Menuju konten utama

Mewujudkan Rumah Aman dan Pangan Sehat demi Masa Depan Anak

Satu hal penting yang sering luput dari perhatian yaitu racun dan bahan berbahaya di lingkungan rumah. Orang tua harus jadi garda terdepan dalam melindungi.

Mewujudkan Rumah Aman dan Pangan Sehat demi Masa Depan Anak
Zoominar Kemendukbangga-BKKBN Papua Barat : Pemahaman tentang Racun dan Bahan Berbahaya di Lingkungan Rumah. (YouTube/Kemendukbangga_BKKBN Papua Barat)

diajeng.id - Rumah sejatinya adalah tempat paling aman bagi anak untuk tumbuh, belajar, dan mengeksplorasi dunianya. Namun, di balik kehangatan suasana rumah, potensi bahaya yang mengancam kesehatan dan keselamatan anak bisa datang dari sudut-sudut tak terduga, mulai dari ruang keluarga hingga ke meja makan.

Menyadari krusialnya isu tersebut, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN Papua Barat menggelar kegiatan Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya) melalui Kelas Orang Tua Hebat (KERABAT Seri 34 Tahun 2026) dengan tema "Pemahaman tentang Racun dan Bahan Berbahaya di Lingkungan Rumah" pada Kamis (15/10).

Salah satu pembahasan berkaitan dengan cara orang tua menjaga golden period anak melalui rumah secara aman.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Papua Barat, Philmona Maria Yarollo, menegaskan bahwa kualitas masa awal kehidupan atau masa emas anak sangat bergantung pada pengasuhan di lingkungan keluarga.

"Pada masa inilah otak anak berkembang sangat pesat. Pondasi kesehatan dibangun dan kepribadiannya mulai terbentuk. Apa yang kita berikan pada masa ini akan menentukan kualitas hidup anak di masa dewasanya. Sebaliknya, kesempatan emas yang terlewat tidak dapat diulang," ujar Philmona saat menyampaikan materinya.

Mengacu pada kerangka kerja global Nurturing Care Framework, Philmona melanjutkan bahwa pengasuhan anak ditopang oleh lima tiang utama, yakni kesehatan, pemenuhan gizi, stimulasi dini, pengasuhan responsif, serta keamanan dan keselamatan.

"Kelima komponen ini ibarat tiang rumah. Bila salah satunya rapuh, rumah pengasuhan kita tidak akan berdiri kokoh. Anak yang gizinya baik dan mendapat stimulasi cukup, tetapi lingkungannya tidak aman, tetap berisiko mengalami cedera atau keracunan yang bisa mengubah perjalanan hidupnya," ungkap Philmona.

Menanggapi hal ini, Kemendukbangga BKKBN Papua Barat mengerucutkan fokusnya pada potensi racun dan bahan berbahaya di lingkungan rumah.

Rasa ingin tahu anak usia dini yang tinggi mendorong mereka untuk bereksplorasi dengan memegang dan memasukkan benda ke dalam mulut.

"Itu adalah proses belajar yang wajar dan sehat. Namun, anak belum mampu membedahkan mana yang aman dan mana yang berbahaya. Meskipun kita sudah berhati-hati, namun kecelakaan tetap bisa terjadi. Karena itu pengetahuan tentang pertolongan pertama sama pentingnya dengan pencegahan," tutur Philmona.

Apabila anak diduga terpapar racun atau bahan berbahaya, lanjutnya, hal pertama yang perlu kita lakukan adalah tetap tenang serta tidak melakukan tindakan sendiri yang justru bisa memperburuk keadaan.

"Kita juga menyadari bahwa setiap wilayah memiliki kondisi geografis yang beragam. Tidak semua keluarga dapat menjangkau fasilitas kesehatan dengan cepat. Di sebagian daerah, jarak dan akses transportasi masih menjadi tentangan. Justru karena itulah pencegahan di rumah dan pengetahuan pertolongan pertama oleh keluarga menjadi sangat penting karena keluarga adalah garda terdepan perlindungan anak," jelasnya lagi.

Mewaspadai Bahaya Kimia dan Bahan Berbahaya pada Pangan

Melengkapi pemahaman pencegahan dari rumah, Hadira Yenni, Pengawas Farmasi dan Makanan (PFM) Ahli Muda dari Balai POM , memaparkan secara detail berbagai risiko cemaran dan racun berbahaya yang rawan masuk ke dalam tubuh anak melalui makanan.

Hadira menyoroti maraknya penyalahgunaan bahan kimia berbahaya pada pangan olahan yang sering dikonsumsi masyarakat.

Beberapa bahan yang dimaksud seperti formalin, bahan pengawet kayu dan mayat yang kerap disalahgunakan pada mie basah, tahu, hingga ikan. Lalu ada boraks, berupa pengenyal berbahaya yang sering ditemukan pada bakso, kerupuk rambak, hingga lontong.

