Menuju konten utama

Ketika Orang Tua Berani Meminta Maaf kepada Anak

Dari orang tua yang berani meminta maaf, anak belajar bahwa kesalahan itu wajar dan memperbaikinya adalah bentuk tanggung jawab, termasuk pada orang dewasa.

Ketika Orang Tua Berani Meminta Maaf kepada Anak
Header Diajeng Ortu Meminta Maaf. tirto.id/Quita

diajeng.id - Kita hidup di era yang semakin terbuka dalam memandang dinamika parenting dan komunikasi lebih sehat di dalam keluarga, seperti antara anak dan orang tua.

Pada generasi sebelumnya, orang tua acap kali bertahan di balik dinding otoritas yang seolah-olah menegaskan bahwa manusia dewasa selalu benar dan mustahil melakukan kesalahan.

Kini, orang tua terutama dari generasi Milenial mulai menyadari pentingnya meminta maaf pada anak atas tindakan-tindakan yang telah menyakiti hati mereka.

Kesadaran ini mungkin terdengar sepele, tetapi sebenarnya merupakan perubahan budaya yang cukup besar.

Dalam banyak keluarga di masa lalu, meminta maaf kepada anak sering dianggap sebagai tanda kelemahan orang dewasa yang menandakan hilangnya wibawa mereka.

Padahal, dalam relasi yang sehat, meminta maaf justru menunjukkan kedewasaan emosional dan rasa tanggung jawab.

Momentum Lebaran memberi kita ruang refleksi yang menarik tentang hal ini.

Tradisi saling memaafkan biasanya digambarkan sebagai proses bagi lebih muda meminta maaf kepada yang lebih tua.

Di satu sisi, hubungan keluarga yang sehat seharusnya juga memberi ruang bagi arah sebaliknya: orang tua bersedia mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada anaknya.

Mengapa hal ini penting?

Para psikolog menjelaskan bahwa permintaan maaf dari orang tua memiliki dampak besar terhadap perkembangan emosional anak.

Dalam sebuah tulisan di Psychology Today berjudul "The Magic of an Apology", dijelaskan bahwa permintaan maaf yang tulus dapat membantu anak merasa dihargai dan dipahami.

Anak belajar bahwa kesalahan adalah bagian dari kehidupan, tetapi tanggung jawab untuk memperbaikinya adalah sesuatu yang harus dilakukan setiap orang, termasuk orang dewasa.

Namun, sebelum itu, perlu juga dipahami bahwa sikap orang tua yang tegas, terkadang ditunjukkan dalam bentakan atau amarah, adalah lumrah sekaligus fakta kehidupan.

"Meninggikan suara atau kehilangan kendali dari waktu ke waktu memang tidak dapat dihindari karena kita adalah manusia. Ada semacam harapan bahwa anak-anak harus dilindungi dari merasakan emosi negatif apa pun,” kata Jennie Hudson, profesor psikologi klinis di University of New South Wales, Australia.

Meskipun kita memiliki berbagai emosi yang mencakup perasaan frustrasi, cemas, dan khawatir, lanjutnya, membentak anak terus-terusan bisa jadi positivitas beracun. Kondisi ini tidak normal dan tidak baik.

Yang terpenting, setelah membentak anak-anak, para ahli sangat menyarankan orang tua untuk kembali tenang, kemudian mengusahakan bagaimana mengurangi kebiasaan membentak anak untuk menumbuhkan rasa empati.

Oleh karena itu, permintaan maaf yang sehat juga mengajarkan anak tentang empati dan hubungan yang setara.

Ketika orang tua berani berkata, “Maaf tadi ibu terlalu keras ngomongnya,” anak melihat contoh konkret tentang bagaimana seseorang menghadapi kesalahannya.

Kalimat pengakuan tersebut jauh lebih kuat daripada sekadar nasihat tentang pentingnya meminta maaf.

Namun, tentu saja, meminta maaf kepada anak tentu bukan sekadar mengucapkan kata “maaf.”

Beberapa pakar parenting menyarankan beberapa langkah sederhana agar permintaan maaf benar-benar bermakna.

Langkah pertama adalah mengakui kesalahan secara jelas. Hindari permintaan maaf yang samar seperti, “Maaf kalau kamu tersinggung.”

Kalimat seperti ini justru memindahkan tanggung jawab kepada anak. Permintaan maaf yang sehat mengakui tindakan kita secara langsung, misalnya, “Maaf, ya, tadi Ibu membentak kamu.”

Langkah kedua adalah mengakui perasaan anak. Anak perlu merasa bahwa emosinya dilihat dan dihargai. Mengatakan, “Ibu tahu kamu pasti sedih ketika itu terjadi,” membantu anak memahami bahwa perasaannya valid.

Langkah berikutnya adalah menunjukkan komitmen untuk memperbaiki diri.

Dalam beberapa panduan pengasuhan seperti yang dirangkum oleh Parents, permintaan maaf yang baik biasanya diikuti oleh usaha untuk melakukan hal yang berbeda di masa depan. Misalnya dengan mengatakan, “Lain kali Ibu akan mencoba berbicara lebih pelan.”

Terakhir, yang tidak kalah penting adalah memberi ruang bagi anak untuk merespons.

Anak mungkin ingin bertanya, bercerita, atau sekadar membutuhkan waktu untuk memproses emosinya. Mendengarkan mereka adalah bagian dari proses memperbaiki hubungan.

Menariknya, seperti dijelaskan jurnalis Jessica Grose di The New York Times, orang tua tidak perlu takut kehilangan otoritas ketika meminta maaf. Justru sebaliknya, anak cenderung lebih menghormati orang tua yang mampu mengakui kesalahan dengan jujur.

Permintaan maaf yang tulus menunjukkan bahwa kekuatan seseorang tidak terletak pada sikap yang selalu benar, melainkan pada keberanian untuk bertanggung jawab.

Di tengah suasana Lebaran yang penuh dengan ucapan “mohon maaf lahir dan batin”, mungkin ini juga saat yang baik bagi orang tua untuk melihat hubungan mereka dengan anak dari sudut pandang yang berbeda. Alih-alih hanya sebagai sosok yang harus dihormati, cobalah untuk melihat diri sendiri sebagai manusia yang terus belajar.

Keluarga yang sehat bukanlah keluarga yang bebas dari kesalahan, melainkan mau belajar memperbaiki hubungan ketika kesalahan itu terjadi.

Kadang-kadang, perbaikan itu bisa dimulai dari kata-kata sederhana yang diucapkan orang tua kepada anaknya, “Maafkan kesalahan Ibu/Ayah, ya.”

Artikel menarik lainnya seputar anak dan orang tua juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait LATEST WP atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih