Menuju konten utama
Citra Perempuan di Medsos

Lebih dari Sekadar Julukan: Problem di Balik Tren "Pick-Me Girl"

"Kamu tomboy dan suka main game? Oh, berarti kamu pick-me. Hmm, temanmu itu cuma mau dandan kalau didekati cowok, ya? Wah, dia juga pick-me, dong!"

Lebih dari Sekadar Julukan: Problem di Balik Tren
Header Diajeng Serial Pick Me Girl. tirto.id/Quita

diajeng.id - Selamat datang di suatu masa ketika julukan-julukan baru untuk perempuan bermunculan!

Pada era digital dan serba medsos, semakin sering kita jumpai berbagai istilah yang asosiasinya lekat dengan perempuan muda.

Segala hal dikait-kaitkan dengan perempuan—sebut istilahnya girl’s math, girl’s dinner, lazy job girl.

Contoh-contoh girlification demikian, yang awalnya sekadar istilah lewat, pada satu titik ternyata maknanya dapat berkembang jadi meremehkan atau merendahkan perempuan.

Ambil salah satunya yang dua tahun belakangan ini lazim ditemui di TikTok, Instagram, atau X: “pick-me" atau “pick-me girl".

Di banyak narasi yang berseliweran, “pick-me” merujuk pada perilaku dan ucapan dari perempuan yang ingin mendapatkan validasi serta perhatian dari laki-laki.

Sikap tersebut ditunjukkan untuk menegaskan identitas dirinya, yang berbeda dari perempuan-perempuan lain pada umumnya.

Jika kita perhatikan lekat-lekat, dari sekian banyak konten video yang bertebaran, influencer yang membuat konten “pick-me” terkesan tidak punya tujuan selain untuk mengolok-olok perempuan.

Padahal, merunut riwayatnya, istilah “pick-me” merupakan semacam medium untuk menggugat masalah sistemik di lingkungan patriarki.

Mengutip artikel Women Media Center, awalnya istilah “pick-me” merupakan sebuah alat kritik untuk mereka yang berlebihan dalam mendukung “male entitlement”—gagasan yang berangkat dari patriarki dan misogini untuk memprioritaskan kemauan laki-laki dan kenikmatan untuk laki-laki, atau pendeknya, memvalidasi ego laki-laki atas perempuan.

Penggunaan “pick-me” awalnya bersirkulasi di kanal X pada tahun 2016 dalam lingkup perempuan kulit hitam.

“Pick-me” itu sendiri adalah istilah yang lahir dari African American Vernacular English (AAVE).

Melansir tulisan Danielle Procope Bell di Feminist Media Studies (2023), sikap antifeminis alias “pick-me” di kalangan perempuan kulit hitam yang menolak menjadi bagian strong black women salah satunya berakar dari ancaman kemiskinan.

Agar terhindar dari ancaman kemiskinan, beberapa perempuan rela menukar otonomi diri mereka dengan perilaku submisif.

Perempuan kulit hitam adalah kelompok minoritas yang terus mengalami represi atau penindasan selama berabad-abad—sebuah trauma yang diwariskan dari satu generasi ke generasi di bawahnya.

Tatkala kembali menjadi tren pada tahun 2021, konsep penggunaan “pick-me” sama sekali berbeda dan semakin menjauh dari alasan politis dan sosial.

Dalam pandangan umum terbaru, “pick-me girl” digambarkan sebagai sosok yang ingin tampil berbeda dari kebanyakan perempuan lain.

Maka dari itu, seorang “pick-me” memilih untuk menjaga jarak sejauh mungkin dari segala perilaku, karakter, dan sifat yang feminim—terutama atribut yang mencirikan "perempuan tradisional” yang senang berdandan dan memasak.

Selanjutnya, “pick-me girl” akan melakukan mikroagresi—tindakan halus tapi menyakiti—kepada sesama perempuan agar dirinyalah yang terlihat lebih unggul dan menarik di mata laki-laki.

TikTok menjadi arena bagi banyak penggunanya untuk melakukan impersonasi tentang apa saja yang mereka anggap sebagai kelakuan “pick-me”.

