Menuju konten utama

Menstruasi di Tengah Krisis: Realitas Perempuan di Zona Bencana

Di kala bencana, memenuhi kebutuhan menstruasi adalah bagian penting dari upaya membangun pemulihan yang adil gender dan manusiawi.

Menstruasi di Tengah Krisis: Realitas Perempuan di Zona Bencana
Header diajeng Menstruasi di Kala Bencana. tirto.id/Quita

diajeng.id - Banjir besar yang melanda wilayah di Sumatra, khususnya Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada akhir November lalu masih menyisakan duka mendalam. Banjir bandang yang datang tiba-tiba meninggalkan jejak kehancuran yang masif.

Sampai 15 Desember, korban meninggal dunia dilaporkan mencapai 1.030 jiwa dan dua ratus orang masih dalam pencarian. Pada waktu sama, sekitar 600 ribu warga mengungsi. Sebagian besar kehilangan harta benda dan harus memulai hidup dari nol di tenda-tenda darurat yang serba terbatas.

Dalam pusaran krisis ini, perhatian publik sering terfokus pada logistik dasar seperti makanan dan pakaian.

Namun, di antara para korban, ada ibu-ibu, perempuan dewasa, dan remaja putri yang dihadapkan pada tantangan lain tak kalah mendesak yang nyaris tak terlihat: pengalaman menstruasi di tengah keterbatasan zona bencana.

Bagi mereka, menstruasi bukan hanya perkara fisiologis, tetapi juga perjuangan menjaga kebersihan, martabat, dan kesehatan di lingkungan pengungsian yang jauh dari layak.

Seperti dilaporkan BBC saat bencana gempa bumi di Nepal pada 2015 silam, saat terjadi bencana, perempuan tidak hanya kehilangan rumah dan rasa aman, tetapi juga akses terhadap pembalut, air bersih, dan privasi.

Kondisi darurat membuat hal-hal paling dasar, seperti mengganti pembalut atau membersihkan diri, menjadi persoalan rumit yang penuh kecemasan.

Tinggal berdesak-desakan dalam satu tenda bersama dengan banyak orang, bahkan dengan yang tak dikenal, toilet yang jauh dan minim penerangan, membuat tubuh perempuan jadi area kerentanan yang terus diawasi dan dibatasi.

Di Nepal, krisis ini diperparah oleh keterbatasan air bersih dan praktik penggunaan pembalut kain yang harus dicuci berulang kali di air yang tercemar.

Risiko infeksi, rasa malu ketika darah menstruasi bocor ke celana atau rok, hingga ketakutan akan penilaian sosial menjadi sejumlah pengalaman sehari-hari perempuan Nepal saat itu.

Banyak perempuan di sana terpaksa mencuci pembalut secara sembunyi-sembunyi di sungai atau pada jam-jam petang, bahkan ketika perut mereka kram dan kesakitan.

Bagi yang kehilangan segalanya akibat bencana yang terjadi, kehilangan pembalut berarti harus meminjam kain seadanya, tanpa kemampuan untuk mengganti atau mencucinya dengan layak.

Di atas semua itu, tabu budaya tentang menstruasi seperti anggapan bahwa perempuan menstruasi adalah “tidak bersih” masih kuat pula mengakar.

Upaya bantuan kemanusiaan memang mencakup perlengkapan menstruasi, tetapi tantangan sanitasi dan norma sosial tetap membatasi manfaatnya.

Menstruasi, dalam konteks bencana, memperlihatkan bagaimana ketimpangan gender dan tradisi yang membungkam dapat memperberat proses bertahan hidup dan pemulihan perempuan.

Saat gempa bumi 7 skala Richter (SR) mengguncang Lombok pada 2018 silam, Kadek Ariasti Widhiari yang berusia 14 tahun sedang menstruasi.

Dalam kepanikan dan ketidakpastian, ia harus mengungsi bersama keluarganya ke tempat penampungan, sambil menahan rasa sakit, takut, dan perasaan tak berdaya.

Di tengah kondisi darurat, kebutuhan paling pribadi itu justru menjadi sumber kecemasan yang terus menyertainya.

“Sepanjang waktu itu, saya berusaha mengatasi ketidaknyamanan menstruasi,” katanya. “Saya takut, tak berdaya, dan kesakitan,” kisah Kadek dikutip situs Unicef.

Di pengungsian, Kadek tidak bisa mendapatkan pembalut karena semua toko tutup pascagempa.

