Menuju konten utama
Psikologi Diri

Menjadi Diri Sendiri: Proses Panjang yang Tidak Selalu Mudah

Hidup selaras dengan nilai dan keyakinan pribadi membuat kita lebih siap menerima bahwa tidak semua orang akan suka atau paham kita, dan itu tidak apa-apa.

Menjadi Diri Sendiri: Proses Panjang yang Tidak Selalu Mudah
Header Diajeng Be Yourself. tirto.id/Quita

diajeng.id - Dalam keseharian, mungkin kamu sering mendengar pepatah “just be yourself.”

Namun, pada kenyataannya, menjadi diri sendiri, apalagi menemukan diri yang sejati, bukanlah perkara mudah.

Kita tumbuh dengan “memetik” inspirasi dari pengalaman orang lain, menyerap energi dari sosok-sosok yang menginspirasi, serta dibentuk oleh pola asuh orang tua beserta trauma yang, sadar atau tidak, ikut mereka wariskan.

Dalam proses itu, kita nyaris tak pernah benar-benar berdiri sebagai diri yang sepenuhnya utuh dan mandiri.

Oleh karena itulah, mempercayai identitas diri dengan segala lapisannya terasa begitu berat.

Coba ingat-ingat, kamu pasti pernah punya teman yang gemar ikut-ikutan pilihan atau gayamu, bukan?

Saat kamu memakai baju warna pink, dia juga pakai pink. Ketika kamu membeli tumbler model X, tak lama kemudian dia pun ikut-ikutan.

Lalu, mengapa menjadi diri yang otentik terasa begitu menantang? Salah satu jawabannya adalah rasa malu.

Rasa Malu Menghambat untuk Jadi Diri Sendiri

Sebesar apa pun keinginan kita untuk merasa otentik, pada praktiknya kita sering tidak sepenuhnya jujur pada diri sendiri, terutama saat berada di hadapan orang lain.

Alih-alih hadir sebagai diri apa adanya, kita belajar membangun cara-cara tertentu untuk terlihat “baik”, menyenangkan orang lain, dan menghindari penolakan.

Tanpa sadar, dalam beberapa kesempatan kita mencoba menciptakan versi diri yang dibuat-buat: diri yang kita kira lebih layak diterima.

Dalam laman Psychology Today, psikolog Carl Rogers menyebut keotentikan sebagai hidup yang "kongruen", ketika apa yang kita tunjukkan ke luar selaras dengan apa yang kita rasakan di dalam.

Marah diakui sebagai marah, sedih dihormati sebagai sedih, alih-alih ditutupi senyum palsu atau kepura-puraan baik-baik saja.

Kejujuran emosional ini menjadi fondasi untuk hubungan yang tulus dengan diri sendiri dan orang lain.

Meski begitu, kejujuran seperti ini sering terhambat oleh rasa malu yang tak disadari. Rasa malu membuat kita percaya bahwa ada yang salah dalam diri kita, bahwa kita cacat, kurang, atau tidak cukup layak untuk dicintai.

Ketakutan akan ditolak, dipermalukan, atau disingkirkan mendorong kita untuk terus memoles diri agar sesuai dengan ekspektasi luar.

Akibatnya, kita sibuk mendesain citra diri: ada yang menonjolkan kecerdasan, humor, kecantikan, kekuasaan, atau kesuksesan, demi satu tujuan yang sama, yakni diterima oleh sekitarnya.

Rasa malu mengikis keotentikan.

Rasa malu membuat hidup terasa kaku dan serius, seolah tidak ada ruang untuk menjadi manusia dengan kekuatan sekaligus keterbatasan. Saat kita percaya bahwa diri kita tidak cukup, kita justru meninggalkan diri kita sendiri.

Selain rasa malu, seperti dikutip situs Breakbox Coaching, ketakutan untuk menjadi diri sendiri yang otentik juga berakar pada mekanisme perlindungan diri yang kita bangun sejak dini.

Ego membantu kita bertahan dengan menciptakan identitas yang terasa aman dan dapat diterima, yakni identitas yang dibentuk oleh harapan keluarga, norma sosial, dan pengalaman masa lalu.

Seiring waktu, identitas berdasarkan ego ini berkembang jadi kaku. Kita bertahan pada versi diri yang nyaman dan familiar karena keluar dari situ terasa berisiko, seolah-olah kita mempertaruhkan rasa aman, penerimaan, bahkan harga diri.

Ketakutan ini semakin menguat ketika luka emosional dan pengalaman penolakan belum sepenuhnya diproses.

Kita belajar mengaitkan kerentanan dengan rasa sakit, lalu memilih bermain "aman" dengan menyesuaikan diri, mengecilkan keinginan, dan menyembunyikan bagian diri yang dianggap “tidak pantas.”

Dorongan untuk terlihat sempurna dan menghindari kegagalan juga membuat kita menjauh dari keaslian. Ironisnya, demi menghindari penolakan dari luar, kita justru perlahan menolak diri kita sendiri.

Pada artikel lainnya di laman Psycholog Today yang berjudul You Do You: How Being Yourself Pays Off dijelaskan bawhwa menjadi diri sendiri bukan sekadar slogan motivasi, melainkan cara hidup yang memberi perlindungan emosional dan ruang bagi hubungan yang lebih sehat.

Keotentikan berarti hadir sebagai diri apa adanya, jujur pada perasaan, pikiran, dan nilai yang kita hidupi tanpa harus terus menyesuaikan diri demi diterima.

Ketika kita tidak lagi berpura-pura atau membangun citra palsu, hidup terasa lebih ringan. Kita berhenti menghabiskan energi untuk mempertahankan peran yang bukan milik kita, dan mulai membangun kepercayaan diri dari kejujuran pada diri sendiri.

Keotentikan juga membantu kita berdamai dengan kemungkinan penolakan.

Saat kita hidup selaras dengan nilai dan keyakinan pribadi, kita lebih siap menerima bahwa tidak semua orang akan menyukai atau memahami kita dan itu tidak apa-apa.

Rasa aman ini memperkuat harga diri, mengurangi kecemasan sosial, dan membuat kita lebih nyaman berada di berbagai situasi.

Dalam hubungan, baik pertemanan maupun romantis, menjadi diri sendiri membuka jalan bagi intimasi yang lebih dalam, sehingga akan membuat kepercayaan tumbuh, komunikasi lebih jujur, dan hubungan terasa lebih memuaskan karena dibangun di atas kehadiran dua individu yang saling apa adanya.

Cara Menjadi Diri Sendiri di Sekitar Orang Lain

Menjadi diri sendiri di sekitar orang lain, sebagaimana dinukil blog Mental Health Harley Therapy, memang tidak selalu mudah.

Banyak dari kita terbiasa tertawa pada hal yang tidak lucu, menyetujui sesuatu yang sebenarnya tidak kita inginkan, atau menahan diri agar tetap diterima.

Pola tersebut umumnya berawal dari pengalaman masa kanak-kanak, saat penerimaan terasa bersyarat dan kita belajar bahwa kasih sayang harus “diusahakan.” Tanpa sadar, kebiasaan itu terbawa hingga dewasa.

Langkah pertama untuk kembali pada diri sendiri adalah mengenali apa yang kita pikirkan dan rasakan. Coba luangkan waktu untuk menulis jurnal, berlatih mindfulness, dan mengamati reaksi diri membantu kita lebih hadir dan jujur pada pengalaman batin.

Penting juga untuk melepaskan asumsi tentang orang lain, bahwa kita harus berubah agar diterima. Bisa jadi, mereka pun sama rapuhnya dengan kita.

Mengingat bahwa kita sudah cukup apa adanya, serta memperlakukan diri dengan belas kasih, menjadi fondasi penting untuk keberanian ini.

Di saat yang sama, perhatikan lingkungan sosial kita. Berada di sekitar orang-orang yang menerima dan mendukung keotentikan akan membuat proses ini terasa lebih aman.

Fokuskan diri pada tujuan jangka panjang dari menjadi diri sendiri, meski pada awalnya terasa canggung atau berisiko kehilangan beberapa relasi.

Apabila proses yang dilakukan terasa terlalu berat, mencari dukungan profesional bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kepedulian pada diri sendiri.

Menjadi diri sendiri bukanlah tentang tampil sempurna saja, tetapi ini tentang keberanian untuk hadir, jujur, utuh, dan manusiawi.

Cari tahu lebih banyak tentang artikel mencintai diri sendiri melalui tautan berikut ini: self-love.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih