Menuju konten utama
Renungan Senja Ramadhan

Mencari Ketenangan Lewat Kesederhanaan

Hidup dengan sederhana bukan berarti serba kekurangan. Kesederhanaan justru memberi ruang bagi hal-hal yang benar-benar menenangkan dan bermakna.

Mencari Ketenangan Lewat Kesederhanaan
Header Diajeng Renungan Senja Ramadhan: Tidak Bermewah-Mewah. tirto.id/Quita

diajeng.id - Menjelang waktu berbuka puasa di bulan Ramadhan, ada suasana yang khas dan terasa akrab dari tahun ke tahun.

Meja makan mulai dipenuhi hidangan, notifikasi promo Ramadhan atau iklan produk bermuncuan di smartphone dan layar televisi. Bersamaan dengan itu, media sosial dipenuhi dengan tampilan gambar-gambar takjil, hampers, parcel, hingga baju Lebaran yang menarik untuk dibeli.

Selain lapar akan dahaga, acap kali muncul rasa "lapar" untuk ikut memiliki, merasakan kebersamaan, dan tanpa sadar, untuk diakui orang lain. Dengan begitu, kita merasa semakin terlihat utuh dan bahagia.

Tentu tidak ada yang salah dengan hasrat untuk memiliki sesuatu yang berharga untuk kemudian dipamerkan. Dorongan pamer itu manusiawi.

Namun, perlu kita pahami, seiring hasrat memiliki dan pamer itu muncul, akan lahir dorongan untuk membanding-bandingkan diri dengan orang lain.

Salah satu surah pendek di Al-Qur'an, At-Takatsur, terasa sangat relevan dengan keadaan batin manusia sepanjang zaman.

Makna dalam surah itu tidak sekadar berbicara tentang harta, tetapi tentang kesibukan berbangga, berlomba, dan memperbanyak. Isinya menyinggung bagaimana dorongan untuk memiliki lebih dan terlihat "wow" bisa menyita perhatian manusia hingga ia lupa menikmati hidupnya sendiri.

Manusia adalah makhluk sosial yang sejak awal berevolusi untuk menjalin hubungan dan bertahan dalam kelompok.

Dalam psikologi sosial, perilaku pamer atau flexing sering dipahami sebagai upaya menunjukkan status sosial atau daya tarik diri, seperti seekor merak yang mengembangkan bulunya untuk menarik perhatian.

Alih-alih sekadar keinginan untuk pamer, dorongan tersebut juga menjadi cara memproyeksikan citra diri yang positif kepada orang lain, yang secara evolusioner penting agar dapat diterima dalam sebuah komunitas.

“Itulah sebabnya ada orang yang merasa tidak percaya diri datang ke pesta atau acara-acara tertentu jika tidak mengenakan barang yang bermerek, dan lebih nyaman jika datang mengenakan barang bermerek, karena adanya kekhawatiran tidak diterima atau dianggap rendah oleh orang lain.”

Demikian disampaikan Dewi Ilma Antawati, dosen psikologi dari Universitas Muhammadiyah Surabaya seperti dikutip dalam laman resminya.

Selain itu, banyak orang memamerkan pencapaian atau kemewahan bukan karena mereka ingin terlihat sombong, tetapi karena rasa insecurity, rasa tidak aman dalam melihat diri sendiri atau kehidupannya secara utuh.

Dalam konteks media sosial, menurut Psychology Today, ketika kita hanya menunjukkan aspek-aspek cerah dari hidup sendiri dan melihat orang lain melakukan hal yang sama, sebuah lingkaran setan terbentuk.

Kita merasa perlu “meningkatkan citra” agar dianggap cukup bernilai oleh orang lain. Reaksi positif ketika unggahan kita mendapat respons yang positif, maka otak melepaskan dopamin.

Ada rasa senang, lega, dan seolah-olah diakui. Padahal, perasaan tersebut hanya memperkuat ketergantungan batin kita pada penilaian luar, bukan ketenangan batin yang sejati.

Ketika kita terus-menerus membandingkan diri, hidup jadi terasa seperti perlombaan tanpa garis finish. Batin menjadi lelah karena kebahagiaan selalu ditunda sampai respons orang lain datang baik melalui simbol like, komentar, atau pengakuan sosial.

