diajeng.id - Pemberitaan bertubi-tubi pada bulan April lalu terkait kekerasan anak di daycare Little Aresha, Yogyakarta dan kecelakaan kereta di Bekasi Timur yang menelan belasan korban jiwa perempuan telah menimbulkan kegelisahan luar biasa di kalangan publik.
Sederet kejadian memprihatinkan ini telah mengguncang sense of security, rasa aman yang menopang realitas kita sehari-hari sebagai orang tua, ibu, dan pekerja.
Sebagian dari kita mungkin merasa memiliki kesamaan hidup dengan para korban; bagian dari keluarga kecil dengan anak yang perlu dititipkan ke daycare, menjalani pekerjaan di luar rumah, atau bergantung pada transportasi publik untuk beraktivitas.
Sebagai upaya untuk memproses kegundahan yang terasa jamak tersebut, Diajeng berbincang dengan Rifatul Khoiriyah, M.Psi, Psikolog, dari BBPPKS (Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial) Yogyakarta, Kementerian Sosial RI.
“Dalam situasi seperti ini,” lanjut Ririf, “kita perlu memahami apa yang sedang terjadi pada diri kita sekaligus menemukan cara agar tetap tenang dan mampu menjalani kehidupan sehari-hari ke depan dengan lebih baik.”
Mengapa Kita Jadi Ekstra Waspada dan Cemas Berlebih?
Menyadari bahwa suatu peristiwa telah memengaruhi kewaspadaan kita sebenarnya adalah pengalaman yang normal dan diperlukan.
“Ini bagian dari mekanisme pertahanan diri. Kewaspadaan akan muncul manakala ada ancaman secara psikologis maupun secara fisik. Namun, yang perlu kita waspadai adalah ketika kewaspadaan itu menjadi tidak sehat. Misalnya, mulai muncul rasa takut yang terus-menerus, pikiran-pikiran buruk pada keluarga, anak bakal tersakiti, dan lain sebagainya,” kata Ririf.
Pada waktu sama, Ririf tidak menampik narasi yang berseliweran di media massa dan media sosial telah berkontribusi besar dalam memperkuat kekhawatiran kita semua.
Ririf melanjutkan, perasaan tersebut berkaitan erat dengan kecenderungan otak untuk lebih fokus pada hal-hal negatif atau negativity bias.
“Lebih mudah mengingat berita-berita buruk dibandingkan berita baik, sehingga kita menganggap kejadian tragis lebih ‘besar’ daripada kejadian-kejadian lain pada umumnya.”
Di tengah situasi ini, wajar apabila kita merasa cemas untuk bepergian atau menitipkan anak ke pihak lain.
Menurut Ririf, ada beberapa mekanisme psikologis yang bisa menjelaskan kecemasan atau ketakutan tersebut.
“Pertama, aktivitas sistem stres tubuh. Kita berada dalam mode fight or flight response. Dalam kondisi ini, amigdala di otak akan langsung merespons ancaman. Banyaknya pemberitaan, dari masalah daycare sampai kecelakaan, membuat tubuh kita selalu ada dalam posisi terancam, posisi bahaya, sehingga tubuh selalu alert—waspada,” tegas Ririf.
“Selain itu, juga ada vicarious trauma—trauma tidak langsung,” lanjut Ririf.
“Dengan melihat dan mendengar kejadian traumatis secara berulang tiap hari, apalagi ditambah mencari-cari berita sendiri atau mendengar pembicaraan itu di kantor, kita seperti mengalami peristiwa itu secara langsung meski tidak berada pada posisi tersebut.”
“Kemudian, ada penularan emosi dari media. Informasi yang diberitakan secara masif dari media turut menimbulkan emosi-emosi negatif, seperti ketakutan dan kemarahan, yang menular ke kita. Akhirnya, pikiran jadi overload, terlalu penuh, sehingga kita mudah cemas dan sulit fokus,” tukas Ririf.
Kembalikan Kontrol ke Diri Sendiri
Apakah merasa takut dan cemas atas situasi yang mencekam belakangan ini menunjukkan bahwa kita adalah pribadi yang lemah?
“Rasa takut sebenarnya bukan tanda lemah,” terang Ririf, “tapi menandakan sistem perlindungan tubuh kita sedang bekerja terlalu keras untuk selalu menciptakan situasi waspada secara terus-menerus.”
Meski kecemasan itu manusiawi dan kewaspadaan pada dasarnya adalah insting yang penting, kita perlu membangun kesadaran agar tidak terjebak di dalamnya.
Caranya adalah dengan membangun kembali rasa aman dan percaya melalui tindakan-tindakan yang masih rasional dan terukur, sehingga kita dapat membangun kontrol atas situasi dan tetap waras.
Selain diet informasi, kita juga bisa memilih untuk fokus melakukan hal-hal yang berhubungan langsung pada kita.
Terkait isu daycare misalnya, kita bisa memilih untuk fokus pada perizinan daycare, sistem pengawasan, dan rasio pengasuh di daycare tempat kita menitipkan anak. Kita juga bisa melakukan kunjungan mendadak ke daycare pada waktu-waktu tidak biasa untuk mengawasi langsung praktik pengasuhan di sana.
Sehubungan dengan risiko keamanan transportasi publik, kita bisa mulai membiasakan untuk lebih sering mengabari keberadaan kita pada keluarga di rumah; masih di perjalanan, sedang terjebak macet, atau menunggu jemputan ojol.
Tidak ada salahnya pula untuk mencari tahu lebih dalam tentang sistem keamanan transportasi publik dan membekali diri dengan cara-cara melindungi diri dari benturan atau situasi darurat lain di tempat umum.
Sebagai masyarakat yang mayoritas beragama, Ririf mengingatkan, religiositas bisa jadi bekal. Yang sebelumnya jarang berdoa, bisa kembali membiasakannya agar diberi ketenangan saat jauh dari keluarga, saran Ririf.
Kita bisa juga menerapkan relaksasi pernapasan atau teknik grounding dengan mengaktifkan kelima pancaindera penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba, dan pengecap.
“Apa yang nampak di depan mata? Oh, kursi dan tirai, apa warnanya? Lalu, penciuman. Apa yang tercium di sini; bau asap atau minyak wangi? Kemudian, yang kita dengar; suara orang ngobrol, suara mesin. Yang dirasakan di lidah; permen manis, pahit, atau asin. Yang disentuh; bidang kayu yang teksturnya kasar, atau kain yang lembut. Relaksasi dengan teknik grounding bisa menenangkan sistem saraf ketika kita merasa cemas atau mengalami serangan panik,” terang Ririf.
Yang tidak kalah penting, tegas Ririf, adalah memperkuat dukungan sosial atau support system yang memungkinkan kita berbagi dengan sesama ibu dan perempuan, orang tua, dan komunitas agar saling menguatkan dan meredakan beban emosional.
“Yang kita bisa kendalikan adalah respons untuk mencerna dan mempersepsikan situasi. Bagaimana mengambil pembelajaran dari situasi yang terjadi agar kita bisa menjalani hidup dengan lebih baik lagi,” pungkas Ririf.
Editor: Dwi Ayuningtyas