Menuju konten utama

Ajarkan Sejarah Kelam ke Anak dengan Empati, Bukan Ketakutan

Tugas kita adalah mengubah narasi kekerasan jadi ajaran tentang keberanian dan kemanusiaan. Ini tentang mewariskan ingatan dan empati, alih-alih kebencian.

Ajarkan Sejarah Kelam ke Anak dengan Empati, Bukan Ketakutan
Header Diajeng Mengajarkan Sejarah ke Anak. tirto.id/Quita

diajeng.id - Ada kalanya kita dihadapkan pada sebuah dilema yang tak terhindarkan, salah satunya memperkenalkan anak-anak pada sisi sejarah yang kelam, penuh luka dan tragedi.

Sebagai orang dewasa, kita tahu betul bahwa masa lalu menyimpan cerita-cerita "sulit", mulai dari perang, kekerasan, hingga diskriminasi.

Naluri kita mungkin ingin melindungi anak, menjaga mata polos mereka dari realitas yang pahit.

Namun begitu, kita juga menyadari bahwa sejarah adalah guru terbaik.

Lalu, bagaimana kita menyeimbangkan antara kejujuran terhadap masa lalu dan kepekaan terhadap hati dan pikiran anak yang masih lugu?

Kunci dari masalah ini bukanlah pada apakah kita harus bercerita, melainkan pada bagaimana kita menyampaikannya.

Kita tidak mungkin menghapus atau melakukan sensor pada bab-bab sejarah yang tidak menyenangkan, tetapi kita bisa menjadi jembatan yang menghubungkan anak dengan pelajaran-pelajaran penting di dalamnya.

Tugas kita adalah mengubah narasi kekerasan menjadi pelajaran tentang keberanian, toleransi, dan kemanusiaan. Ini adalah tentang mewariskan ingatan dan empati, alih-alih ketakutan atau kebencian.

Berangkat dari pandangan sejarawan Inggris Dominic Selwood, kita dapat melihat bahwa cara kita berbicara tentang sejarah, terutama kepada generasi muda, tengah mengalami perubahan besar.

Dahulu, sejarah sering dianggap membosankan, sekadar hapalan berisi tanggal-tanggal kejadian penting dan nama-nama tokoh besar. Namun kini, di era teknologi digital, sejarah justru menjadi bahan perbincangan yang hangat di linimasa media sosial, bahkan memantik kemarahan generasi muda yang merasa menemukan ketidakadilan dan ketimpangan dari masa lalu.

Selwood dalam artikel opininya di The Telegraph pada 2022 lalu mengingatkan bahwa kemarahan itu memang lahir dari kepedulian dan kesadaran moral. Meski begitu, jika pembelajaran sejarah berhenti pada kemarahan saja, kita kehilangan tujuan utama dari belajar sejarah, yaitu memahami, alih-alih sekadar menghakimi.

Ia menyoroti bahwa media sosial sering kali menyajikan potongan sejarah secara hitam-putih, penuh eksploitasi, dan kemarahan, tanpa ruang cukup untuk pemahaman lebih dalam tentang alasan dan konteks kejadian.

“Sebaliknya, sejarah seharusnya mendorong kita untuk menggali lebih dalam, memahami mengapa suatu peristiwa terjadi, rangkaian kejadian apa yang membentuknya, serta konsekuensi jangka panjang yang ditinggalkannya, bukan hanya memicu kemarahan sesaat sebelum kita lanjut menggeser layar.”

Maka, tugas kita sebagai orang tua, pendidik, atau siapa pun yang ingin memperkenalkan sejarah kepada anak-anak, adalah membantu mereka melihat gambaran yang utuh.

Sejarah bukan hanya tentang kekerasan dan penindasan, tetapi juga tentang keberanian, penemuan, dan kemanusiaan.

Di antara bab-bab kelam, selalu ada tokoh-tokoh yang bisa menginspirasi: perempuan-perempuan tangguh, pemikir muda yang mengubah dunia, hingga sosok-sosok yang menolak tunduk pada ketidakadilan.

Selwood juga menegaskan pentingnya konteks.

Mengajarkan sejarah berarti mengajarkan empati lintas waktu dan tempat, bahwa penderitaan manusia bersifat universal, dan memahami satu tragedi tidak berarti meniadakan yang lain.

Dengan cara ini, anak-anak belajar bahwa sejarah bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan cermin untuk melihat siapa kita, dan bagaimana kita bisa menjadi manusia yang lebih baik.

Refleksi dari pandangan Dominic Selwood menunjukkan bahwa sejarah tidak seharusnya hanya membuat anak marah atau takut, tetapi mendorong mereka untuk memahami dan merasakan. Di sinilah pentingnya cara kita menyampaikan sejarah, terutama kepada anak-anak.

Dikutip dari BBC, belajar sejarah sebenarnya bukan sekadar menghapal masa lalu, tapi juga melatih banyak keterampilan penting: membaca, menulis, berpikir kritis, berimajinasi lewat seni, hingga menumbuhkan empati terhadap orang lain dan budaya yang berbeda.

Dengan kata lain, mengenalkan sejarah bisa menjadi pintu menuju banyak hal baik, mulai dari rasa ingin tahu, kepekaan, dan kegemaran belajar.

Anak-anak bisa mulai tertarik karena hal-hal sederhana yang mereka sukai, seperti kastil, kostum kerajaan zaman dulu, pahlawan, atau penemuan hebat. Tugas kita adalah menumbuhkan rasa ingin tahu itu dengan cara yang menyenangkan.

Misalnya, ketika kita ingin menceritakan tentang peristiwa G30S dan Pahlawan Revolusi, kita tidak perlu langsung masuk pada bagian yang penuh kekerasan atau detail mengerikan. Anak-anak belum siap untuk itu. Namun, kita bisa mengajak mereka memahami maknanya lewat cara yang lembut dan sederhana.

Kita bisa mulai dengan bercerita seperti ini:

“Dulu, Indonesia pernah mengalami masa yang sangat sulit. Ada sekelompok orang yang tidak setuju dengan cara negara dijalankan, dan terjadi kekacauan besar. Saat itu, ada sejumlah orang yang berusaha menjaga agar negara kita tetap aman. Mereka disebut Pahlawan Revolusi. Mereka berani mempertahankan persatuan Indonesia, walaupun tahu ada bahaya besar di depan mereka.”

Setelah itu, arahkan pembicaraan ke nilai-nilai yang bisa dipelajari anak: keberanian, tanggung jawab, dan cinta tanah air. Kita bisa menambahkan, “Dari kisah ini, kita belajar bahwa menjaga kedamaian dan persatuan itu tidak mudah. Kadang orang punya pendapat berbeda, tapi yang penting kita tidak saling menyakiti. Kita bisa belajar dari masa lalu supaya hal seperti itu tidak terulang lagi.”

Pada anak yang lebih besar atau usianya sekitar 8 tahun ke atas, bisa mulai dijelaskan bahwa peristiwa itu adalah bagian dari masa kelam dalam sejarah Indonesia, ketika pertentangan politik berujung pada korban jiwa.

Namun, fokuslah pada pembelajaran moralnya. Alih-alih menerangkan siapa yang benar atau salah, memahami sejarah agar kita bisa lebih bijak menghadapi perbedaan di masa depan.

Dengan begitu, anak belajar bahwa sejarah bukan hanya tentang tragedi, tapi tentang bagaimana manusia berusaha bangkit, memperbaiki diri, dan menjaga kedamaian bersama.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih