Menuju konten utama

Kehilangan Mendadak dalam Keluarga: Cara Memproses Duka

Saat berduka, tubuh kita bisa dianalogikan seperti peramban dengan terlalu banyak tab terbuka: begitu banyak yang harus dihadapi sekaligus.

Kehilangan Mendadak dalam Keluarga: Cara Memproses Duka
Header Diajeng Memproses Kematian Mendadak. tirto.id/Quita

diajeng.id - Kabar kematian yang diterima secara tiba-tiba sering terasa seperti pintu yang tertutup tanpa suara.

Tidak ada pertanda, tidak ada waktu untuk bersiap, seseorang yang kita kenal sejak kecil, sanak saudara yang tumbuh bersama kita, kerabat yang biasanya ada dalam lingkar hidup sehari-hari, tiba-tiba saja hilang dari dunia tanpa sempat mengirimkan isyarat.

Misalnya, menerima informasi tentang anggota keluarga yang ditemukan meninggal sendiri di dalam kamar indekos, ada yang posisinya tengah merantau jauh dari rumah, yang wafat saat menunaikan ibadah, atau bahkan meninggal ketika sedang berolahraga rutin.

Dalam detik-detik setelah kabar itu datang, kita yang ditinggalkan sering tenggelam dalam lautan emosional yang campur aduk: kaget, bingung, juga tidak percaya.

Awalnya, otak kita berusaha menyangkal berita itu, mempertanyakannya sebagai salah paham atau kabar yang keliru.

Namun, pada akhirnya, kita harus berdamai dengan kehilangan yang begitu mendadak, sambil perlahan memproses duka yang terasa tajam, sunyi, dan mengubah cara kita melihat hidup.

Tentu, kita merasa ingin tahu alasan pasti di balik sebuah kematian mendadak, penjelasan yang logis, runtut, dan meyakinkan. Namun, jawaban itu sering kali tak kunjung datang, atau justru tak pernah ada. Rasa tidak berdaya pun bisa tumbuh diam-diam.

Menurut situs Syracuse University, dalam keadaan seperti itu, yang paling membantu justru bukan mencari kepastian, melainkan memberikan ruang bagi diri sendiri untuk merasakan apa pun yang muncul.

Biarkan perasaan sedih itu hadir, biarkan marah dan bingung itu berbicara.

Tidak perlu membungkamnya atau menghakimi kenapa perasaan itu muncul; cukup akui bahwa semuanya bagian dari proses kita bertahan.

Di tengah kekacauan emosi itu, lembutlah pada diri sendiri. Kehilangan mendadak tidak punya jam tayang; ia datang tanpa pola, begitu pula proses pulih darinya. Kita berhak mengambil waktu sebanyak yang dibutuhkan.

Alih-alih berpegang pada rasa getir, mungkin masih ada momen kecil penuh kesan mendalam yang bisa dipeluk, kenangan yang menghangatkan, momen bersama almarhum yang masih tertinggal seperti cahaya tipis di lorong gelap.

Pelan-pelan, kembali ke rutinitas juga bisa membantu menenangkan tubuh dan pikiran.

Perhatikan sinyal-sinyal fisik dan mental, kelelahan yang berlebihan, sulit tidur, atau hilangnya minat, dan jangan ragu mencari bantuan profesional jika beban itu terasa terlalu berat untuk ditanggung sendiri.

Konselor profesional Nichole Oliver pernah mengibaratkan tubuh saat berduka seperti peramban dengan terlalu banyak tab terbuka: terlalu banyak yang harus dihadapi sekaligus.

Maka, saran Oliver, cobalah pilih dua atau tiga “tab” yang perlu mendapatkan perhatian awal, agar kita bisa melihat dengan lebih jernih apa yang sesungguhnya sedang kita rasakan.

Kita juga bisa menyalurkan emosi melalui cara-cara sederhana tapi bermakna: membuat daftar putar lagu yang selaras dengan suasana hati, membiarkan musik menjadi bahasa ketika kata-kata terasa sempit.

Dari sana, menuliskan refleksi atau kisah duka melalui jurnal dapat membantu merapikan kekacauan di dalam diri, memberi bentuk pada kehilangan yang sebelumnya tak terjamah.

Dalam proses panjang itulah, sedikit demi sedikit, kita kembali menemukan pijakan.

Tips Mengelola Kedukaan saat Menerima Kabar Kematian yang Tiba-tiba

Dirangkum dari Psychology Today, berikut hal-hal yang bisa dilakukan untuk mengelola kedukaan dan rasa tidak kuasa untuk mengetahui alasan kematian orang-orang terkasih:

1. Terima Emosi dan Berbelas Kasih pada Diri Sendiri

Kesedihan sering kali datang dalam bentuk yang berantakan, gelombang emosi yang naik turun, kadang-kadang dapat menenggelamkan.

Alih-alih mengkritik diri sendiri karena “belum kuat,” beri ruang bagi emosi itu untuk hadir dan pergi. Bersikap lembut pada diri sendiri adalah langkah penting untuk tetap bertahan.

2. Temukan “Jangkar” Penenang

Saat rasa kehilangan terasa menyesakkan, kamu bisa menggunakan “jangkar” untuk menenangkan diri.

Ini bisa berupa fokus pada napas, atau mengamati detail kecil di sekitar, warna, tekstur, atau suara, sebagai cara mengembalikan tubuh dan pikiran ke keadaan yang lebih stabil.

3. Prioritaskan Istirahat

Duka menguras energi dan sering mengacaukan tidur. Tubuh dan pikiran mungkin terasa berat, lambat, atau seolah berkabut.

Izinkan dirimu untuk melambat: ambil cuti, delegasikan tugas, dan istirahatlah lebih banyak untuk memulihkan energi.

4. Siapkan Bantuan untuk Urusan Administrasi

Mengurus dokumen dan keperluan administratif setelah kematian bisa sangat melelahkan, dari pemberitahuan ke instansi hingga tanggung jawab hukum bila menjadi pelaksana wasiat.

Mintalah bantuan keluarga, teman, atau pihak profesional agar beban ini tidak harus ditanggung sendiri.

5. Gunakan Sistem Dukungan Sosial

Meskipun keinginan untuk menyendiri sering kali muncul, berbagi beban justru membantu pemulihan.

Beritahu orang terdekat tentang kebutuhanmu, atau cari lembaga pendamping duka jika kamu sendirian. Dukungan emosional dan praktis bisa memperkuat langkah kecil menuju keseimbangan.

6. Hindari Strategi Coping yang Merugikan

Upaya meredam rasa sakit lewat alkohol, makan berlebihan, atau menarik diri berkepanjangan hanya menunda proses penyembuhan.

Perhatikan pola seperti ini dan lembutlah pada diri sendiri sambil mencari jalan yang lebih sehat untuk memproses rasa duka.

Baca juga artikel terkait EMOSIONAL atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih