Menuju konten utama

Saat Pekerjaan Terasa Tak Bermakna, Harapan Tetap Bisa Ditemukan

Perubahan tidak selalu harus besar, tetapi bisa dimulai dari penataan ulang cara kita memandang kerja dan diri kita sendiri.

Saat Pekerjaan Terasa Tak Bermakna, Harapan Tetap Bisa Ditemukan
Header diajeng Kerja Terasa Tak Bermakna. tirto.id/Quita

diajeng.id - Tidak semua pagi dimulai dengan antusiasme. Tak sedikit pula yang bekerja di kantor hanya untuk sekadar mengisi hari.

Ya, kebanyakan orang mungkin berpikir bahwa hari kerja hanyalah rangkaian jam yang harus dilewati: berangkat ke kantor, menyelesaikan tugas, pulang ke rumah, lalu mengulanginya kembali esok hari.

Pekerjaan menjadi sekadar alat bertahan hidup, alih-alih ruang untuk bertumbuh atau menemukan makna.

Kita hadir secara fisik, tetapi sering kali absen secara batin, menjalani rutinitas tanpa benar-benar merasa terlibat di dalamnya.

Dalam kenyataan seperti itu, bekerja kerap berubah menjadi aktivitas mekanis yang sarat formalitas dan seremonial kosong.

Ada yang terjebak dalam kerja birokratis yang performatif dan sarat seremonial tak berarti. Ada pula yang hanya bekerja saja, tapi tidak punya "hati" di sana.

Tidak semua dari kita beruntung mendapatkan kerja yang sesuai dengan hasrat hidup kita.

Namun, justru di situlah pertanyaan tentang makna menjadi relevan: apa arti bekerja ketika hati kita tidak sepenuhnya berada di sana?

Masalahnya, pekerjaan yang terasa hampa ternyata tidak berhenti pada soal motivasi atau kepuasan batin saja. Laman Psychology Today menuliskan, ketika rasa makna terus menipis, dampaknya bisa merembet ke kesehatan.

Seperti premis yang pernah dipopulerkan oleh antropolog David Graeber "pekerjaan omong kosong", ini mengibaratkan semakin banyak orang merasa terjebak dalam peran yang memang tidak memberikan nilai.

Akhirnya, terciptalah kesengsaraan bagi dirinya sendiri.

Ketika Makna Berkurang, Kesehatan Dapat Menurun

Seiring rasa makna yang berkurang dan beban kerumitan birokrasi bertambah, motivasi bisa berkurang dan mendorong perilaku tidak sehat.

Perasaan tidak berdaya dan frustrasi tesebut jadi sering mendorong orang mencari pelarian jangka pendek. Contohnya, makan berlebihan, minum alkohol lebih sering, kurang bergerak, atau menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar.

Pola ini membentuk lingkaran yang melelahkan. Perilaku tidak sehat menguras energi dan suasana hati, lalu semakin memperdalam rasa hampa terhadap pekerjaan itu sendiri.

Tekanan kerja modern memperparah situasi ini.

Kompleksitas sistem digital, notifikasi tanpa henti, dan beban administrasi yang terasa tak ada ujungnya menimbulkan apa yang disebut sebagai teknostres: kecemasan, kelelahan mental, dan penurunan kesejahteraan.

Masih mengutip Psychology Today, orang yang memiliki rasa tujuan yang lebih kuat disebutkan cenderung menjaga kebiasaan hidup yang lebih sehat, sementara stres kerja justru berkaitan dengan merokok lebih banyak, kurang aktivitas fisik, dan gangguan tidur.

Artinya, ketika pekerjaan kehilangan makna, tubuh sering kali ikut menanggung akibatnya, pelan-pelan, tapi nyata.

Ketika terjebak dalam pekerjaan yang terasa hampa, barangkali hal pertama yang perlu kita renungi adalah cara kita memaknai kerja itu sendiri.

Banyak dari kita tanpa sadar membiarkan pekerjaan mendefinisikan siapa diri kita, seolah nilai hidup sepenuhnya ditentukan oleh jabatan, gaji, atau stabilitas yang tampak aman di mata sosial.

Seperti dikisahkan Isabella Joyner, seorang perempuan 28 tahun yang tinggal di Carlisle, Inggris. Ia menjalani hari-hari kerjanya dengan cara yang tak biasa semasa pandemi COVID-19.

Di sela-sela 40 jam kerja kantoran yang menuntutnya duduk menatap layar komputer, ia justru lebih sering menemukan dirinya berjalan jauh dan mendaki pegunungan di sekitar Lake District.

Bukan karena pekerjaannya buruk. Sebaliknya, pekerjaannya di bidang administrasi, periklanan, dan layanan pelanggan untuk sebuah showroom desain dapur tergolong ringan, stabil, dan bergaji baik.

Namun, ada sesuatu yang hilang: rasa puas sebagai pengalaman hidup.

“Meskipun pekerjaannya mudah, bagus, dan bergaji tinggi, pekerjaan itu tidak terlalu memuaskan dalam hal pengalaman,” kata Joyner dinukil dari Refinery29 pada 2021 silam.

Pandemi memberi Joyner ruang untuk berpikir lebih lama.

Di tengah sunyi dan rutinitas yang berulang, mulai merasakan tekanan tak kasatmata yang akrab bagi banyak orang seusianya, tuntutan untuk menetap, membeli rumah, menjalin hubungan, dan mengikuti jalur hidup yang tampak ideal di media sosial.

“Aku merasakan tekanan besar di pertengahan usia 20-an untuk menetap, membeli rumah, menjalin hubungan, dan melakukan semua hal yang diharapkan orang lain,” jelas Joyner.

“Aku melihat semua orang melakukannya di media sosial. Dan kurasa aku terjebak dan mengira, ya, itu juga yang harus aku lakukan."

Setelah melakukan banyak percakapan dengan pasangannya, James, mereka sampai pada kesadaran yang sama.

Meski bersyukur atas kestabilan yang telah mereka bangun, keduanya tak bisa menampik perasaan bahwa hidup yang mereka jalani terasa kurang membahagiakan.

“Merasa sedikit kurang senang dengan kehidupan yang telah kami ciptakan,” ucap keduanya. Dari sanalah pertanyaan tentang pilihan, makna, dan arah hidup mulai benar-benar mengemuka.

Kisah Joyner menunjukkan bahwa kejenuhan sering kali bukan soal berat-ringannya pekerjaan, melainkan rasa terputus dari pengalaman hidup yang ingin dijalani.

Ia tidak serta-merta membenci pekerjaannya, tetapi menyadari bahwa hidupnya terasa menyempit.

Namun, tidak semua orang bisa atau perlu mengambil langkah drastis seperti berpindah negara atau berganti profesi total. Yang lebih realistis untuk banyak orang adalah mulai memisahkan identitas diri dari pekerjaan.

Pekerjaan tidak harus menjadi pusat makna hidup; ia bisa menjadi sarana yang memungkinkan hal lain tumbuh: relasi, waktu luang, kesehatan, atau keterhubungan dengan alam dan komunitas.

Ketika makna di kantor memudar, kita bisa bertanya: bagian hidup mana yang masih bisa kita rawat dan kembangkan di luar jam kerja?

Pandemi COVID-19 memang mengajarkan banyak orang bahwa hidup dan kerja sama-sama rapuh dan bisa berubah.

Kesadaran akan keterbatasan waktu membuat pertanyaan tentang kontribusi dan nilai hidup terasa semakin mendesak.

Alih-alih hanya bertanya “apa pekerjaanku?”, mungkin lebih jujur jika kita bertanya “kehidupan seperti apa yang ingin aku jalani, dan bagaimana pekerjaan ini, sementara atau seterusnya bisa mendukungnya?”

Dari sana, perubahan tidak selalu harus besar, tetapi bisa dimulai dari penataan ulang cara kita memandang kerja dan diri kita sendiri.

Simak juga artikel lain yang membahas tentang gaya hidup di sini.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih