diajeng.id - Pernahkah kamu merasa tenang meski badai konflik tengah melanda hubunganmu dengan kekasih?
Ataukah, justru sebaliknya, kamu selalu merasa cemas akan penolakan sekecil apa pun?
Perasaan aman ini bukan sekadar tentang kenyamanan fisik, melainkan tentang emotional security, sebuah jangkar di dalam diri yang menentukan bagaimana kita memproses emosi dan merespons orang lain.
Saat kita merasa aman secara emosional, kita tidak lagi menggantungkan seluruh harga diri kita pada validasi eksternal, melainkan pada pondasi internal yang stabil.
Namun, bersikap jujur pada diri sendiri nyatanya acap kali sulit dilakukan.
Bertanya pada diri sendiri, "Seberapa aman aku sebenarnya?" adalah pintu masuk untuk memahami pola relasi yang selama ini telah kita jalani.
Apa Itu Emotional Security?
Mengutip kamus American Psychological Association (APA), emotional security atau keamanan emosional adalah kondisi ketika seseorang merasa aman secara batin, percaya diri, dan tidak terus-menerus diliputi kecemasan.
Dalam konteks ini, rasa aman dipandang sebagai kebutuhan dasar yang sangat memengaruhi kepribadian dan perilaku seseorang.
Tokoh-tokoh psikoanalisis seperti Karen D. Horney menekankan bahwa kebutuhan akan keamanan emosional membentuk cara individu berpikir dan bertindak, sementara Harry Stack Sullivan melihatnya terutama berkembang melalui hubungan interpersonal.
Artinya, bagaimana seseorang berelasi dengan orang lain sangat berperan dalam membangun atau meruntuhkan rasa aman emosionalnya.
Teori emotional security yang berakar pada teori keterikatan menjelaskan bahwa anak menilai seberapa aman dunianya melalui cara orang tua berinteraksi, termasuk saat menghadapi konflik.
Konflik yang bersifat merusak, seperti pertengkaran penuh ancaman, penghinaan, atau agresi, dapat membuat anak merasa tidak aman, lebih reaktif secara emosional, dan kesulitan mengatur emosinya.
Pengalaman ini kemudian membentuk gambaran internal tentang hubungan yang dapat terbawa hingga dewasa dan memengaruhi kemampuan seseorang untuk merasa aman, stabil, dan terkoneksi secara emosional.
Emotional Security dalam Relasi
Dilansir Psych Central, dalam konteks hubungan, keamanan emosional adalah fondasi dari relasi yang sehat, stabil, dan penuh kepercayaan.
Ketika sebuah hubungan aman secara emosional, kita merasa diterima apa adanya oleh pasangan, termasuk sisi rapuh, ketakutan, harapan, dan luka kita.
Rasa aman ini memungkinkan kita untuk terbuka dan menjadi diri sendiri tanpa takut dihakimi atau ditinggalkan. Bahkan saat tidak bersama secara fisik, ada keyakinan batin bahwa hubungan tersebut tetap kuat dan dapat diandalkan.
Dengan keamanan emosional, masing-masing individu juga memiliki ruang untuk bertumbuh dan menjalani hidupnya secara mandiri, sambil tetap merasa bahwa hubungan adalah tempat yang aman untuk kembali.
Namun begitu, membangun keamanan emosional tidak selalu mudah. Ada beberapa pola perilaku yang kerap menjadi hambatan.
Hambatan dalam Membangun Emotional Security
1. Sikap defensif
Sikap ini muncul ketika seseorang merasa diserang atau dihakimi, sehingga respons yang keluar justru menutup ruang dialog.
2. Kritik yang berlebihan
Pasangan akan selalu menyalahkan apa yang dilakukan pasangannya, mengoreksi terus-menerus, atau fokus pada kekurangan pasangan, hal ini tentu dapat membuat hubungan jadi terasa tidak aman.
3. Sikap meremehkan
Meremehkan pasangan seperti mengejek, sarkasme, atau bahasa yang menghina, akan dapat merusak kepercayaan dan kedekatan emosional.
4. Sikap mengabaikan
Dalam hal ini termasuk diam berkepanjangan atau menarik diri saat konflik, sehingga sering kali membuat pasangan merasa tidak terlihat dan tidak penting.Meski demikian, kabar baiknya, rasa aman dalam relasi bukan sesuatu yang kaku atau tidak bisa berubah. Teori gaya keterikatan yang dikembangkan oleh psikoanalis Inggris John Bowlby menjelaskan bahwa pola kita dalam berhubungan memang dipengaruhi oleh pengalaman awal, tetapi penelitian menunjukkan bahwa gaya keterikatan dapat berkembang seiring waktu.
Dengan kesadaran, komunikasi yang lebih sehat, dan upaya bersama, individu maupun pasangan dapat membangun cara berelasi yang lebih aman secara emosional meskipun sebelumnya terbiasa dengan pola yang cemas atau tidak aman.
Tanda-tanda Keamanan Emosional dalam Relasi
Setiap hubungan bersifat unik karena dibentuk oleh dua individu dengan latar belakang, pengalaman, dan harapan yang berbeda.Meski begitu, hubungan yang aman secara emosional umumnya ditandai oleh perasaan nyaman, aman, dan percaya satu sama lain.
Rasa aman ini menjadi dasar terbentuknya ikatan yang hangat, penuh kasih, dan bertahan dalam jangka panjang.
Masih mengutip Psych Central, berikut beberapa tanda yang dapat menunjukkan bahwa kamu dan pasangan memiliki keamanan emosional dalam hubungan
1. Tidak terjebak pada masa lalu
Keamanan emosional membuat seseorang mampu hadir di masa kini tanpa terus-menerus dibayangi pengalaman atau luka masa lalu.Alih-alih mengulang kekhawatiran lama atau menghindari kedekatan, kamu dapat menikmati hubungan yang sedang dijalani dan menghadapi tantangan yang ada dengan lebih terbuka.
2. Bisa menjadi diri sendiri
Dalam hubungan yang aman, kamu merasa bebas mengekspresikan diri apa adanya, baik sisi kuat maupun sisi rapuh.Kamu tidak perlu berpura-pura atau menyembunyikan diri demi diterima. Pada saat yang sama, kamu juga merasa aman untuk tetap memiliki ruang pribadi tanpa rasa bersalah.
3. Tidak terus-menerus mencari validasi
Rasa aman secara emosional membantu kamu tidak bergantung pada kepastian terus-menerus dari pasangan.Ada keyakinan batin bahwa hubungan tetap ada dan stabil, bahkan saat sedang berbeda pendapat atau tidak bersama secara fisik. Hal ini mengurangi kecemasan akan ditinggalkan dan meningkatkan rasa percaya.
4. Merasa dilihat, didengar, dan dipahami
Keamanan emosional tercermin ketika kamu bisa berbicara dengan jujur dan tahu bahwa pasangan benar-benar hadir untuk mendengarkan.Dalam konflik sekalipun, ada usaha untuk saling memahami, bukan saling menyerang. Kehadiran dan ketersediaan emosional inilah yang membuat hubungan terasa aman dan saling menguatkan.
Sejauh Mana Dirimu Merasa Aman Secara Emosional?
Emotional security bukan tentang tidak pernah terluka, tidak pernah salah, atau selalu merasa tenang.
Sebaliknya, keamanan emosional terlihat dari kemampuan seseorang untuk tetap berdaya dan utuh di tengah ketidaknyamanan.
Orang yang aman secara emosional cenderung hidup lebih otentik, mengenal nilai dan keyakinannya, serta berani berdiri di atasnya, bahkan ketika hal itu tidak selalu menyenangkan atau disetujui oleh orang lain.
Dari sudut pandang psikologis, kondisi ini juga berkaitan dengan rasa syukur yang lebih dalam, kreativitas yang lebih bebas, serta kemampuan untuk hadir secara penuh dalam hidup dan relasi.
Untuk memahami sejauh mana keamanan emosional kita saat ini, psikolog sering mengajak klien melakukan refleksi melalui pertanyaan-pertanyaan sederhana namun mendalam.
Beberapa pertanyaan oleh psikolog Dr. Cortney S. Warren dari situs CNBC ini dapat menjadi bahan renungan kita terkait merespons perbedaan pendapat, menetapkan batasan, menghadapi kritik, mengakui kesalahan, dan mengekspresikan berbagai emosi.
Kalau kamu mengiyakan salah satu pertanyaannya, kamu bisa jadi memiliki kecenderungan lebih aman secara emosional dibanding orang lain pada umumnya:
1. Apa kamu bisa menerima perspektif berbeda dari hal yang tidak kamu setujui?
2. Bisakah kamu menetapkan batasan yang sehat?
3. Apa kamu mau mengakui kesalahan yang kamu lakukan?
4. Apa kamu memahami nilai-nilai dan keyakinan inti diri sendiri?
5. Bisakah kamu mengekspresikan emosi negatif dengan santun?
6. Apakah kamu bisa menerima kritik dari orang lain?
7. Apa kamu terus berupaya untuk berubah dan berkembang?
8. Bisakah kamu mencegah dirimu dari reaksi yang impulsif?
9. Apa kamu percaya bahwa kamu akan baik-baik saja, meskipun kamu bakal menghadapi banyak tantangan?
Refleksi dari pertanyaan-pertanyaan di atas tidak bermaksud memberi label “aman” atau “tidak aman”, tapi lebih untuk membantu kita memahami posisi saat ini.
Pada akhirnya, keamanan emosional dapat dipandang sebagai sebuah proses dinamis, perjalanan menuju hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri dan orang lain.
Dengan kondisi emosional yang aman, kita dapat merasakan kebebasan batin untuk menjalani hidup dengan lebih jujur, berani, dan bermakna.
Cek lebih lanjut artikel-artikel terkait kondisi emosional diri melalui tautan berikut ini.
Editor: Sekar Kinasih