"Ada risiko jangka panjang akibat penggunaan bahan berbahaya pada pangan ini yang jika dikonsumsi secara terus-menerus dalam jangka panjang itu bisa mengakibatkan kanker. Jadi dia bersifat karsinogenik," ujar Hadira.

Ada juga pewarna tekstil (rhodamin B & metanil yellow), ini merupakan pewarna pakaian berwarna pink/merah terang dan kuning mencolok yang sering dicampurkan pada kerupuk, sirup, hingga jajanan anak.

"Untuk itu kita perlu untuk mengetahui ciri-ciri pangan misalnya yang mengandung formalin. Kalau dia mie basah berformalin, ciri-cirinya dia tidak lengket, tidak mudah putus, dia lebih mengkilat, bau khas formalin bertahan lebih dari 1 hari pada suhu ruang atau suhu kamar. Untuk tahu berformalin, dia bau khas formalin, dia tidak mudah hancur," terangnya.

Sementara untuk ciri-ciri pada ikan asin, ikan segar, dan daging ayam segar berformalin, Hadira menyebut, bisa dilihat secara langsung, yakni tidak dihinggapi lalat dan baunya bau khas formalin.

"Bahaya formalin ini bisa ada beberapa banyak ya, iritasi saluran pernapasan, reaksi alergi, bisa merusak fungsi hati, jantung, otak, ginjal, saraf, dan konsumsi dalam jangka panjang ini tentu saja kemungkinan besar bisa menyebabkan kanker," kata Hadira.

Lima Kunci Keamanan Pangan Keluarga

BPOM membagikan lima kunci utama yang praktis untuk diterapkan sehari-hari untuk melindungi anak dari risiko keracunan dan cemaran mikroba maupun kimia di rumah.

Yang pertama adalah pentingnya menjaga kebersihan, yang dilakukan dengan membiasakan mencuci tangan dan menjaga kebersihan peralatan dapur.

Langkah kedua dengan memisahkan bahan mentah dan matang. Gunakan pisau serta talenan terpisah untuk daging mentah dan bahan siap makan guna mencegah kontaminasi silang, termasuk untuk mengolah sayur atau buah.

"Terus jangan lupa simpan pangan dalam wadah yang berbeda untuk menghindari kontak antara pangan mentah dan pangan aman. Kenapa? Karena cairan yang berasal dari pangan mentah seperti daging sapi, unggas, dan pangan itu dapat mengandung mikroba patogen yang dapat mencemari pangan lainnya selama pengolahan dan penyimpanan," terang Hadira.

Kunci keamanan ketiga adalah memasak dengan benar. Pastikan daging dan sup dimasak hingga matang sempurna. Kemudian, jaga pangan pada suhu aman. Jangan biarkan makanan atau susu kemasan berada di suhu ruang lebih dari 2 jam.

"Dan kalau sudah kena air, kalau misalnya kita berikan, aduh enggak jadi masak ini. Nah, itu sudah sudah kena air. Air adalah sumber utama cemaran mikroba. Karenanya masaklah dengan benar. Karena masak pangan dengan tepat ini dapat membunuh mikroba pathogen," ucap Hadira.

Yang kelima, gunakan air dan bahan baku yang aman. Selalu pilih bahan segar dan cuci buah serta sayuran menggunakan air kualitas minum.

Menjadi Konsumen Cerdas Melalui "CEK KLIK"

Sebagai langkah pencegahan terakhir sebelum menyajikan produk olahan pabrik kepada anak, masyarakat diimbau untuk selalu menerapkan prinsip CEK KLIK yang dijelaskan berikut ini.

Cek Kemasan: Pastikan tidak rusak, penyok bersudut, berkarat, atau kembung.

Cek Label: Baca informasi produk, petunjuk penyimpanan, serta informasi alergen.

Cek Izin Edar: Pastikan memiliki nomor legalitas BPOM (MD/ML) atau P-IRT.

Cek Kedaluwarsa: Pastikan produk belum melewati batas tanggal aman konsumsi.

Keabsahan izin edar suatu produk pangan juga dapat dicek secara mandiri oleh masyarakat melalui aplikasi Cek BPOM atau situs resmi cekbpom.pom.go.id.

Melalui sinergi antara edukasi pengasuhan BKKBN dan pengawasan keamanan pangan BPOM, orang tua diharapkan tidak hanya membawa pulang teori, tetapi langsung mempraktikkannya. Mewujudkan rumah yang aman dan memberikan makanan yang sehat adalah wujud cinta paling nyata dalam menjaga masa depan generasi penerus bangsa.

Artikel terkait lainnya juga bisa dicek di sini.

Baca juga artikel terkait TIMELESS atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih