ae-sun dan Ae-sun sebagai ibu memang tidak hitam-putih.
Selama ini, tidak sedikit drama Korea menggambarkan ibu sebagai figur yang keras. Sebut di antaranya tokoh ibu di SKY Castle (2018) dan The Penthouse: War in Life (2020).
Ae-sun dan ibunya dilukiskan memiliki karakter keras karena hidup memaksa mereka begitu. Pada waktu sama, jiwa mereka dipenuhi kasih sayang dan kehangatan.
Ya, tokoh ibu bukanlah pahlawan yang sempurna. Keras dan ketangguhan sang ibu tak lain merupakan cerminan perjuangannya agar anak-anaknya tak mengulangi nasibnya.
Relasi Ae-sun dan ibunya pun tidak dibebani oleh dramatisasi besar. Tidak ada momen rekonsiliasi dramatis di bawah rintik hujan.
Yang ditunjukkan adalah pengakuan diam-diam bahwa keduanya saling mencintai, pernah saling melukai, dan akan selalu saling membutuhkan.
Pendek kata, menjadi ibu bukan soal pengorbanan semata. Menjadi ibu juga sebuah proses belajar untuk memaafkan—baik memaafkan diri sendiri maupun generasi sebelumnya.
Sementara itu, menjadi anak perempuan bukan sekadar soal menerima warisan, tetapi juga tentang memilih warisan mana yang ingin diteruskan, mana yang ingin ditinggalkan.
Adegan demi adegan mungkin akan membuat kita menangis karena jaring-jaring relasi yang berkelindan di dalamnya terasa familier.
Seperti buah jeruk yang manis tetapi juga agak asam, perjalanan perempuan antargenerasi ini sarat dengan emosi yang kompleks—tangis, tawa, rindu, dan harapan bercampur menjadi satu.
When Life Gives You Tangerines berhasil merayakan kerja-kerja perempuan yang rentan terlupakan dalam narasi sejarah besar, tetapi pada waktu sama berkontribusi pada sejarah “kecil” tentang keluarga dan komunitas.
Apabila kamu adalah seorang anak perempuan, ibu, atau bahkan anak yang pernah dicintai oleh perempuan kuat, maka drama ini akan terasa sangat dekat dan personal.
Editor: Sekar Kinasih