Seiring waktu, sebagian besar dari kita mungkin tersadar bahwa tidak ada kesepakatan atau definisi yang pasti seperti apa perilaku “pick-me” sesungguhnya.

Kamu tampil tomboy dan ogah pakai makeup? Oh, bisa jadi kamu “pick-me”!

Kamu cuma mau dandan kalau ada cowok yang PDKT ke kamu? Itu namanya “pick-me”.

Kamu memilih makanan sehat dan menolak fast food? Itulah pilihan orang yang “pick-me”.

Kamu punya lebih banyak teman cowok daripada cewek? Yup, sekali lagi, “pick-me”!

Baca buku di bar yang ramai dengan orang berjoget? Apalagi kalau itu bukan “pick-me”?

Setiap perempuan bisa saja mendapat label “pick-me” apabila tingkah laku sehari-harinya dipandang berbeda—berbeda menurut siapa pun yang preferensinya memang berbeda.

Gamblangnya, semua perempuan mungkin tinggal menunggu giliran saja sampai satu persatu menyandang gelar “pick-me”.

Tidak bisa dimungkiri, perilaku dan karakter yang disorot dalam narasi “pick-me” mungkin saja memang problematik, bahkan menyebalkan.

Di satu sisi, konten kreator yang membuat konten “pick-me” secara dangkal dan serampangan, tanpa menjelaskan akar masalah dari tren tersebut, juga perlu diwaspadai.

Bukan tidak mungkin, sebutan “pick-me” dapat menjadi penghinaan yang berpotensi mematikan karakter seseorang.

Padahal, seperti ditekankan di dalam esai video The Take, bisa saja apa yang disebut sebagai perilaku “pick-me” adalah sebuah fase, alih-alih identitas yang akan melekat seumur hidup.

Penting diingat, kelompok remaja hingga dewasa muda mengalami banyak turbulensi selama pencarian identitasnya.

Terutama bagi perempuan, pengalaman beranjak dewasa cenderung lebih rumit.

Sebabnya, mereka dihujani dengan sederet ekspektasi sosial masyarakat berikut segudang pesan industri media dan kecantikan yang memaksa mereka untuk mempertanyakan kelayakan diri dan mengadopsi standar cantik tidak masuk akal.

Kelompok perempuan muda, khususnya, cenderung mengadopsi dan menginternalisasi pandangan kelompok yang kerap menghakimi sebagai standar yang hukumnya wajib untuk diikuti.

Dalam konteks “pick-me”, perempuan seakan-akan dibuat tidak punya pilihan untuk membangun sifat atau penampilan tertentu agar dapat diterima publik secara luas, dalam hal ini adalah kelompok laki-laki.

Padahal, kalangan itulah yang acap kali menciptakan tolok ukur yang tidak masuk akal kepada perempuan.

Ketika kita memutuskan untuk memberikan satu klik like pada video yang mengejek perilaku “pick-me”, yang lenyap dari diri kita pada saat itu adalah rasa empati dan ketidakmampuan untuk melihat lebih jauh di balik tren yang viral di media sosial.

Kedangkalan ini membuat sesama perempuan sulit untuk melihat persoalan besarnya, yaitu toksisitas atau racun di dalam ekosistem yang patriarki.

Padahal, seperti disampaikan akademisi, penulis, dan aktivis sosial bell hooks, perempuan telah mengorbankan banyak hal agar dapat diterima oleh masyarakat.

"Sosok anak yang terluka di dalam diri sebagian besar perempuan tak lain adalah seorang gadis cilik yang sedari kecil diajari bahwa ia harus menjadi sesuatu yang bukan dirinya—mengingkari perasaannya yang sejati, demi bisa memikat dan menyenangkan orang lain.”

Demikian tulis hooks dalam buku All About Love: New Visions (2000).

Sayangnya, banyak orang mengabaikan faktor ini ketika membicarakan tren di kalangan perempuan. Dan akhirnya, lagi-lagi, yang terjadi adalah perseteruan antara perempuan versus perempuan.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Erika Rizqi

diajeng.id - Binar
Kontributor: Erika Rizqi
Penulis: Erika Rizqi
Editor: Sekar Kinasih