Menuju konten utama

Punya Teman yang Berselingkuh, Bagaimana Menyikapinya?

Kita tidak seharusnya mengompromikan nilai-nilai moral pribadi hanya demi sejarah pertemanan yang panjang.

Punya Teman yang Berselingkuh, Bagaimana Menyikapinya?
Header Diajeng Teman Berselingkuh. foto/Quita

diajeng.id - Menemukan fakta bahwa teman dekat kita sedang berselingkuh sering kali memicu gejolak batin yang luar biasa.

Di satu sisi, ada loyalitas pertemanan. Di sisi lain, nilai moral kita merasa terusik oleh pengkhianatan yang mereka lakukan.

Situasi ini bisa menjadi beban mental yang berat karena kita seolah-olah dipaksa menyimpan rahasia yang merusak kepercayaan.

Apabila kamu berada dalam posisi ini, apa saja langkah-langkah strategis yang bisa diambil untuk menghadapi temanmu tersebut?

1. Jadilah Pendengar, Bukan Konselor

Menurut Huffington Post, langkah pertama yang dilakukan adalah mencoba mendengar penjelasan secukupnya darinya untuk memahami situasi secara utuh.

Seperti disampaikan pakar relasi Shasta Nelson, kamu adalah temannya, bukan konselornya. Artinya, perselingkuhan ini adalah murni urusan temanmu yang berselingkuh. Tugasnya hanya perlu mendengarkan penuturan dia, alih-alih berusaha menasihati atau menghakimi perilakunya.

"Sampaikan pada temanmu dengan sepenuh hati, 'Aku ingin mencoba mengatasi ini dengan cara yang melindungi persahabatan kita dan bermanfaat bagi kita berdua sebaik mungkin.' Karena akan tidak adil menempatkan dirimu sebagai penasihat, yang dibutuhkannya adalah seorang pendengar," kata Nelson.

Jangan biarkan pula kamu terjebak mendengar detail perselingkuhan secara berlebihan karena itu adalah beban yang tidak seharusnya kamu tanggung.

2. Tetapkan Batasan yang Jelas

Sangat penting bagi kamu untuk menarik batasan atau boundaries. Kamu berhak menolak untuk berbohong atau menjadi alibi bagi perselingkuhannya.

Sampaikan dengan jujur bahwa meskipun kamu peduli padanya, akan tetapi kamu tidak bisa mendukung tindakan yang melanggar kode moral atau kepercayaanmu sendiri.

3. Menjadi "Mercusuar Etis"

Dr. Mudita Rastogi dalam laman Psych Central menyarankan agar teman berperan sebagai "mercusuar etis" (ethical lighthouse) bagi satu sama lain.

Kamu bisa menyatakan pandangan tentang ketidaksetiaan tanpa harus menghakimi atau mengutuknya secara personal.

Gunakan pertanyaan reflektif seperti, "Bagaimana perasaanmu jika posisi ini dibalik?" atau, "Apa yang sebenarnya kamu harapkan dari situasi ini?"

Pertanyaan-pertanyaan reflektif tersebut bisa mendorong teman yang berselingkuh agar berpikir lebih mendalam.

4. Jangan Menyepelekan Dampaknya

Hindari menganggap remeh perselingkuhan, termasuk perselingkuhan emosional yang tidak melibatkan kontak fisik.

Perselingkuhan emosional bisa sama-sama menimbulkan kerusakan, terutama jika terjadi dalam konteks lingkungan pekerjaan.

Sadarilah bahwa ini adalah krisis bagi temanmu. Pada waktu sama, kamu tidak harus ikut bertanggung jawab atas konsekuensi pilihannya.

5. Dorong untuk Mencari Bantuan Profesional

Saran terbaik yang bisa diberikan pada teman yang berselingkuh adalah mendorongnya untuk menemui terapis atau konselor profesional.

Memperbaiki hubungan yang rusak akibat perselingkuhan sangat sulit dilakukan tanpa bantuan ahli. Terapis dapat menyediakan ruang aman untuk memproses masalah yang mendasarinya.

Saatnya Mengevaluasi Pertemanan

Pada akhirnya, kamu harus bertanya pada diri sendiri apakah masih ingin mempertahankan pertemanan ini.

Perselingkuhan yang dilakukan temanmu, seperti dijelaskan dalam artikel SELF, mungkin mengungkap aspek karakternya yang selama ini terabaikan.

Jika seseorang bisa mengabaikan komitmen paling intim dengan pasangannya, apa jaminannya dia tidak akan mengkhianati kepercayaanmu sebagai teman di masa depan?

Mengetahui ada teman yang berselingkuh bisa membuat kamu merasa tidak lagi mengenalnya atau meragukan integritasnya secara keseluruhan.

Terapis Vienna Pharaon menyarankan dirimu untuk jujur menjawab pertanyaan berikut, "Apa kamu masih menghormatinya? Apa kamu malah merasa cemas dan waswas saat berada di dekatnya?"

Perlu diingat, perselingkuhan acap kali mengungkap pola perilaku yang "mementingkan diri sendiri" sehingga sulit diabaikan dalam jangka panjang.

Dilanisir dari artikel Refinery29, memutuskan untuk menjauh atau mengakhiri pertemanan adalah pilihan yang valid dan masuk akal.

Kita tidak seharusnya mengompromikan nilai-nilai pribadi hanya demi sejarah pertemanan yang panjang.

Kalau kamu yakin bahwa mempertahankan pertemanan tersebut justru merusak kedamaian diri dan integritas pribadi, dengan mengakhiri atau melepaskan ikatan tersebut kamu artinya telah berusaha menghormati diri sendiri.

Kamu layak dikelilingi oleh orang-orang yang mendorong pertumbuhan positif, bukan mereka yang memaksamu ikut merasa bersalah atau bertanggung jawab karena tindakan mereka.

Artikel lainnya terkait perselingkuhan juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait SELINGKUH atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih