Menuju konten utama

Mengapa Kita Sering Sakit Saat Liburan?

Begadang, kurang olahraga, pola makan acak, hingga paparan keramaian massa selama liburan berisiko membuat daya tahan tubuh kita melemah.

Mengapa Kita Sering Sakit Saat Liburan?
Header Diajeng Sakit saat Liburan. tirto.id/Quita

diajeng.id - Di dalam mobil yang masih tercium aroma cokelat, Dina (38) bercerita tentang pengalamannya pergi liburan naik mobil bersama ketiga anaknya pada akhir tahun lalu.

Di sepanjang perjalanan, Dina menghibur anak-anaknya dengan nyanyian-nyanyian riang gembira. Tiba-tiba, anak bungsu yang berusia lima tahun, Alit, badannya terasa panas.

Mereka akhirnya tiba di penginapan setelah menempuh empat jam perjalanan.

Dina mengeluarkan termometer untuk mengukur suhu tubuh anaknya, yang kemudian berbunyi lirih dan menunjukkan angka 39 derajat Celcius. Ya, Alit demam.

Niat berliburan untuk snorkeling pun batal, berubah menjadi tujuan ke klinik terdekat.

"Setelah Alit, tak lama kemudian kakaknya Ramdhan juga ikutan sakit juga, jadi batuk pilek," cerita Dina pada Diajeng Tirto baru-baru ini.

Meski sedikit kecewa, Dina mengaku tidak mempermasalahkan.

Yang utama baginya adalah kesehatan anak-anak. Untungnya, di sekitar penginapan juga terdapat klinik 24 jam.

"Memang rencana liburan sudah disusun jauh-jauh hari, tapi bagaimana lagi. Allah yang menentukan, arah ke pantai, langsung diubah petanya ke klinik, dan masih bersyukur, kliniknya juga enggak terlalu jauh," ucap Dina.

Kisah seperti Dina di atas bukanlah kabar yang jarang mampir ke telinga kita.

Liburan yang seharusnya jadi penghilang penat setelah hari-hari yang penuh kesibukan, acap kali berubah menjadi panggung kecil untuk sakit perut, batuk, atau demam.

Bukan hanya anak-anak, orang dewasa pun sering merasakan tubuhnya "rewel" ketika koper dan tas sudah dibuka di hotel atau penginapan.

Alasan Tubuh Sering Merasa Sakit saat Liburan

Mengapa tubuh memilih waktu yang kurang tepat untuk "protes"?

1. Tubuh kelelahan, kebersihan tak terjaga selama perjalanan

Selama ini, kita mengidealkan liburan sebagai jeda dari rutinitas bekerja. Liburan lekat dengan hangatnya sinar matahari, udara segar, dan ritme hidup lebih longgar.

Menariknya, justru sebelum momen itu dimulai, tubuh sering dipaksa bekerja ekstra.

Menurut situs Weill Cornell Medicine, persiapan berhari-hari, perjalanan panjang, tidur tidak utuh, makanan asal pilih, hingga waktu menunggu di bandara yang penuh orang, semuanya berisiko membuat sistem imun menyusut dan tenaga terkuras sedikit demi sedikit.

“Saat bepergian, rutinitas biasanya terganggu. Kalian mungkin tidak tidur nyenyak seperti di rumah, dan kebiasaan makan berubah saat bepergian," kata Dr. Ashima Oza.

Dr. Oza melanjutkan, rutinitas yang berubah saat pergi liburan juga menyangkut aktivitas begadang, konsumsi minuman beralkohol lebih banyak dari biasanya, dan jam olahraga yang kurang. Selain itu, kita juga berpapasan dengan lebih banyak orang di tempat umum.

Pada kondisi sarat perubahan tersebut, pertahanan tubuh berisiko menurun. Pintu masuk virus dan bakteri pun seakan-akan terbuka lebih lebar.

Ironisnya, perjalanan wisata itu sendiri sering menjadi wahana perpindahan mikroba, dari gagang pintu rest area, meja lipat pesawat, hingga camilan yang disantap tanpa mencuci tangan lebih dulu.

Kebersihan yang biasanya terjaga di rumah mendadak terlupakan, sementara tubuh belum cukup beristirahat.

Hasilnya? Setibanya di tujuan wisata, bukan tidak mungkin kita disambut dengan flu ringan, sakit tenggorokan, atau perut melilit.

2. Stres

Sebelum koper ditutup, banyak dari kita masih sibuk mengejar tenggat, menyelesaikan tugas kantor terakhir, atau memastikan rumah telah siap ditinggal.

Tubuh kita, yang selama berminggu-minggu berada dalam mode bertahan, berupaya membawa sisa-sisa ketegangan itu ke dalam perjalanan liburan.

Ahli imunologi Kara Wada menjelaskan, ketika stres berlangsung terlalu lama, kadar kortisol yang terus-menerus tinggi akan membuat sel-sel imun sulit berkomunikasi dengan baik. Akibatnya, lini pertahanan pertama tubuh kita jadi kurang terkoordinasi.

"Stres kronis juga dapat melemahkan lapisan pelindung di area seperti hidung, tenggorokan, paru-paru, kulit, dan usus, area di mana sistem kekebalan tubuh bekerja paling keras," jelas Wada dikutip dari Self.

Efeknya, lanjutnya, bermacam-macam: pilek tak kunjung sembuh, eksim kambuh, atau alergi yang biasanya jinak tiba-tiba bertingkah. Bukan tidak mungkin, infeksi lama dapat “bangun” kembali ketika kita mengalami stres kronis.

Ketika akhirnya liburan dimulai, stres tidak serta-merta hilang. Tubuh baru merasakan atau menyesuaikan diri untuk ruang relaksasi.

Pada momen itulah sistem imun yang sudah di titik penghabisan akan lengah, sehingga virus atau alergen lebih mudah menyelinap.

3. “Let-down effect”: tubuh sadar lelah

Fenomena migrain, pilek, atau rasa lelah yang tiba-tiba berat saat liburan dikenal dengan istilah yang cukup puitis, let-down effect.

Apa jadinya ketika tubuh yang terbiasa dengan kadar kortisol dan adrenalin tinggi diperkenalkan pada kegiatan relaksasi?

“Ketika tubuh terbiasa berfungsi dengan kadar [hormon stres] kortisol dan adrenalin tinggi dan tiba-tiba menurun, sistem kekebalan tubuh kita terpapar, kemudian kita rentan terhadap infeksi ringan serta kelelahan yang berlebihan," kata praktisi kesehatan Dr. Suhail Hussain, dinukil dari Independent.

Efek ini bisa muncul setelah beragam jenis tekanan, bukan hanya pekerjaan: ujian, proyek besar, bahkan momen menyenangkan yang melelahkan seperti mempersiapkan pernikahan.

Tetap Bugar Saat Liburan

Agar badan tetap sehat bugar selama liburan, coba pertimbangkan beberapa tips berikut.

Dilansir Healthline, jauh sebelum hari keberangkatan, pastikan kamu tidur cukup, mengelola stres dengan cara yang paling nyaman buatmu, berolahraga ringan, meditasi, atau sekadar mandi air hangat yang menenangkan pikiran.

Tubuh yang cukup beristirahat akan lebih sigap menghadapi perubahan ritme perjalanan.

Selama musim liburan, air putih adalah sekutu yang setia. Minumlah air secara teratur, baik sebelum maupun selama perjalanan, agar tubuh tidak terkejut di lingkungan yang mungkin serba kering.

Terkait suplemen, vitamin C dapat dipertimbangkan. Meski begitu, kebanyakan dari kita sudah mendapatkan cukup dari buah dan sayur. Jadi, sebelum berlibur dan saat liburan, tetap pertahankan konsumsi makanan dengan gizi seimbang.

Ketika tiba saatnya duduk di kursi pesawat, kereta, atau moda transportasi lainnya, sedikit “ritual” higienis bisa sangat membantu.

Tisu disinfektan yang dioleskan di baki meja, sabuk pengaman, dan sandaran tangan bukanlah paranoia. Menurut penelitian, area ini sering menyimpan lebih banyak bakteri.

Dengan menyeka permukaan barang-barang dan menghindari kebiasaan menyentuh wajah, kamu sudah berupaya melindungi diri.

Masih ada banyak hal yang bisa dipertimbangkan ketika liburan, mulai dari tips perjalanan, tiket mudik, hingga rekomendasi kuliner saat berlibur. Simak selengkapnya di link ini.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih