diajeng.id - Apa kamu pernah merasa sangat dekat dengan kolega kantor, sampai-sampai orang lain mengira kalian sahabat masa kecil?
Sebagian orang mungkin sering menyarankan saat bekerja agar tidak "berteman" dengan orang kantor karena potensi gesekan drama terkait kerjaan dan urusan personal. Apalagi, ada gosip-gosip yang berisiko menghancurkan relasi dan profesionalitas kerja.
Ya, kekhawatiran ini memang cukup beralasan. Sebab, batasan yang terlalu kabur sering kali menjadi celah bagi konflik kepentingan yang mengaburkan profesionalitas di meja kerja.
Namun begitu, mungkinkah kita menghabiskan sepertiga waktu hidup dalam kekakuan tanpa koneksi? Jelas saja itu tidak manusiawi.
Padahal, pada dasarnya, relasi kerja itu juga relasi yang personal.
Relasi kerja termasuk interaksi antarmanusia yang membutuhkan kehangatan agar kolaborasi terasa lebih ringan dan bermakna.
Tantangannya bukan terletak pada menutup diri sepenuhnya, melainkan pada seni berteman "secukupnya."
Kita perlu menemukan titik keseimbangan yang memungkinkan kita bersikap hangat dan suportif tanpa harus kehilangan kendali atas koridor profesional yang menjaga integritas kita tetap aman.
Membangun Relasi Kerja yang Sehat
Alih-alih mempertanyakan boleh atau tidak berteman dengan rekan kerja, terapis Dr. Sara Kuburic saat diwawancara penulis Simon Sinek justru menekankan hal yang lebih penting: bagaimana membangun relasi kerja dengan niat, kesadaran, dan batasan yang sehat.
Menurut Dr. Kuburic, semua hubungan, termasuk yang profesional, pada dasarnya tetap bersifat personal karena melibatkan emosi, koneksi antarmanusia, dan keterlibatan pribadi.
“Dalam dunia idealku, aku akan bekerja dengan semua sahabat terbaikku.”
Dr. Kuburic percaya bahwa idealnya kita bisa bekerja dengan orang-orang yang kita sukai, bahkan bersahabat.
Namun, kedekatan di tempat kerja perlu dibangun secara sadar. Salah satu kuncinya adalah menguji relasi secara bertahap dan tidak memaksa, misalnya lewat undangan santai seperti ngopi atau mengobrol ringan di luar urusan kerja.
Respons kolega terhadap ajakan dan percakapan personal menjadi sinyal penting untuk membaca sejauh mana mereka nyaman membuka ruang pertemanan.
Jika seseorang menjaga jarak atau menolak ajakan sosial, itu bukan penolakan personal, melainkan bentuk batasan yang perlu dihormati.
Tidak semua orang mencari teman di kantor, dan itu sama validnya dengan mereka yang terbuka membangun relasi hangat. Intinya, pertemanan di kantor yang “aman” bukan soal seberapa dekat, melainkan seberapa peka kita membaca isyarat dan menghargai batas satu sama lain.
Menurut riset dari Future Workplace/Virgin Pulse yang diwartakan CNBC pada 2018 lalu, memiliki teman di kantor membuat orang lebih bahagia dan lebih betah bekerja. "Teman di tempat kerja adalah elemen terpenting untuk kehidupan kerja yang bahagia," tulis studi tersebut.
Namun, realitasnya, banyak “teman kantor” hanya benar-benar dekat selama masih berada di perusahaan yang sama. Relasi mereka sering memudar setelah konteks kerja hilang.
Hal ini menegaskan bahwa teman kerja memang berbeda dari teman di luar pekerjaan.
Di tempat kerja, reputasi sebagai orang yang fokus, kompeten, dan dapat dipercaya sangat menentukan karier.
Ketika urusan emosional, curhat terlalu dalam, atau konflik pribadi dibawa ke kantor, citra profesional itu bisa terkikis. "Drama" pun berpotensi mudah muncul. Demikian dikutip situs The Intersect Group.
Maka pendekatan yang lebih aman adalah ramah, hangat, tapi tetap terjaga. Hindari budaya gosip atau oversharing.
Jika ada satu dua kolega yang terasa cocok untuk jadi teman, kenali perlahan lewat obrolan santai di luar jam kerja sambil tetap menjaga batas.
Dari situ biasanya akan terlihat apakah orang tersebut dewasa, suportif, dan bisa jadi sekutu, atau justru sumber drama.
Tips Berteman Aman dengan Kolega Kerja
Menurut laman Time, para ahli menyebut relasi kerja dan persahabatan bagaikan hidup dalam dua dunia dengan aturan berbeda. Yang satu menuntut profesionalisme dan hierarki, yang lain mengandalkan keakraban dan keaslian.
Ketegangan di antara keduanya hampir tak terelakkan, apalagi ketika ada konflik kepentingan, rahasia pekerjaan, atau perbedaan posisi.
Lalu, apa yang bisa dilakukan?
Langkah pertama yang paling sehat justru mengakui bahwa ketegangan itu nyata. Langkah kedua, cobalah membicarakannya secara terbuka dan jujur, pada diri sendiri maupun pada teman kerja kita, tentang nilai, peran, dan batas masing-masing.
Cara praktisnya adalah memisahkan “topi” yang kita pakai.
"Kamu harus sangat berhati-hati dalam memilih hubungan mana yang akan kamu bangun pada saat tertentu,” kata Beth Schinoff, peneliti dari University of Delaware.
Misalnya, kapan kita berbicara sebagai teman, dan kapan sebagai kolega atau atasan.
Bahkan, memisahkan saluran komunikasi, misalnya urusan kerja lewat email dan urusan pribadi lewat pesan pribadi, bisa membantu mengurangi kebingungan peran.
Pada waktu sama, setiap orang dan setiap kantor punya budaya berbeda. Ada yang nyaman mencampuradukkan, ada yang perlu memisahkan. Tidak ada satu model yang cocok untuk semua.
"Sebagai teman, kita bisa mengembangkan sedikit perspektif, menempatkan diri kita pada posisi teman kita,” kata Mo Wang, profesor bisnis di University of Florida. “Perilaku mereka tidak hanya dipengaruhi oleh persahabatan dengan kita.”
Pada akhirnya, akan ada momen ketika loyalitas pada teman dan tanggung jawab profesional saling bertabrakan. Di situlah kita diuji untuk tetap berintegritas, sambil berusaha memahami perspektif satu sama lain.
Karena di tempat kerja, bahkan dalam persahabatan, orang tidak hanya digerakkan oleh kedekatan, tetapi juga oleh peran dan tekanan yang mereka emban.
Masih ingin baca lebih lanjut artikel lain yang terkait hubungan relasi? Kamu bisa mengklik tautan berikut.
Editor: Sekar Kinasih