Sains menunjukkan bahwa ada cara lain yang lebih mendalam untuk merasa utuh, yaitu melalui kerendahan hati (humility).

Merangkum dari artikel Greater Good Magazine, riset menunjukkan bahwa kerendahan hati bukanlah sikap pasif atau merasa rendah diri.

Kerendahan hati justru memperkuat hubungan sosial. Sebab, orang yang rendah hati mampu melihat orang lain secara utuh tanpa perlu dominasi atau pamer.

Dalam hubungan antarmanusia, kerendahan hati membuka ruang untuk keterhubungan yang lebih hangat, komunikasi yang tulus, dan rasa aman yang tidak bergantung pada penilaian luar.

Kerendahan hati juga membuat batin lebih tenang.

Dalam pengertian ini, hidup yang sederhana bukan berarti kekurangan, melainkan pembebasan dari kebutuhan terus-menerus untuk terlihat lebih.

Di berbagai ajaran spiritual, termasuk dalam tradisi Ramadhan, kesederhanaan diposisikan sebagai latihan batin. Hidup sederhana bukan menolak nikmat dunia, tetapi belajar menikmati yang sudah ada tanpa tergoda kebutuhan eksternal untuk diakui.

Mengutip tulisan Jeff Boss di Forbes, manusia cenderung merasa lebih lega setelah menyadari bahwa tidak semua hal perlu diumumkan. Orang yang rendah hati acap kali membiarkan aksinya berbicara sendiri daripada terus-menerus memamerkan pencapaian atau kepemilikan yang dimiliki.

Mereka tidak perlu publikasi atau pengakuan publik untuk menjaga ketenangan batin. Di sisi lain, ketika kita ingin orang lain tahu tentang setiap keberhasilan kecil kita, batin justru tidak pernah benar-benar terasa puas karena ada kebutuhan akan validasi yang terus berulang.

Tak hanya itu, Science of People juga menekankan bahwa perasaan lega bisa hadir ketika kita dapat berbagi tanpa membandingkan diri.

Dengan merayakan keberhasilan orang lain, mendengarkan cerita mereka, atau bahkan sekadar menghargai kontribusi mereka tanpa menempatkan diri sebagai pusat perhatian, kita dapat menciptakan koneksi antarmanusia yang lebih hangat dan tulus.

Contoh-contoh tersebut bukan soal meniadakan keberhasilan diri, akan tetapi untuk menghargai proses orang lain tanpa memaksa diri kita harus “lebih dari” atau “setidaknya setara dengan.”

Big Think menambahkan, kita sering lebih lega juga ketika kita memusatkan perhatian pada fungsi hal-hal dalam hidup daripada pada simbol statusnya.

Misalnya, fokus pada manfaat hubungan, pengalaman, atau kegiatan yang memperkaya batin, alih-alih pada label atau gambarnya di media sosial.

Mengurangi konsumsi media sosial saat emosi sedang rentan, atau mengambil jeda dari "pameran" digital itu sendiri, dapat membantu kita mengurangi perbandingan sosial yang tak perlu dan kembali ke nilai-nilai batin yang lebih otentik.

Ramadhan tidak pernah melarang kita menikmati rezeki atau bersyukur merayakan kebahagiaan.

Namun, di sela-sela semua itu, ada pertanyaan lembut yang bisa kita ajukan pada diri sendiri, "Apa aku menikmatinya dengan tenang, atau sambil diam-diam berharap dilihat dan diakui? Apa aku berbagi karena ingin berbagi, atau karena takut tertinggal dari cerita orang lain?"

Kesederhanaan bukan berarti menjalani hidup yang sarat kesengsaraan atau keprihatinan. Hidup sederhana adalah saat kita tidak lagi perlu membuktikan apa-apa kepada siapa pun dan mampu memberi ruang bagi apa yang benar-benar membuat batin kita tenang dan bermakna.

Di titik itulah, kita menemukan perasaan lega, tenang, dan cukup, yang tidak bergantung pada bagaimana orang lain melihat kita.

Artikel menarik lainnya seputar Ramadhan bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait RAMADHAN 2026 atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih