Menuju konten utama
Diajeng Berdaya

Merawat Keluarga, Memasok Kecap ke Toko: Kisah Naning di Bantul

Bagi Naning, kecap yang dipasoknya ke toko-toko bukan sekadar barang dagangan, melainkan simbol langkah maju memperjuangkan cita-cita jadi ibu berdigdaya.

Merawat Keluarga, Memasok Kecap ke Toko: Kisah Naning di Bantul
Header Diajeng Naning Kecap Lele. tirto.id/Quita

diajeng.id - “Ibu rumah tangga juga bisa berdaya, tanpa mengesampingkan peran utama.”

Kalimat itu diucapkan oleh Naning (37), ibu rumah tangga di Banguntapan, Bantul yang berprofesi sebagai pemasok kecap lokal bermerek "Kecap Lele".

Aktivitas kerja Naning sekilas tampak sederhana. Setiap dua kali dalam sebulan, ia menerima paket berisi kecap dari Pati.

Naning kemudian akan mengantarkan produk kecap dalam kemasan plastik dan botol tersebut ke agen-agen yang sudah bekerja sama, mulai dari warung kecil, toko kelontong, sampai swalayan.

Setiap hari Naning bekerja dengan mengendarai sepeda motor yang usianya nyaris satu dekade.

Tidak sendirian, Naning membawa serta anak balitanya, sementara anak pertamanya yang sudah remaja belajar di sekolah.

Dalam satu hari, Naning berkeliling menjejaki dua sampai empat agen, menyelipkan produk kecap di rak toko sembari mengganti popok dan menidurkan anak.

Menurut Naning, mengajak anak bekerja bukan hanya tanggung jawab. Dia juga bermaksud mengenalkan anaknya tentang kerja keras agar kelak si kecil punya empati tinggi, terutama dalam memaknai rezeki.

Alih-alih sekadar menjajakan kecap, upaya Naning mencerminkan kekuatan seorang ibu rumah tangga dalam menata ulang makna pekerjaan agar tetap berdaya dan dapat senantiasa mengembangkan agensi diri.

Bagi Naning, "Kecap Lele" bukan hanya barang dagangan. Ia adalah simbol langkah maju memperjuangkan cita-citanya, menjadi ibu berdigdaya.

“Dari 'Kecap Lele' ini saya mulai bisa melangkahkan kaki saya ke depan. Ketika saya konsisten, saya akan bisa mencapai apa yang saya inginkan,” ujarnya.

Pemberdayaan Perempuan dalam Agenda Global

Kisah Naning adalah salah satu bentuk usaha penguatan kapasitas diri perempuan, atau pemberdayaan perempuan, yang telah lama diadvokasikan dalam agenda global.

UN Women menelurkan Prinsip-Prinsip Pemberdayaan Perempuan (P3) yang menawarkan panduan bagi dunia usaha dan industri untuk memajukan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan di tempat kerja, pasar, dan komunitas.

Dari sisi perusahaan, prinsip pemberdayaan ini mencakup kesetaraan upah untuk pekerjaan yang bernilai sama, praktik rantai pasok yang responsif gender, dan tidak ada toleransi terhadap pelecehan seksual di tempat kerja.

Penerapan prinsip pemberdayaan perempuan ini juga berlaku di level usaha kecil dan informal, seperti pada Naning.

Persepsi negatif yang mengerdilkan peran perempuan dan anak perempuan merupakan salah satu hambatan terbesar bagi kesetaraan gender.

UN Women mendorong pengusaha besar untuk menetapkan program keberagaman pemasok yang secara aktif berupaya memperluas hubungan bisnis dengan usaha milik perempuan dan mendukung mereka dalam hal akses.

Selain itu, pemerintah juga bertanggung jawab untuk menawarkan pelatihan, bimbingan, pembiayaan, dan peluang pengadaan kepada wirausaha perempuan, terutama yang berada di sektor informal dan pemilik usaha UMKM.

Data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UMKM) tahun 2024 menunjukkan sebanyak 64 persen pelaku UMKM di Indonesia adalah perempuan.

Statistik tersebut memperlihatkan peran strategis perempuan dalam pengembangan ekonomi keluarga dan pemberdayaan masyarakat.

Namun begitu, sebagaimana pernah dibahas dalam seminar yang diselenggarakan Dharma Wanita Persatuan (DWP) UGM pada Mei 2025 lalu, ditemukan beberapa masalah yang dialami pelaku UMKM, khususnya perempuan.

Misal, kurangnya akses terhadap informasi dan pelatihan, keterbatasan inovasi produk, serta strategi pemasaran yang belum optimal.

Oleh karena itu, perempuan pelaku UMKM perlu mendapat pendampingan usaha dari pemerintah, perguruan tinggi, maupun pihak swasta.

Tantangan ini juga dihadapi Naning, yaitu rintangan modal dan operasional.

Ia berharap usaha kecilnya bisa berkembang dengan menambah agen, menjaga kualitas, dan terus menempatkan keluarga sebagai prioritas.

Naning berharap lebih banyak ibu percaya bahwa berdaya secara ekonomi bisa dilakukan tanpa meninggalkan peran sebagai ibu sepanjang ada keberanian, strategi, dan keteguhan pada nilai sendiri.

“Untuk IRT, ibu-ibu semua di luar sana, jangan pernah berkecil hati ketika kita sudah menjadi IRT, karena kita tetap bisa berdaya. Lakukan apa yang kamu suka dan bisa menghasilkan uang, berawal dari hobi dulu. Di rumah tangga kita bisa menjadi istri dan ibu, tapi di luar kita juga bisa mencari uang tanpa mengesampingkan tugas utama,” pungkas Naning.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Vivi Maulida & Dipna Videlia Putsanra

diajeng.id - Binar
Penulis: Vivi Maulida & Dipna Videlia Putsanra
Editor: Sekar Kinasih