Menuju konten utama

Merasa Tidak Didengar, Tidak Dilihat: Apa yang Bisa Dilakukan?

Merasa ingin didengar, dilihat, dan dihargai bukan hanya soal mendapat giliran bicara atau perhatian sesaat, tapi tentang pengakuan bahwa kita punya nilai.

Merasa Tidak Didengar, Tidak Dilihat: Apa yang Bisa Dilakukan?
Header Diajeng Merasa Tidak Didengar. tirto.id/Quita

diajeng.id - Didengar dan dilihat adalah bentuk pengakuan, salah satu kebutuhan mendasar manusia, bahwa kehadiran kita dihargai oleh lingkungan sosial.

Ada rasa lelah yang sulit dijelaskan ketika kita berbicara, tapi suara kita seolah-olah tidak pernah didengar oleh orang-orang di sekitar. Rasa lelah yang sama juga menyeruak ketika kita hadir di suatu tempat, tapi tidak betul-betul "dilihat".

Penyebabnya bukan suara kita yang terlalu pelan dan kurang jelas, atau tubuh kita yang mungil sehingga "tenggelam" di keramaian massa. Lelah ini muncul karena kebutuhan paling dasar kita sebagai manusia, untuk diakui, dihargai, dan dianggap bermakna, tidak terpenuhi.

Merasa ingin didengar, dilihat, dan dihargai bukan sekadar soal mendapat giliran bicara atau perhatian sesaat, tapi juga tentang pengakuan bahwa kehadiran kita punya nilai.

Realitasnya, kehidupan sosial tidak pernah sesederhana itu. Dunia ini sarat dengan dinamika, benturan kepentingan, ego yang saling beradu, serta relasi yang tak selalu adil.

Dalam pusaran dunia yang berisik, ada orang-orang yang tanpa sadar, atau justru dengan sadar, tersingkir, diabaikan, dan “tidak dianggap”.

Jika ini terjadi pada diri kita, pertanyaannya bukan hanya mengapa ini terjadi, tetapi juga apa yang kemudian bisa kita upayakan.

Bagaimana menyikapi rasa tak terlihat tanpa kehilangan diri sendiri? Langkah apa yang perlu diambil agar kita tetap bertumbuh di tengah realitas yang tidak selalu ramah?

Mengapa Kamu Tak Didengar dan Tak Dilihat?

Ada beberapa penyebab yang membuat seseorang merasa tidak dilihat dan tidak dianggap. Salah satunya karena penolakan sosial, baik yang disengaja maupun tidak. Sebab lainnya, seperti dilansir Psych Central adalah sebagai berikut:

Stereotip dan prasangka terkait ras, gender, atau latar belakang budaya membuat seseorang direduksi pada label, bukan dilihat sebagai pribadi utuh.

Identitas yang tidak diakui, termasuk identitas gender atau peran sosial tertentu, membuat seseorang merasa keberadaannya disangkal.

Pengabaian emosional di masa kecil, ketika kebutuhan untuk diperhatikan dan dihargai tidak terpenuhi, dapat terbawa hingga dewasa dan memengaruhi cara seseorang memandang dirinya.

Pengalaman bullying dan pengucilan, terutama di masa sekolah, membentuk ketakutan akan penolakan dan kecenderungan menarik diri.

Rasa malu dan kecanggungan sosial, yang membuat seseorang memilih diam dan menunggu, sering kali berujung pada semakin tidak diperhatikan oleh lingkungan.

Sederhananya, seseorang bisa diabaikan bukan karena ia tidak bernilai, melainkan karena kombinasi lingkungan yang tidak inklusif, pengalaman masa lalu yang melukai, dan cara bertahan yang akhirnya justru membuat keberadaannya semakin samar.

Membuat diri "terlihat" bukan tentang menjadi paling keras atau menonjol, melainkan tentang berani hadir secara utuh, mengenali kebutuhan sendiri, mengungkapkannya dengan sehat, dan memilih dukungan yang membangun.

Melansir tulisan Bruce Y. Lee M.D., M.B.A. di Psychology Today, merasa tidak didengar dan tidak dilihat adalah masalah umum dalam lingkungan kerja dan sosial, serta dalam kehidupan sehari-hari. Meski terkesan sepele, sejatinya ini bukan keluhan kecil, melainkan tanda bahwa kebutuhan dasar kita sebagai manusia sedang terabaikan.

Perasaan diabaikan ini sering muncul bukan karena kita kurang bernilai, tetapi karena kita berada di lingkungan yang tidak memberi ruang bagi keberadaan kita.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Di struktur masyarakat pada umumnya, suara yang paling keras sering lebih diperhatikan, sedangkan mereka yang berpandangan berbeda, tidak dominan, atau tidak sejalan dengan arus utama perlahan-lahan jadi tak terlihat dan dipandang tak relevan.

Ketika perasaan itu muncul, langkah awal yang bisa diupayakan adalah mengungkapkannya secara jujur dan jelas.

Mengatakan, “Saya merasa tidak didengarkan atau diperhatikan,” bukanlah bentuk tuntutan berlebihan, melainkan upaya memberi kesempatan pada relasi untuk bertumbuh.

Respons dari orang yang kita ajak bicara akan menjadi cermin penting. Kepedulian akan tampak dalam kesediaan mendengar dan memperbaiki keadaan, sementara penyangkalan atau sikap menyalahkan menandakan batas yang perlu kita sadari.

Apabila setelah segala upaya kita tetap diabaikan, mungkin yang perlu dilakukan bukan lagi bertahan, melainkan melangkah pergi.

Bisa jadi, kita perlu mencari ruang baru yang menerima kita apa adanya, tanpa perlu pembuktian berlebihan, karena di sanalah kita memang dihargai.

Ingat, kamu bukanlah tumpukan debu yang bisa begitu saja disapu ke bawah karpet. Kamu bernilai dan berharga.

Bagaimana Kita Memvalidasi Suara dan Eksistensi Orang Lain?

Memberikan validasi pada orang lain artinya mengakui perasaan dan pengalaman mereka, tanpa kita harus perlu setuju dengan pandangan mereka atau sampai harus "memperbaiki" mereka.

Demikian disampaikan Caroline Fleck dalam artikelnya di Psyche. Fleck menekankan bahwa validasi adalah kemampuan sosial yang dampaknya sangat dahsyat, tapi sering disepelekan.

Kemampuan mendengarkan orang lain dengan empati dan berupaya berkaca pada pengalaman orang lain dapat membantu kita menciptakan semacam ruang aman psikologis yang memungkinkan koneksi, mengurangi konflik, dan memperkuat relasi.

Memvalidasi orang lain bukan sekadar diam saat dia berbicara, melainkan hadir sepenuhnya tanpa menghakimi. Kontak mata, anggukan kecil, gestur yang menunjukkan ketertarikan, atau sedikit mencondongkan tubuh adalah sinyal sederhana tapi kuat, bahwa kita menjadi ruang aman bagi seseorang untuk berdialog, bahkan ketika kita tidak setuju dengan sudut pandangnya.

Validasi juga tumbuh dari upaya merefleksikan apa yang kita dengar. Mengulang atau merangkum poin orang lain, tanpa menambahkan penilaian, menunjukkan bahwa suaranya benar-benar tersampaikan.

Validasi bukan berarti menyetujui, melainkan mengakui pengalaman mereka sebagai sesuatu yang nyata dan bermakna.

Lebih jauh lagi, mengakui suara orang lain berarti mencoba melihat konteks di balik reaksi mereka.

Dengan mengatakan, “Masuk akal kamu merasa seperti itu, karena pengalamanmu begitu menantang...” kita sedang menghubungkan emosi dengan latar yang melahirkannya. Pendekatan ini membantu orang merasa dipahami tanpa harus membela diri.

Dunia ini sudah penuh kebisingan dan ego. Perhatian, refleksi, dan pengakuan dengan kalimat sesederhana, "Aku melihatmu, dan suaramu berharga,” bisa jadi cara paling praktis bagi kita semua untuk tetap bertahan di tengah kegaduhan dunia.

Masih berkaitan dengan menjaga emosi, kamu juga bisa menemukan artikel menarik lainnya di sini.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih