diajeng.id - Perimenopause sering kali menjadi fase yang membingungkan bagi banyak perempuan karena perubahan yang terjadi tidak selalu mudah dikenali. Di masa ini, tubuh mulai mengalami transisi menuju menopause, namun siklus menstruasi belum sepenuhnya berhenti.
Lalu, sebenarnya perimenopause mulai terjadi pada usia berapa, dan apakah di fase ini perempuan masih memiliki peluang untuk hamil? Memahami tanda-tanda serta kemungkinan yang ada menjadi penting agar perempuan dapat mengambil keputusan yang tepat terkait kesehatan reproduksi dan perencanaan kehamilan.
Gejala Awal Perimenopause
Menurut Healthline, setiap perempuan bisa mengalami perimenopause dengan cara yang berbeda. Karena itu, memahami tanda-tanda awalnya menjadi langkah penting agar kita bisa lebih peka terhadap perubahan tubuh sendiri dan mengetahui cara terbaik untuk menyikapinya.
Secara sederhana, perimenopause adalah fase transisi sebelum menopause, ketika hormon mulai berubah tetapi menstruasi belum sepenuhnya berhenti.
Salah satu perubahan paling umum terjadi pada siklus menstruasi. Di fase ini, kita mungkin merasakan menstruasi datang lebih sering atau justru lebih jarang, dengan durasi yang bisa lebih panjang atau lebih singkat dari biasanya. Bahkan, jumlah aliran darah pun bisa berbeda dari siklus sebelumnya.
Perubahan ini sangat dipengaruhi oleh naik-turunnya hormon estrogen dan progesteron, dua hormon utama yang mengatur siklus menstruasi.
Jika kamu bertanya-tanya perimenopause umur berapa, umumnya fase ini mulai muncul di usia 40-an, meskipun sebagian perempuan bisa mengalaminya lebih awal.
Ketika kadar estrogen mulai menurun, tubuh kita perlu beradaptasi. Di sinilah gejala perimenopause atau perimenopause symptoms mulai terasa, meskipun tidak semua orang mengalaminya dengan cara yang sama. Ada yang hanya melewatkan menstruasi tanpa perubahan berarti, tetapi ada juga yang merasakan berbagai gejala perimenopause yang cukup mengganggu.
Mengacu pada Cleveland Clinic, beberapa gejala yang cukup sering dialami antara lain:
- Menstruasi tidak teratur atau terlewat
- Perubahan volume darah menstruasi (lebih berat atau lebih ringan)
- Perubahan suasana hati, seperti mudah tersinggung atau merasa lebih sensitif
- Penurunan libido
- Hot flashes atau sensasi panas tiba-tiba
- Keringat malam
- Kekeringan vagina yang bisa menyebabkan ketidaknyamanan saat berhubungan
- Lebih sering buang air kecil
- Gangguan tidur atau insomnia
Selain perubahan fisik, aspek emosional juga sering ikut terdampak. Meski penelitian khusus tentang kecemasan pada perimenopause masih terbatas, banyak perempuan melaporkan merasa lebih cemas selama fase ini. Kecemasan bisa muncul sebagai rasa khawatir yang terus-menerus, bahkan disertai gejala fisik seperti berkeringat, mual, atau ketegangan otot.
Dalam beberapa kasus, kondisi ini juga bisa mengganggu kualitas tidur dan aktivitas sehari-hari. Jika kamu merasakannya, berbicara dengan tenaga kesehatan bisa menjadi langkah yang sangat membantu.
Apakah Masa Perimenopause Bisa Hamil?
Lalu, bagaimana dengan peluang kehamilan? Banyak yang mengira bahwa memasuki usia 40-an berarti risiko hamil sudah tidak perlu dipikirkan lagi. Faktanya, seperti dijelaskan laman University Hospital (UH), peluang memang menurun, tetapi tidak sepenuhnya hilang.
Di awal usia 40-an, kemungkinan hamil dalam satu siklus masih sekitar 10 persen. Angka ini menurun menjadi 2-3 persen di akhir usia 40-an, dan kurang dari 1 persen di usia 50 tahun. Artinya, kehamilan masih mungkin terjadi, meskipun jarang.
Yang perlu diingat, kehamilan di usia ini juga membawa risiko lebih tinggi, seperti keguguran akibat kelainan genetik, serta komplikasi seperti diabetes gestasional, tekanan darah tinggi, hingga perdarahan setelah persalinan. Risiko kelainan kromosom pada bayi, seperti sindrom Down, juga meningkat.
Menariknya, kehamilan di masa perimenopause sering dianggap mustahil, padahal kenyataannya tetap bisa terjadi. Masih mengutip dari University Hospitals, seseorang baru benar-benar dianggap menopause setelah tidak mengalami menstruasi selama 12 bulan berturut-turut. Sebelum itu, penggunaan kontrasepsi masih penting jika kehamilan belum direncanakan.
Tidak ada satu pendekatan yang cocok untuk semua orang dalam menghadapi fase ini. Setiap perempuan memiliki pengalaman, kebutuhan, dan tujuan reproduksi yang berbeda. Yang terpenting adalah kita memiliki informasi yang cukup untuk membuat keputusan yang tepat, baik ketika ingin merencanakan kehamilan, maupun saat ingin mencegahnya.
Perimenopause bukanlah akhir dari kemungkinan hamil, melainkan fase yang menuntut kita untuk lebih sadar, lebih waspada, dan lebih memahami tubuh sendiri.
Kamu juga bisa membaca artikel seputar perempuan lainnya di tautan ini.
Editor: Dhita Koesno & Sekar Kinasih