diajeng.id - Rima baru saja kehilangan ayahnya akibat sakit mendadak.
Sejak hari itu, ia terus merasa bersalah dan menyesali apa yang telah dilakukannya.
Rima pun terus mengulang satu pertanyaan yang sama, "Kenapa aku iya-iya saja waktu dokternya izinkan ayahku pulang padahal kondisinya sepertinya masih perlu rawat inap?"
Beberapa hari kemudian, setelah berada di rumah, kondisi sang ayah terlihat sangat tidak nyaman. Keadaannya memburuk dan akhirnya dibawa ke IGD.
Tak lama kemudian, ayah Rima meninggal dunia. Penyesalan Rima pun kian bertambah.
"Kenapa aku tidak cepat-cepat antar ke IGD tengah malam itu? Kenapa menunggu paginya?"
Segala pertanyaan itu terus berputar, membuatnya larut dalam kesedihan dan perasaan bersalah.
Di sisi lain, kondisi kesehatan ayahnya sudah parah sedari awal. Banyak faktor kesehatan yang berada di luar kontrol Rima.
Namun, sesal dan rasa bersalah sungguh sulit untuk dikendalikan. Perasaan-perasaan tersebut terus mengudara dan berkecamuk, seolah-olah menuntut jawaban yang tak pernah benar-benar ada.
Strategi Mengelola Rasa Bersalah
Seperti dijelaskan di laman Psych, rasa bersalah yang menghantui pikiran memang terasa sangat berat dan sulit dilepaskan.
Meski begitu, perasaan bersalah masih tetap bisa dikelola, tak peduli sudah berapa lama perasaan itu bertahan.
Yang pertama kali perlu dilakukan adalah mengidentifikasi sumber rasa bersalah.
Kamu bisa mulai dengan bertanya pada diri sendiri.
Apa yang sebenarnya terjadi? Bagian mana yang membuat aku merasa bersalah?
Apa aku benar-benar melakukan kesalahan atau hanya merasa demikian? Apa rasa bersalah ini dipengaruhi orang lain? Apa situasinya berada dalam kendaliku?
Jawaban-jawaban atas pertanyaan di atas penting untuk membantu membedakan antara tanggung jawab nyata dan beban emosional yang berlebihan.
Perlu diingat juga, terus-terusan merasa bersalah bisa berkaitan dengan kondisi kesehatan mental seperti depresi, gangguan stres pasca-trauma (PTSD), dan gangguan obsesif-kompulsif (OCD).
Maka dari itu, diperlukan pendekatan yang lembut dan realistis untuk mengelolanya. Berikut beberapa strategi yang dapat membantu:
1. Akui Keberadaannya
Menyadari bahwa rasa bersalah sebagai akar masalahnya dapat memberi kejelasan tentang langkah selanjutnya.Jika tidak, maka ini bisa membuat kamu diliputi anxiety atau kecemasan
Stop memberikan nilai negatif pada diri sendiri.
Kesalahan atau keputusan yang kurang tepat tidak mendefinisikan siapa kamu sebagai pribadi. Perilaku tidak sama dengan nilai diri.
2. Cari Tahu Alasan Mengapa Kamu Terus Merasa Bersalah
Ada kalanya kita terus merasa bersalah, padahal orang lain sudah melupakan kejadian tersebut bahkan memaafkan kamu.
3. Mengingat Hal-hal Baik yang Sudah Diakukan
Saat rasa bersalah muncul, kita cenderung melupakan hal-hal baik apa saja yang pernah kita berikan.Cobalah mengingatnya kembali, bisa jadi kamu justru menemukan lebih banyak hal positif dibanding yang negatif.
4. Sadari bahwa Memiliki Kebutuhan Itu Wajar
Merawat diri sendiri bukanlah tindakan egois. Pahami pula bahwa kamu tidak harus selalu siap untuk semua orang setiap saat.
5. Tetapkan Batasan yang Sehat
Batasan yang jelas membantu mencegah rasa bersalah yang muncul karena mencoba memenuhi harapan semua orang.
6. Perbaiki Kesalahan Jika Memungkinkan
Meminta maaf atas perilaku salah yang pernah dilakukan dapat membantu mengurangi perasaan bersalah.Jika tidak memungkinkan, misalnya karena orang tersebut telah meninggal, cobalah menulis surat atau jurnal untuk semua yang tidak sempat kamu katakan padanya saat itu.
7. Memahami pada Hal yang Bisa Dikendalikan
Tidak semua hal dapat diubah. Terus menyalahkan diri sendiri atas sesuatu di luar kendali jarang membawa perubahan yang berarti.
8. Atasi Tantangan Kesehatan Mental
Jika rasa bersalah berkaitan dengan trauma atau gangguan psikologis, dukungan profesional sangat dianjurkan.
9. Menerima bahwa Tidak Ada yang Namanya Kesempurnaan
Semua orang membuat kesalahan. Kesalahan bukan tanda bahwa kamu orang yang buruk, melainkan bagian dari proses belajar dan bertumbuh.
Apakah Merasa Bersalah Ini Normal?
Rasa bersalah adalah emosi yang alami dan umum.
Dalam kadar tertentu, ia bahkan bisa membantu kita merefleksikan perilaku dan bertanggung jawab atas dampak tindakan kita.
Namun, para ahli mengingatkan bahwa rasa bersalah juga bisa menjadi tidak sehat.
Psikolog klinis Dr. Sanveen Kang melalui laman Channel News Asia menjelaskan bahwa rasa bersalah perlu dilihat dari intensitas, durasi, dan dampaknya terhadap kesejahteraan kita.
Sebaliknya, rasa bersalah yang tidak sehat sering muncul dari ekspektasi yang mustahil terhadap diri sendiri.
Konsultan psikolog klinis Dr. Roy Chan menambahkan bahwa tanda penting rasa bersalah yang tidak sehat adalah mengambil tanggung jawab atas hal-hal yang berada di luar kendali kita, termasuk menyalahkan diri setelah kehilangan orang tercinta, dengan keyakinan bahwa kita “seharusnya bisa berbuat lebih banyak”, padahal situasinya memang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan.
"Rasa bersalah jadi tidak sehat kalau sudah memengaruhi fungsi kita, atau mempersulit kita untuk menjalin hubungan yang sehat dengan diri sendiri dan orang lain,” katanya.
Dr. Kang menambahkan, jika rasa bersalah terasa tidak dapat diselesaikan, maka ia bisa berubah menjadi hukuman diri.
"Hal itu dapat menciptakan siklus di mana kamu tidak dapat memaafkan diri sendiri atau bergerak maju. Kemudian hal itu menjadi lebih seperti hukuman diri alih-alih motivator untuk perubahan positif,” jelas Dr. Kang.
“Dalam kasus yang parah, rasa bersalah bahkan dapat memicu respons stres seperti peningkatan detak jantung atau tekanan darah tinggi,” lanjutnya.
Singkatnya, rasa bersalah menjadi tidak sehat ketika ia mengganggu fungsi hidup, merusak hubungan dengan diri sendiri, dan membuat kita sulit melangkah maju.
Pada titik itu, melepaskan rasa bersalah bukan berarti melupakan atau tidak peduli, melainkan memilih untuk berbelas kasih pada diri sendiri.
Editor: Sekar Kinasih