“Di tempat penampungan, saya tidak bisa dapat pembalut,” lanjut Kadek. “Tidak ada toko yang buka setelah gempa.”

Kadek kemudian berimprovisasi dengan merobek popok adiknya sebagai pengganti, sebuah pilihan yang lahir dari keterpaksaan.

Pengalaman Kadek mencerminkan kisah banyak remaja putri lain yang harus berjuang mengelola menstruasi di tengah keterbatasan, tabu, dan minimnya fasilitas, ketika bencana seharusnya tidak menambah beban atas tubuh mereka sendiri.

Pengalaman serupa juga dialami perempuan-perempuan di Brasil selatan ketika banjir besar melanda Rio Grande do Sul pada 2024 silam.

Di bawah guyuran hujan yang tak kunjung berhenti, perempuan di pengungsian harus menghadapi siklus menstruasi mereka, meski akses terhadap pembalut dan produk kebersihan menjadi semakin sulit.

Julia Clock, seorang relawan medis Palang Merah Brasil, menggambarkan bagaimana kelangkaan produk kesehatan menstruasi menjadi masalah nyata, tapi sering tak dibicarakan karena masih dianggap tabu dan memalukan.

"Salah satu masalah yang kami hadapi dalam menangani keadaan darurat banjir di Brasil adalah kesulitan mendapatkan akses ke produk kebersihan menstruasi dan kesehatan menstruasi," ujarnya seperti diwartakan IFRC.

Tanpa fasilitas yang bersih, aman, dan privat, serta tanpa ruang aman untuk berbicara, kebutuhan menstruasi mudah terpinggirkan.

Pengalaman mereka menegaskan bahwa dalam bencana apa pun, tubuh perempuan tetap berjalan dengan ritmenya sendiri dan menuntut perhatian yang setara dengan kebutuhan dasar lainnya.

Dukungan untuk Perempuan Menstruasi di Zona Bencana

Melansir situs United Nations Population Fund (UNFPA), dalam situasi krisis yang minim air bersih dan sanitasi, perempuan menstruasi menghadapi risiko kesehatan lebih besar seperti infeksi saluran kencing dan infeksi bakteri pada vagina.

Keterbatasan produk menstruasi bahkan meningkatkan risiko kekerasan. Ini tecermin dari pengalaman seorang gadis Etiopia di kawasan Benishangul-Gumuz yang terdampak konflik etnis bersenjata pada 2019-22 silam.

Ia dan keluarganya terpaksa melarikan diri ke hutan. Mereka menyobek kain seadanya untuk menadah darah menstruasi, kemudian duduk di tumpukan daun di bawah pohon sembari menunggu menstruasi selesai.

Berada dalam kondisi tidak higienis di alam terbuka dalam kondisi konflik demikian dapat meningkatkan risiko ancaman kekerasan berbasis gender, belum lagi terdampak cuaca ekstrem.

Masih mengutip UNFPA, ketiadaan perlengkapan menstruasi memadai pada situasi krisis berisiko membatasi mobilitas perempuan, termasuk untuk berangkat sekolah, kerja, atau mengakses layanan mendesak di luar, karena merasa malu dan tidak percaya diri untuk pergi.

Miskonsepsi dan mitos seputar menstruasi hingga tabu tentang darah menstruasi "kotor" juga ikut membungkam pengalaman menstruasi sehat dan semakin membuatnya terabaikan dalam respons kemanusiaan.

Pada akhirnya, dukungan untuk perempuan menstruasi di zona bencana maupun krisis lainnya bukanlah kebutuhan tambahan, tetapi bagian dari pemenuhan hak dasar manusia.

Penyediaan perlengkapan dan fasilitas kebersihan menstruasi penting untuk membantu menjaga kesehatan, rasa aman, dan martabat di tengah kondisi yang paling tidak ramah bagi tubuh perempuan.

Tanpa dukungan yang memadai, perempuan dan anak perempuan menjadi lebih rentan terhadap kekerasan berbasis gender, stigma, dan pengucilan sosial.

Maka dari itu, mendukung perempuan yang sedang menstruasi berarti menghormati otonomi tubuh, mendorong kesetaraan gender, dan memperkuat kesejahteraan kolektif.

Ketika perempuan dapat mengelola menstruasi mereka dengan aman dan bermartabat, dampaknya sungguh luas: pada kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan ketahanan komunitas secara keseluruhan.

Di zona bencana dan krisis, memenuhi kebutuhan menstruasi adalah bagian penting dari membangun pemulihan yang adil gender dan manusiawi.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Binar
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih