Menuju konten utama
Cinta Tak Selalu Indah

"Maaf, Kita Bukan Jodoh..." Seni Menolak Cinta Tanpa Menyakiti

Ingat, kamu tidak salah hanya karena memutuskan untuk menolak cinta dari orang yang tidak kamu sukai.

Header Diajeng Menolak Cinta Tanpa Menyakiti. tirto.id/Quita

diajeng.id - Pengakuan cinta dari seseorang bisa jadi bikin kamu tersanjung. Namun, kadang-kadang, pernyataan itu tidak datang dari orang yang tepat atau kamu sukai.

Situasi ini pun bikin kamu canggung dengan dia.

Kamu mungkin ingin bergegas pergi dari lokasi. Di sisi lain, bukan perkara mudah untuk tegas bilang “tidak” padanya.

Mau disampaikan dengan bahasa yang kasar maupun lemah lembut, yang namanya penolakan pasti menyakitkan dan menimbulkan reaksi emosional kuat bagi pihak yang ditolak.

Rasa sakit emosional akibat ditolak cinta bisa jadi sangat intens, bahkan bisa berdampak ke tubuh atau dikenal dengan gangguan psikosomatik.

Apalagi, penolakan yang tidak dilengkapi dengan penjelasan. Orang yang disukai langsung menjauh begitu saja dan mengabaikan.

Nah, yang mengerikan, mereka yang tidak bisa menerima penolakan dengan legawa berpotensi melampiaskannya dengan cara agresif atau kekerasan.

Inilah yang baru-baru ini terjadi pada TikToker remaja asal Pakistan, Sana Yousaf.

Seminggu yang lalu, Sana menjadi korban kekerasan dari laki-laki yang cintanya ia tolak.

Menurut polisi setempat, sebelum melakukan aksinya, laki-laki tersebut sudah berkali-kali mencoba menghubungi dan menemui Sana. Usahanya tidak pernah berhasil.

Setelah berkeliaran di luar rumah Sana selama beberapa waktu, dia menerobos masuk ke dalam rumah dan menembak Sana sampai meninggal dunia.

Wendy L. Patrick, J.D., Ph.D dalam tulisannya di Psychology Today menjelaskan bahwa nilai-nilai atau keyakinan tertentu dapat membuat beberapa orang berpikir bahwa kekerasan adalah cara yang dapat diterima, atau bahkan dianggap benar, untuk bereaksi ketika mereka merasa ditolak.

Dalam beberapa kasus, hal tersebut berlaku bahkan sebelum ada hubungan yang benar-benar terjalin.

Patrick mengutip hasil riset berjudul ”What, I'm not good enough for you?” (2018) yang mendapati bahwa beberapa laki-laki merespons penolakan cinta secara negatif dengan menunjukkan agresi, seperti mengucapkan makian-makian kasar atau bahkan agresi fisik.

Menurut peneliti, respons tersebut dipandang tepat oleh mereka yang menjunjung tinggi keyakinan-keyakinan terkait kehormatan maskulin. Respons yang agresif tersebut bisa jadi muncul akibat dorongan untuk menjaga kehormatan atau reputasi sosial.

Sayangnya, masalah yang selama ini cukup sering ditemui oleh banyak orang adalah kesulitan untuk mengatakan “tidak” dan kemudian menetapkan boundaries atau batasan dalam hubungan.

Hal ini pernah terungkap dalam sebuah penelitian lawas yang dipublikasikan di jurnal Psychological Science (2014).

Studi tersebut menyebut bahwa orang-orang pada umumnya merasa sulit untuk menyampaikan penolakan, bahkan apabila mereka aslinya tidak mau pergi keluar dengan orang yang menyukai mereka.

Di satu sisi, pergi kencan dengan seseorang karena merasa kasihan padanya tidak akan menguntungkan siapa pun karena sekadar membuang-buang waktu dan menguras energi kedua belah pihak.

Ketakutan untuk bilang “tidak” ternyata merupakan hal yang wajar dirasakan oleh perempuan.

Psikolog klinis Michelle Pal menjelaskan, banyak perempuan yang kesulitan untuk menetapkan batasan tersebut karena dari sudut pandang psikologis dan sosial, perempuan acap kali diasosiasikan untuk bersikap nurturing (memiliki kepekaan dalam urusan kepengasuhan), baik hati, dan berempati.

"Jadi, selalu ada unsur ketakutan bagaimana orang lain akan menanggapi penolakan itu," kata Pal.

Lantas, bagaimana cara menyampaikan penolakan pada orang lain dengan tepat dan bijak?

"Penolakan dalam bentuk apa pun bisa menyakitkan, jadi cara kita menolak seseorang harus dilakukan dengan jujur ​​dan berintegritas," kata Claudia de Llano, MA, terapis pernikahan dan keluarga berlisensi dikutip dari June 8, 2025.

Coba sampaikan penolakan dengan sikap yang terbuka, jelas, dan gaya komunikatif. Tujuannya tak lain untuk mencegah kebingungan, kesalahpahaman, atau bahkan perasaan yang lebih menyakitkan di kemudian hari.

Berpura-pura tertarik justru akan membahayakan integritasmu. Maka dari itu, penting untuk jujur pada diri sendiri dan perasaanmu.

Dengan memberanikan diri untuk bilang “tidak” dan menerapkan batasan, itu artinya kamu berhasil menunjukkan rasa hormat terhadap diri sendiri dan orang lain.

Masih melansir Very Well Mind, kamu juga tidak perlu memberikan penjelasan yang terlalu rinci atau detail kepada orang yang bersangkutan.

Cukup jelaskan secara singkat mengapa hubunganmu dengannya tidak bisa berjalan.

Apabila alasanmu menolak berkaitan dengan ketidaksiapan diri untuk menjalin hubungan romantis, sampaikan dengan penekanan atau fokus pada diri sendiri, seperti, “Aku sekarang tidak mau pacaran dulu,” atau, “Aku masih fokus tugas sekolah/ ujian/ karier, sehingga belum minat untuk menjalin relasi.”

Kalimat sesederhana “Aku tidak merasa ada koneksi sama kamu” juga sudah cukup jelas apabila kamu memang tidak tertarik pada orang tersebut.

Hindari juga menyampaikan pesan yang membingungkan seperti kalimat “mungkin di lain kesempatan” atau “mungkin waktunya bukan sekarang”.

Sebab, penuturan ambigu demikian justru berpotensi diinterpretasikan sebagai harapan.

Yang terpenting, tetap perlakukan orang lain dengan rasa hormat dan empati karena ditolak itu pasti mengecewakan. Sampaikan penolakanmu dengan mempertimbangkan rasa peka dan pengertian manusiawi.

Selain it, Bruce Y. Lee M.D., M.B.A, dosen kebijakan dan manajemen kesehatan di City University of New York menambahkan, sebaiknya jangan sampai melakukan pengabaian atau ghosting pada orang yang ingin kamu tolak.

Tidak perlu menunda-nunda untuk memberi tahu orang tersebut tentang keputusanmu.

Biarkan orang yang ditolak melanjutkan hidupnya sesegera mungkin dengan penjelasan terang darimu bahwa tidak ada kesempatan lagi di antara kalian.

Namun, tetap waspada, ya! Ada beberapa situasi di mana kamu tidak perlu bersikap akomodatif terhadap orang yang kamu tolak.

Misalnya, ketika mereka ternyata menunjukkan tanda-tanda seperti stalking (menguntit), melakukan pelecehan, atau bahkan sampai kekerasan.

Jika kamu berada di kondisi tersebut, jangan ragu-ragu untuk meminta bantuan pada pihak yang berwenang maupun support system dari lingkungan teman dekat dan keluarga.

Penolakan adalah bagian normal dari kehidupan sehari-hari kita semua—kita akan menolak atau kita akan ditolak.

Yang terpenting, ingatlah bahwa kamu tidak salah hanya karena memutuskan untuk menolak cinta dari orang yang tidak kamu sukai.

Pada akhirnya, setiap manusia berhak memilih orang yang tepat dan nyaman untuk menjadi partnernya. Setuju?

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari MN Yunita

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: MN Yunita
Penulis: MN Yunita
Editor: Sekar Kinasih